Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Sedikit demi sedikit mulai berubah.


__ADS_3

Satu minggu sudah Bening terbaring di brankar rumah sakit. Kondisinya sudah membaik berkat kehadiran dan kesabaran Langit merawat wanita itu. Setelah dokter memeriksa keseluruhan dan semuanya sudah stabil, dokter akhirnya memberi izin pulang, tetapi dengan catatan belum boleh melakukan aktifitas apapun, dan harus rajin cek up.


"Embak gak mau mampir kemana atau beli apa gitu?"


"Kayaknya enggak. Tapi pengen mampir ke rumah Mamak. Boleh, gak?"


"Boleh, dong. Tapi gak usah nginap."


"Kenapa?"


"Sempit. Nanti Mbak gak nyaman," ujar Langit dengan tersenyum tipis. Dia sadar sepenuhnya kalau keadaan rumah Mamak tak senyaman rumah Bening.


"Sempit bukan berati gak nyaman, Rengit." Bening langsung menutup mulut. "Ups ... kebiasaan manggil Rengit. Keceplosan."


Langit justru mengernyit. "Kok keceplosan? Biasanya juga manggil gitu?" Pria itu kebingungan.


"Kata Eyang, aku gak boleh manggil gitu lagi." Bening menyandarkan kepala di bahu Langit. "Walau umur kamu pantes jadi adek aku, tapi, gak seharusnya aku bersikap begitu."


Langit tersenyum senang. "Saya____." Kalimatnya terhenti karena tangan Bening menempel di bibirnya.


"Jangan pakek bahasa formal. Kita bicara santai," timpal Bening.


Langit mengangguk. "Oke. Siap, Bos." Dia menangapi dengan candaan.


"Ish ...." Bening memanyunkan bibir.


"Tapi bakal kagok kalo kita merubah panggilan. Kuping saya, eh, kupingku, udah kebiasaan denger Embak manggil Rengit. Ntar bakal aneh."


"Awal-awal emang aneh. Tapi lama-lama juga enggak."


Langit senang melihat keadaan Bening sudah jauh membaik. Bukan hanya itu saja, sikapnya mulai berubah, mungkin berkat wejangan dari Eyang Putri dan Mama Has.


"Kamu, jangan manggil aku Embak lagi." Jari telunjuk Bening berada di depan wajah Langit, mewanti-wanti agar suaminya tak memanggil dengan sebutan 'Embak'.


Langit menyengir lebar. "Itu panggilan paling romantis tau, Mbak. Masak mau di ganti."


"Ish ... kata Eyang suruh ganti." Bibir Bening semakin mengerucut.


Langit yang gemas mencubit pelan bibir Bening. "Gak usah di maju-majuin gitu. Bikin pengen tau!"


"Kumat mesum! Inget pesen Bu Dokter, belum boleh nengok mangkuk istri, sebelum aku sembuh total! Puasa dulu, Bang. Puasa!"

__ADS_1


Langit terbahak mendengar peringatan Bening. Terkadang Bening sangat lucu. Puas tertawa, dia mendekatkan mulut ke telinga Bening. "Kalo yang bawah gak bisa, kan, ada alternatif lain." Langit mengedipkan sebelah matanya.


"Gak apa kalo mau pentol a'conya kena lahar panas." Bening menanggapi dengan senyum sebelah.


"Apaan lahar panas?"


Bening memperagakan saat dia mual dan muntah supaya Langit tahu apa yang dia maksud lahar panas.


"Haes, solo karir dong." Langit melemaskan tubuhnya di sandaran jok mobil.


"Non, ini hampir sampek gang rumah Mas Langit. Mau lanjut atau belok?" tanya Mang Juri.


"Belok." Bening.


"Lanjut." Langit.


Mereka berdua berteriak bersamaan. Lalu saling pandang.


"Mau nginep tempat Mamak," pinta Bening.


"Mbak yakin?" Langit meragu, tetapi Bening antusias mengangguk penuh. Meyakinkan Langit jika dia benar-benar ingin menginap di rumah sederhana Mamak.


"Baiklah. Aku telpon Mama Mertua." Langit mengambil ponsel dan mencari nomor Mama Has.


"Mama gak usah ke rumah sakit____." Langit belum usai mengakhiri kalimatnya, wanita paruh baya itu sudah memotong.


"Loh, kenapa?"


