Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
10. Ceramah Adem


__ADS_3

Tidak, sih. Gista yang muak duluan karena perkataan Ayah terbayang di kepalanya. Jika bukan karena itu, mungkin setidaknya Gista bisa bertahan.


"Kita itu enggak boleh sembarangan ngomong ke orang atau ke diri sendiri, Teh."


Endra agak tersenyum kecut waktu mengatakannya.


"Orang gila, orang gila, orang gila. Kondisi mental itu enggak sesederhana dua kata yang dijadiin stereotip. Kalau enggak normal, mungkin orang lainnya yang enggak tau," kata dia lagi.


Gista menunduk, diam mendengarkan nasehat itu.


"Nentuin normal enggak normal itu butuh proses. Apalagi soal sakit. Badan kita itu complicated. Sakitnya di mana, bisa jadi justru masalahnya di tempat lain. Mata minus, padahal enggak pernah pake gadget—oh, ternyata dia diabetes. Sakit kepala padahal enggak flu enggak demam enggak panas-panas—oh, ternyata dehidrasi."


Gista mengangguk mendengarkan suara Endra yang nyaman di dadanya. Mata Gista merah, pelan-pelan menangis, tapi entah kenapa ia tak sedih.


Cara Endra menasehati buat Gista sangat menenangkan.


"Dokter umum aja yah, Teh, enggak boleh sembarangan ikut campur urusan dokter spesialis," katanya lagi. "Kelasnya beda. Level ilmunya beda. Enggak ada tuh dokter umum ngomong 'wah, enggak ada nih kasus begini, fix mah kamunya gila'. Pasti dokternya bilang, konsultasi sama dokter yang lebih ahli. Kalau yang ahli enggak bisa, mungkin Teteh butuhnya yang di atas ahli lagi. Atau kasusnya Teteh butuh dianalisis lagi."


"Iya." Kalau semua orang dinasehati dengan cara lembut dan nada santun ini, Gista rasa cuma orang tak tahu diri yang berkata tidak.

__ADS_1


Endra terus saja tersenyum halus.


"Teteh enggak perlu nangis. Enggan perlu sedih. Ya bolehlah dikit, manusiawi. Tapi ngomongnya baik-baik, daripada bilang 'saya gila', Teteh bilang aja 'insyaa Allah sehat'."


"Iya."


"Kasus Teteh emang saya baru denger, memang, tapi bukan berarti enggak ada kasus yang aneh di dunia medis, Teh. Ada orang secara medis mati tapi nyatanya idup. Teteh enggak sendirian."


Gista mengusap-usap matanya dan terus tertawa geli.


Orang ini kenapa jadi lucu, sih? Gista mau menangis tapi dia terus mengoceh.


Meski tetap tidak mau ke dokter lagi, ia tertawa karena Endra berusaha keras menghiburnya.


*


Endra beberapa kali dicurhati oleh temannya, entah itu dokter atau yang menjadi asisten dokter. Salah satu yang paling 'menyebalkan' memang adalah orang tua pasien, atau bahkan pasien sendiri yang kurang pengetahuan.


Dalam arti, mereka yang ketika diberi satu saran tentang sebuah tindakan oleh dokter, mereka melawan.

__ADS_1


Nah, kasus seperti Gista itu juga terhitung demikian. Orang tuanya mungkin rendah pendidikan, tidak terlalu paham makanya langsung membuat judge kasar anaknya gila.


Kadang-kadang mereka pikir mereka tidak bermaksud buruk dalam artian kasar, namun mau maksudnya A atau B, ketika pasien sudah pundung, tidak ada yang dapat memperbaiki mentalnya kecuali pasien itu sendiri.


Kasihan Gista. Dia jelas kebingungan dia kenapa, tapi malah dikatai gila hingga sejak kemarin dia terus berkata 'saya gila'.


Kalau begini, dia trauma pada orang tuanya sendiri, yang tanggung jawab siapa?


"Enggak enak, Teh?" tanya Endra waktu melihat Gista berusaha keras menghabiskan roti.


Roti cokelat harga seribu. Walau rasanya memang tidak enak, tapi Endra baru melihat ada orang tidak bisa menelannya lebih dari semenit.


"Banget." Gista menjawab dengan suara serak bekas menangis. "Rasanya tuh kayak sampah. Ya saya enggak pernah makan sampah sih tapi kayak bukan rasa makanan."


Endra mengangguk-angguk serius pada keluhan itu.


"Nanti saya periksa lagi Teteh mau, yah?" pintanya sopan.


Endra butuh lebih memastikan lagi. Karena biarpun Gista tidak suka, satu-satunya cara tahu penyakit pasien selain tes darah dan scanning ya bertanya langsung.

__ADS_1


*


__ADS_2