
Melihat Bening kembali terlelap, Langit berupaya melepas pelukannya. Sangat hati-hati supaya Bening tak terganggu. Pria itu ingin membersihkan diri dan menyiapkan sarapan.
Pagi dengan awan mendung tak menyurutkan sedikitpun kebahagiaan yang dirasa, ketika mengingat tentang semalam bibir pria itu tak henti mengulum senyum. Akhirnya dia dan Bening menjadi pasangan sempurna.
Asik memotong sayuran, juga tengah merebus telur. telinganya mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Mungkin saja Bening sudah bangun. Pria itu menghentikan aktivitas memasak dan menuju ke sana.
Tok ... tok ....
"Embak gak apa di kamar mandi sendirian?"
"Gak apa!" Terdengar sahutan dari dalam.
Langit menunggui di depan pintu, dia takut jika wanita itu masih kesakitan. Semalam setiap Bening menggeliat, mulut wanita itu mendesis, mungkin saja di bagian inti tubuhnya masih terasa pedih. Padahal bukan hanya Bening, Langit pun merasa tak nyaman di daerah sensitifnya. Semua merupakan pengalaman pertama bagi mereka, tentu butuh penyesuaian.
"Huh!" Ketika Bening membuka pintu, dikejutkan dengan keberadaan Langit. "Ngagetin tau," ujarnya sambil membenarkan handuk supaya tak lepas.
Langit menyengir, "Saya khawatir sama Embak. Makanya nungguin di sini."
"Saya gak apa, Rengit! Sakitnya udah mendingan." Bening berjalan pelan melewati Langit, menuju lemari penyimpanan baju.
"Eeembaaak!" panggilan Langit terdengar aneh.
"Haeh?" Bening menutup pintu lemari dan melihat ke arah Langit.
Pria itu tampak memindai tubuh Bening dari bawah hingga ke atas. Semua lekuk tubuh sang istri tak seinci pun terlewatkan dari sorot matanya. Tatapan Langit mulai berbeda. Jakun naik turun, seolah sedang tergiur dengan makanan lezat, membuat Bening bergidik.
Bening kembali membuka lemari, tangannya asal mencomot baju untuk segera dikenakan. Jika tak begitu, bisa saja Langit kembali menerkamnya. Tidak! Yang semalam saja masih meninggalkan rasa pedih, sudah akan di ulang lagi.
"Embaaak!" Langit mendekat.
"Apa?"
"Yang semalem? Em ...."
"Yang semalem apa?"
"Yang semalem cuma satu ronde. Boleh nambah, gak?" Langit mendekap tubuh Bening dari belakang.
"Eh eh eh, ini kalo handuknya lepas gimana!" pekik Bening.
"Ya bagus, dong! Ntar langsung di tancepin aja."
"Rengiiiit, ih!"
"Gak apa ya, Mbak. Nambah satu ronde. Kan, aji mumpung."
"Aji mumpung apaan!?"
__ADS_1
"Ya aji mumpung gak ada yang ganggu. Kita bisa puas indehoi indehoi." Langit menaik-turunkan kedua alis dengan senyum menggoda.
"Yang semalam masih sedikit sakit."
"Yang semalem baru pertama, yang ini udah ke dua. Pasti gak sakit. Janji deh, pelan-pelan, keluar mayones ntar gek udah."
Bening belum menyetujui, masih terlihat berpikir. Tapi pria mengenakan kaus singlet itu sudah tak sabar, segera menggendong tubuh Bening dan menjatuhkannya di atas kasur.
"Aaakh', Rengit! Saya kan belum bilang iya!" protesnya.
"Embak pasti iyes."
Bening mendekus tapi Langit tak peduli. Pria itu menggigit handuk Bening untuk melepasnya, pemandangan indah semalam tak bosan dia pandangi. Sedangkan Bening tersipu malu dan berusaha menutup dengan seadanya.
Embusan napas Langit mampu dirasai oleh Bening, perempuan itu mulai memejamkan mata ketika rabaan tangan Langit mulai membawanya ke awan.
"Mbak?"
"Hem?"
"Saya paling suka ini?"
"Apa sih! Sssttt, diem gak usah banyak bicara!"
"Wokelah, gak usah banyak omong. Tapi langsung tancap ya."
Di pagi hari, kegiatan yang semalam harus berlanjut, tanpa persiapan apapun. Mengulang kenikmatan yang tak bosan untuk diulang.
