Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
64. Mohon Maaf


__ADS_3

Endra memejamkan matanya rapat-rapat akibat pertanyaan itu.


Kenapa Gista mempertanyakannya lagi? Padahal Endra sudah berjanji, dia pun sudah terlihat lebih baik. Kenapa?


Endra mau berputus asa, tapi ia sadar sedang berada di depan pasien. Sikap profesional yang dibutuhkan seseorang saat sakit.


"Teteh bakal sembuh. Kan saya sama Teteh udah berusaha."


Gista diam-diam meremas kedua tangan Endra di atas pahanya. Gadis itu agak terlihat gelisah, membuat Endra seketika sadar kalau Gista disusupi tekanan lagi.


"Gimana kalau ternyata ini kelainan yang enggak bisa sembuh?" tanya Gista lirih. "Gimana kalau ternyata saya enggak bakal normal lagi?"


Kenapa dia sangat suka memikirkan hal menakutkan itu?


Padahal Endra berusaha keras agar semua itu disingkirkan. Endra takut memikirkannya dan Endra tidak mau Gista memikirkannya.


"Teteh nih suka nakal." Endra menarik hidungnya agak keras, biar Gista terdistraksi dari pemikiran menyedihkan itu. "Kan saya udah bilang sembuh ya sembuh. Gimana sih Teteh. Teteh tuh enggak ngerti yah kalo depan dokter, tugas pasien tuh ngangguk aja. Enggak boleh banyak protes."


"Aduh-du-duh. Endra sakit."


"Biarin aja." Endra berkata begitu, tapi buru-buru melepaskan.


Well, sepertinya ia agak mencubit terlalu keras karena hidung Gista jadi sangat marah.


Meski begitu Gista langsung teralihkan dari pemikiran buruk, makanya Endra tidak menyesal. Alih-alih, ia mencolek hidung merah itu. Tersenyum manis.


"Teteh manis saya mah terima beres aja. Dokter Gantengnya Teteh yang bakal sembuhin. Soalnya kalo enggak, nikahnya ketunda."


Gista melotot. "Itu mah mau kamu aja."


Bagaimana dia menutup hidungnya yang memerah dan melotot jadi alasan Endra tertawa. Padahal sebenarnya tadi Endra agak memaksakan diri terlihat ceria demi Gista.

__ADS_1


Ah, Endra menyukai hatinya yang sedang jatuh cinta. Ini terasa ringan dan menyenangkan untuk dirasa.


"Teteh mau peluk saya lagi enggak? Peluk yah, pleaseeeeeeeeee."


Endra setengah bercanda.


Cuma mau melihat Gista membantah dengan kalimat 'ngapain saya peluk-peluk kamu' tapi sambil malu-malu.


Ternyata eh ternyata, Endra mendapat pelukan sungguhan.


Gista benar-benar melingkarkan tangan di punggung Endra, menyembunyikan wajah di bahunya, memeluk tubuh Endra erat-erat.


Wajah Endra mau tak mau terasa panas. Apalagi ia yakin kalau Gista bisa mendengar suara jantungnya sedang palpitasi di dalam sana.


Namun rejeki tidak boleh ditolak. Endra balas memeluk Gista, menenangkan dirinya dalam kehangatan gadis itu.


Hah. Disituasi seperti ini, Endra merasa cuma mau menikahi Gista dan dunia berakhir saja kecuali dunia mereka berdua.


Tidak bau macam Endra habis berkebun dari pagi sampai sore, tapi penciuman Gista sangat sensitif kan, sampai parfum bagi dia malah bau bangkai.


Endra tidak mau kalau pelukan itu malah diam-diam membuat Gista trauma.


Tapi ternyata Gista menggeleng. Malah semakin memeluknya.


"Enggak pa-pa kalo kamu." Gista menggosok wajahnya ke bahu Endra. "Cuma kamu."


Ibaratnya di kepala Endra mendadak ada bunyi batu dilempar ke besi.


Teeeeeeeng.


Dan Endra membeku.

__ADS_1


Seisi kepalanya berhamburan, lalu bersantu kembali. Namun saat itu bersatu, yang bermunculan adalah sebuah bayangan tak pantas dan sangat amat sulit diwujudkan dalam situasi sekarang.


Endra memeluk Gista dan meringis ingin menangis. Tapi bukan di tempat ini melainkan di sebuah surga bernama kamar pengantin dan—oke stop!


"Teh."


"Hm?"


"Saya suka dipeluk Teteh."


Gista tersenyum diam-diam di bahunya. "Ohiya?"


"Iya, Teh, sumpah." Endra semakin mau menangis. "Makanya ...."


Nada suara Endra membikin Gista ragu. Pelukan itu terpaksa Gista lepaskan, untuk mengintip ekspresi Endra. Katanya suka, lalu kenapa nadanya malah seperti tercekik?


"Kamu kenapa?"


Endra tersenyum aneh karena tampak masih meringis, mau menangis, dan kecewa.


"Saya tegang."


Detik itu juga Gista berteriak mengatakan dia tak akan mau jadi istrinya Endra, lari ke kamar, meninggalkan Endra tertawa di sofa sendirian.


Lucunya.


Tapi serius, Endra tegang.


Mohon maaf.


*

__ADS_1


Tinggalin like kalian sebagai bentuk dukungan karya author, yah 😊


__ADS_2