
"Sam, apa di nomor ponselmu masih kesimpen nomor Kasep?"
"Kasep? Siapa itu Kasep?"
"Ck. Nomer yang sempat aku hubungi kamu. Kalo gak salah ujungnya 00. Coba kamu cari di ponselmu!" pinta Langit.
"Sudah lama, siapa tahu sudah aku hapus," jawab Sam sekenanya.
"Cari dulu!" desak Langit.
"Iya-iya." Sam menuruti permintaan Langit, pria itu men-scroll panggilan masuk dari beberapa bulan lalu, beruntung, dia yang selalu sibuk jarang membersihkan folder ponsel, hingga banyaknya panggilan masuk masih belum hilang.
"00. Apa ini ya?" ujar Sam lalu menyebutkan angka lengkapnya pada Langit.
~
Kasep yang belum bangun tidak terganggu dengan suara berisik dari deringan ponselnya, padahal letak ponsel itu ada di bawah bantal yang dia tiduri.
Ponsel terus berdering, sampai Kasep bangun dengan sendirinya. "Siapa, sih, ganggu banget!" Pria itu bangun dan melihat nomor asing yang menghubunginya terus menerus.
Dahi yang terdapat banyak jerawat itu mengerut. Jelas Kasep kebingungan melihat nomor itu berbeda dari nomor yang digunakan, dia menebak jika panggilan itu berasal dari negara luar terlihat dari angkanya yang ganjil.
Pria itu berpikir, mungkinkan dia mendapat undian berhadiah dari nomor kesasar atau bisa saja mendapat wanita cantik. Dia sudah girang bukan kepalang, perkiraannya pasti benar.
"Halo?!"
"Sep! Kemana aja dari tadi baru di angkat," cerocos Langit.
"Kok, seperti suaranya Langit?" Kasep berbicara sendiri. Dia kembali melihat nomor yang menghubungi tapi dia tidak tahu nomor itu.
"Sep, dengerin! Yang telpon kamu ini emang aku, Langit. Boleh aku minta tolong sama kamu." Langit kembali bersuara.
"Weh? Ini beneran Langit?"
"Iya."
"Ya Allah, Lang. Kek mimpi bisa ngomong sama kamu lagi. Eh, tapi ini beneran Langit apa hantunya Langit?"
"Sialan! Kamu masih gak percaya! Aku mau minta tolong sama kamu." Langit to the poin ingin meminta bantuan pada temannya itu. Dia mengatakan yang harus di lakukan Kasep dan pria itu mengerti.
"Oke, siap. Aku akan segera melaksanakan tugas." Kasep menjawab dengan becanda, pria itu senang mengetahui Langit, temannya, baik-baik saja. Karena pembicaraannya terbatas, kapan-kapan Langit menjanjikan untuk menceritakan semuanya, yang terpenting sekarang Kasep segera melakukan yang diperintah.
__ADS_1
~
"Mak ...!" Kasep memanggil dengan suara lantang. Mesin motor belum dimatikan tapi mulutnya sudah memanggil.
"Ada apa, Nak Kasep?" Justru Mama Has yang muncul dari dalam.
"Ibu." Kasep menyengir, dia memang lebih segan dengan Mama Has. "Mamak kemana, ya?"
"Ada. Tadi masih menyiapkan bumbu-bumbu, sebentar saya panggilkan." Mama Has berbalik dan masuk kembali.
"Sep, kamu gak langsung masuk aja!" Bening muncul dari pintu samping.
"Enggak, Mbak. Males turun dari motor." Kasep menyengir.
Sejak pria itu sering membantu, Bening dan Mama Has mulai akrab dengan Kasep, Teddy, maupun Habibah. Bening dan Habibah sudah tidak bermusuhan seperti sebelumnya. Habibah merasa kasihan dengan wanita itu, dan memutuskan untuk berdamai.
"Ada apa, Sep?" Kali ini Mamak yang muncul.
"Mak! Mak mau ke pasar, kan? Ayo, Mak. Bareng Kasep."
"Siapa yang mau ke pasar? Bahan yang kemarin masih. Hari ini Mamak tidak ke pasar."
"Mamak harus ke pasar hari ini juga. Pokoknya harus." Kasep turun dari motor dan menggeret pelan tangan Mamak.
"Mak, please. Kali ini aja ikut Kasep. Di jamin gak nyesel." Kasep masih membujuk. Dia tidak boleh berterus terang.