"Eh, tunggu!" pekik Bening. "Kamu mencium bau aneh, gak?"
"Gak tuh, Mbak. Baunya wangi-wangi amis!"
Buk ....
Bening memukul lengan Langit. "Bukan bau itu! Coba kamu endus! Ini tuh kayak bau masakan gosong!"
"Astaga ...! Saya lupa!" teriak Langit. Dia menyahut handuk Bening yang teronggok di lantai, tak sempat jika memakai kembali celananya. "Telorku telorku!" Berlari kalang kabut menuju dapur.
Mendengar Langit panik dengan telornya, membuat Bening terbahak. Pikirannya justru mengarah ke hal lain. Aih, mesum! Dia mengambil handuk yang lain dan ikut menyusul.
"Rengiiittttt!" Bening berteriak sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Telor saya, Mbak! Telor saya gosong!"
"Telor yang mana? Yang kamu masak apa telor yang gantung?" ujar Bening dengan tawanya. Namun perempuan itu belum menurunkan tangannya.
"Heh?" Langit segera mengambil handuk yang ternyata sudah merosot sebatas mata kakinya. "Elah, kamu ikut-ikutan!" desisnya memarahi handuk. Lalu membenarkan dan menyelipkan ujung handuk sampai kembali melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Telor yang saya masak, Mbak. Gosong! Hampir aja kompornya meleduk kalo gak cepet dimatiin," ujar Langit. Keringat membasahi keningnya.
Bening mengintip lewat ruas jari yang melonggar. Ternyata pria dihadapannya sudah memakai handuk dengan benar. Dia menurunkan tangan dan melangkah mendekat.
"Itu salah kamu, kenapa gak dimatiin dulu kompornya."
"Lupa, Mbak. Saya terlalu khawatir sama Embak."
"Khawatir apaan. Khawatir sakit tapi malah kamu tambahin sakitnya," cibir Bening dengan bercanda.
"Yah, kita sarapan apa dong, Mbak. Bahan makanan gak ada." Langit beralih duduk di meja makan.
"Kita sarapan diluar aja. Nanti sekalian belanja."
"Em ... itu ide bagus. Ayo, kita siap-siap." Langit beranjak.
"Kamu duluan aja." Bening justru duduk.
"Eh, ayo, barengan."
"Gak mau! Ntar minta nambah lagi! Kita gantian aja."
"Saya gak minta nambah, Mbak. Tenaga saya udah kosong. Terkurang habis belum di isi lagi. Dah gak kuat bangun dia. Ngelingker aja." Pria itu melirik ke bawah.
"Rengiiiiit, ih! Apaan sih, vulgar banget."
Langit tertawa sambil berlalu kembali ke kamar.
Bening memutuskan membereskan kekacauan yang tadi dibuat oleh suaminya. "Dia ini kalo ngomong suka asal. Mesum pula."
Selesai bersiap-siap, kini Langit dan Bening sedang menunggu kehadiran Salsa.
"Kamu ih, kenapa dibikin kayak kena gigitan lintah gini. Leher merah-merah semua!" kesal Bening. Sewaktu perempuan itu mematut diri di depan cermin, dia menjerit kaget mendapati beberapa tanda kissmark yang bertebaran.
"Itu tanda kepemilikan, Mbak. Kalo orang liat, mereka langsung tau kalo Embak dah punya suami."
"Nggak gini juga, dong. Kan malu, tau!"
"Udah. Dah ditutupin syal gitu. Dah gak keliatan. Gak sah marah-marah lagi. Jelek tau! Ntar keriputnya nambah satu."
"Rengiiit!"
"Au' ...."
Bening mencubit lengan pria itu sampai mengaduh kesakitan.
"Ohya, Mbak." Langit merogoh saku celananya. "Nih, ntar buat belanja." Pria itu mengeluarkan segepok uang.
__ADS_1
Bening membatu melihat uang pecahan yang ada di tangan Langit. Uang seratus ribu 3 lembar, lima puluh ribuan ada sekitar 10 lembar, selain itu pecahan dua puluh, sepuluh ribu dan lima ribuan.
"Maaf, kemarin gak sempet nukerin," ujar Langit, "tapi ini juga uang. Kalo belanja di pasar, pedagang-pedagang malah seneng dapet uang pecahan gini. Bisa buat kembalian."