"Mbak Bening udah boleh pulang dan kami sudah di jalan. Maaf, tadi lupa mau ngabarin Mama," terang Langit.


"Syukur Alhamdulillah, kalo Adek udah boleh pulang. Mama seneng banget." Mama Has mengucap syukur dengan suara yang terdengar bahagia.


"Ma."


"Iya."


"Tapi Mbak Bening mau nginep tempat Mamak."Kini suara Langit yang terdengar ragu.


"Oh, ya, bagus itu. Nggak apa kalau Adek mau nginep di rumahmu. Nanti Mama susul ke sana. Tadi Bibik bikin kue, biar sekalian Mama silahturahmi ke rumahmu juga."


"Mama gak keberatan?"

__ADS_1


"Enggak. Mama malah seneng." Perbincangan antara mantu dan mertua itu harus di sudahi karena mobil yang di tumpangi sudah sampai di depan jalan rumah Mamak.


"Tadi ketawa-ketawa, belum ada lima menit kok udah ngorok!" seru Langit, kepalanya menggeleng heran melihat Descha sudah terlelap pulas. Di kursi depan Mang Juri terkekeh kecil.


Langit menggendong tubuh Bening dan membawa masuk. Mamak yang tadinya terkejut diberi kode agar diam. Mamak mengira Bening pingsan padahal hanya tertidur.


~


Mama Has baru pulang beberapa saat lalu. Langit dan Bening masih belum beranjak dari teras. Usai mobil itu tak terlihat, mereka baru kembali masuk.


"Tidur terus di rumah sakit, badan serasa kaku semua," keluh Bening. Wanita itu berbaring di kamar Langit, sedangkan pria itu duduk di pinggiran ranjang.


"Sini, aku pijit."


"Gak usah. Kamu juga capek sana-sini," tolak Bening.


Sedikit demi sedikit Bening memang mulai berubah. Dalam hati Langit merasa senang dengan perubahan itu. Entah dari Bening sendiri atau bawaan dari kehamilannya. Dia juga tidak tahu pasti.


Langit hampir semalaman terjaga untuk menunggui Bening. Tidurnya tidak nyenyak karena Bening sebentar-bentar bangun, mengeluh badannya kaku dan sakit.


Menahan rasa kantuk, tangan Langit tak henti memijat tangan dan kaki Bening. Ia berusaha menjadi suami siaga, supaya Bening tidak sendirian menanggung kesulitan masa kehamilan. Selain itu, dia rela melakukan apapun demi Bening, agar sang istri itu tak menggugurkan calon anaknya.


~


Ketika membuka mata, Bening tak lagi mendapati sang suami berada di sisinya, dengan pelan mencoba bangun. Dia langsung membekap mulut saat lagi-lagi merasa mual, tetapi seperti sebelumnya dia langsung memuntahkan isi perut di sembarang tempat karena memang tidak bisa ditahan.


"Mbak." Langit masuk dan langsung mendekati Bening. Dia memijat dan mengelus punggung istrinya.


Bening melihat ke arah Langit dengan pandangan sungkan. "Maaf," ucapnya lirih.


"Gak apa. Muntahin aja kalo masih mual."


Bening menggeleng. Langit membersihkan mulut Bening dengan handuk kecil. "Tunggu bentar aku buatin teh hangat biar perut Mbak gak kosong." Langit pergi ke dapur untuk membuat teh hangat.


Mata Bening justru berembun. "Keberuntungan apa yang membuatku punya suami sebaik dia. Maafin, aku yang sudah bersikap egois." Tanpa sadar tangan kanan sudah mengusap perutnya yang masih datar.


"Mbak minum teh anget dulu." Langit kembali membawa teh hangat.


"Kamu gak jijik aku muntah terus," kata Bening.


Langit menggeleng. Meski sebenarnya dia merasa risih, tapi tidak mungkin dia menjawab jujur di depan Bening. "Kalo aku jijik. Terus yang mau ngerawat Embak siapa? Mbak gak usah sungkan, ini kewajibanku ngerawat Embak yang berjuang mengandung anak kita. Aku sudah berterima kasih, Embak mau mertahanin dia. Jika bisa, aku aja yang ngerasain ngidam. Biar Embak gak ke siksa harus muntah terus."

__ADS_1


Bening mendekatkan wajah dan mencium pipi Langit. Mereka berdua berpelukan dalam rasa suka cita.


__ADS_2