
Memang Gista tuh suka jahat yah. Masa dia mengutarakan pertanyaan yang bikin Endra mau melihat dia melahirkan.
Kan belum bisa bikin, soalnya dia harus sembuh dulu.
Enggak deng, bercanda. Tapi serius, perkataan Endra tadi.
Laki-laki normalnya tidak kuat melihat perempuan melahirkan. Apalagi kalau perempuan sudah teriak-teriak kesakitan.
Endra saja yang beberapa kali melihat masih sering menggigil. Rasanya kalau bisa kencing di celana pun ia kencing di celana saking takutnya.
Cuma memang laki-laki seperti Endra tidak terlalu suka memperlihatkan, soalnya otak Endra sering merasa kalau itu lemah. Dan Endra tidak suka laki-laki lemah.
"Teteh ngebaperin saya, nanti saya bikin ngelahirin beneran baru tau rasa."
Gista malah membalas, "Kamu dampingin?"
Perempuan ini boleh tidak sih Endra nikahi detik ini juga?
"Yaudah, sampe rumah kita bikin yah, Teh."
Gista langsung meninju punggung Endra. Lagi dan lagi, cara dia melampiaskan rasa malunya itu bikin Endra ketawa.
__ADS_1
Sakit sih dipukul. Yakali tidak sakit. Tapi yah, apalah itu sakit kalau yang melakukan orang tersayang. Pujangga saja mendaki gunung menyebrangi lautan, masa Endra tahan dipukul sedikit tidak bisa?
Semua Endra anggap lelucon saja, agar Gista ikut tertawa.
Begitu tiba di rumah, Endra langsung memarkirkan motor ke garasi yang dibuat oleh A Zaka, khusus buat motor-motor mereka. Karena ini kampung dan jalanan juga sempit, Endra cuma mengoleksi motor alih-alih mobil.
Walaupun sebenarnya Endra mampu beli.
"Ini Scooter siapa, Endra? Kayaknya bukan punya Juli juga."
Endra menoleh ke arah motor yang Gista tanyakan. Benda itu memang selalu terparkir rapi di sana, tidak pernah bergerak-gerak. Kadang Endra merawatnya, entah mencuci atau mengganti oli atau memanaskan, tapi tidak pernah ia pakai.
Meskipun ada keraguan dalam diri Endra, ia memutuskan berani menjawab, "Punya adek saya, Teh."
Pertanyaan itu menusuk Endra tanpa Gista sadari. Membuat Endra akhirnya diam merenungi.
Tentu saja Gista langsung menyadari ada perubahan serius di wajah Endra. Karena hal itu sangat amat jarang terjadi, Gista seketika menjadi panik. Buru-buru mendekati Endra karena takut jika ada satu dua ucapannya yang sangat mengganggu.
"Saya salah ngomong, yah? Saya minta maaf. Sumpah, saya enggak maksud ...."
Endra menggeleng. "Enggak pa-pa, Teh."
__ADS_1
Bukan Endra tidak mau memberitahu tentang adiknya pada Gista, tapi itu bukan cerita yang bisa diungkapkan sekarang.
Kondisi psikologis Gista masih rentan. Dia masih dalam tahap kadang semangat kadang depresi. Emosinya yang terlalu lompat-lompat itu berbahaya, karena itulah Endra tidak mau menyusahkan Gista.
Nanti jika Gista sudah benar-benar stabil, baru Endra menceritakan hal-hal yang tidak menyenangkan itu. Agar Gista pun tidak perlu terpengaruh dan malah berdampak buruk bagi kesehatan mentalnya.
"Saya cerita sama Teteh nanti. Sekarang Teteh sembuh dulu. Pokoknya itu dulu prioritas. Oke?"
Gista mengerjap. Ada sebagian dirinya yang sangat penasaran tentang cerita itu karena ekspresi Endra, tapi jika Endra berkata begitu, maka Gista harus menghargainya.
Lagipula, kelihatannya itu cerita sedih. Karena Endra mengatakannya juga sangat lesu.
"Iya, enggak pa-pa. Kamu cerita sama saya kalo udah mau."
Endra tersenyum manis. "Kita masuk? Teteh juga kayaknya udah capek."
"Siap, Dokter."
Sama seperti Endra yang senang Gista tertawa, Gista pun senang jika Endra tertawa.
*
__ADS_1
tinggalin like kalian sebagai dukungan bagi karya author 😊