"Sep, ada apaan sih. Bikin penasaran aja!" Bening bersedekap dada melihat ke arah Kasep.
"Bukan apa-apa, Mbak. Kasep cuma ingin ajak Mamak ke pasar. Hari ini juga gak bisa di tunda."
"Ya sudah ya sudah ... Mamak akan ikut. Sebentar mau ganti baju dulu," sela Mamak.
"Wes, gak usah ganti baju, Mak. Mamak keliatan cantik cuma pakek baju begini. Kita pergi, bentar aja, Mak." Kasep membimbing Mamak untuk segera naik ke atas motor, setelah menyuruh berpegangan, Kasep lekas menghidupkan mesin motornya. "Mbak, pinjem Mamak bentar!" teriaknya pada Bening. Wanita itu terkekeh dari tempatnya berdiri. Seringkali ucapan dan kekonyolan Kasep mengingatkannya pada sosok Langit.
"Sebentar lagi celenganku penuh, Bang. Aku bisa datang ke kotamu dan berziarah." Bening menyusut kedua sudut matanya.
~
Kasep memberhentikan motor di rumah Teddy, rumah yang tidak jauh dari rumah Mamak tadi.
"Katanya mau ke pasar, Sep. Kenapa malah berhenti di rumah Teddy?" bingung Mamak.
__ADS_1
"Bentar Mak. Bentar!" Kasep mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Langit. Memberitahukan jika dia sudah bersama Mamak.
"Nih, Mak. Ada yang mau ngomong sama Mamak."
Mamak menerima ponsel itu dan lekas bersuara. "Halo?"
"Halo, Mak!"
Deg ....
Tentu saja suara di seberang membuat Mamak terkejut. Mamak terdiam dengan sudut matanya yang mengembun. Hapal, dia sangat hapal dengan suara itu. Suara yang sejak lahir selalu di dengarnya. Tubuh Mamak membatu dengan lidahnya mendadak kelu.
"Mak ... halo?" Langit bersuara untuk mengetahui apakah telepon itu masih tersambung dengan Mamak. Karena Mamak sedari tadi diam saja.
Beberapa detik diam.
"Lang, ini benar suaramu? Atau Mamak salah dengar?"
"Benar, Mak. Ini suara Langit. Mamak, Lang kangen."
Tes ... tes ....
Dua tetes air mata Mamak membasahi pipi keriputnya. "Ya Allah, Lang. Alhamdulillah, Mamak bisa dengar suara kamu lagi." Mamak menangis haru biru.
"Iya, Mak. Lang baru sadar dari koma. Dan, sekarang belum bisa pulang."
"Tuan Bima tidak menyakitimu lagi, Lang?"
"Enggak, Mak. Hubunganku dengan Papa udah membaik. Aku menuruti nasehat Mamak. Pilih memaafkan Papa, dan melupakan yang udah terjadi."
"Hem. Kamu benar, Lang. Mamak ikut senang mendengarnya."
"Mak ...." Suara Langit tercekat, seolah kaku untuk sekadar menanyakan keadaan istrinya. Dia belum tahu tentang semua yang menimpa Bening, dan mengira istrinya sudah baik-baik saja.
"Lang, kamu ingin menanyakan istrimu? Dia baik-baik saja dengan Mamak." Sebagai seseorang yang mengasuh Langit, Mamak paham jika Langit sedang memikirkan sesuatu. Mamak sudah bisa menebak dari panggilan yang tadi tidak diteruskan.
"Dia sudah banyak berubah," imbuhnya.
"Maksud Mamak?"
"Istrimu ditipu oleh sekretarisnya, semua harta benda dan perusahaan di ambil alih. Sejak saat itu mama mertuamu dan Nak Bening tinggal dengan Mamak. Kamu tidak akan percaya jika Mamak memberitahumu. Bahkan istrimu sekarang menggantikanmu berjualan bakso."
__ADS_1
Mendengar penjelasan Mamak, di seberang telepon tubuh Langit mematung. Benarkah semua yang diceritakan Mamak? Rasanya dia tidak sabar untuk kembali dengan mereka.
'Apapun yang terjadi, aku gak bisa membencimu, Be. Aku tetap mencintaimu.' Sudut mata Langit terdapat cairan bening. Dia sangat merindukan sosok istrinya.