Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
48. Kecupan


__ADS_3

Karena Ashar menempat di kamarnya Endra itu, Gista mau tak mau harus pindah ke kamar lain. Makanya Gista harus masuk ke kamar itu lagi, ingin mengemasi barang-barangnya.


Dalam hati Gista berharap Ashar sedang tidur, tapi ternyata pria itu duduk, tengah menatap obat-obatan Gista di tangannya.


"Kamu ngapain?" Nada suara Gista yang semula riang kini berubah kaku, datar tanpa emosi.


Setiap kali mengingat Ashar bertanya kenapa, Gista merasa sangat kesal bahkan hingga benci padanya. Dia tidak mengerti apa-apa namun selalu menurut dan menyalahkan.


Dia dan semua orang yang melakukan hal sama.


"Aku," Ashar terdiam sejenak, seolah ragu mengatakannya, "aku minta maaf."


Gista tersentak. Tak menduga Ashar akan mengatakan itu.


"Maaf buat apa?"


Gista sekarang tidak butuh maaf lebih dari maaf mengenai pertanyaan kenapa itu. Jadi kalau dia cuma mau minta maaf untuk hal-hal seperti 'maaf sudah abai', Gista tidak mau dengar.


"Aku enggak bisa paham sebenernya kamu kenapa." Ashar menepuk tempat di sisinya, isyarat agar Gista duduk.


Karena kelihatannya dia sudah bisa bicara baik-baik, Gista bersedia duduk di sampingnya. Walau ekspresi Gista masih sangat dingin.


"Aku juga panik, Gis. Aku mau bantuin kamu, tapi aku enggak tau mau bantuin gimana. Apalagi momennya justru pas aku lagi ada masalah di tempat kerja. Bukan maksud aku pengen cuek sama kamu."


"...."

__ADS_1


"Aku minta maaf. Aku bakal dengerin kalo kamu mau jelasin sekali lagi. Kondisi kamu gimana, masalahnya apa. Kita pecahin sama-sama."


Gista sejenak cuma diam.


Mungkin Ashar terlambat beberapa hari saja, atau terlambat beberapa jam saja. Jika tadi, sebelum Gista pergi menemui Endra, mungkin hati Gista masih berdebar kencang untuk Ashar.


Kemarin pun sejujurnya Gista merasa terharu karena Ashar membela-belakan diri datang cuma untuk menemui Gista di sini. Tapi sekarang tidak lagi.


Gista merasa Endra adalah obat terbaik untuk dirinya, support system dan segala hal yang sekarang ia inginkan.


"Kamu boleh nganggep aku egois." Gista mengemasi obat-obatannya. "Aku enggak mau perbaikin apa-apa, juga enggak mau lagi jelasin apa-apa. Aku capek."


"...."


"Kalau kamu cuma ngeliat aku cuma perempuan yang nyusahin, berarti emang kita enggak bisa sama-sama lagi."


"Ada sesuatu yang bisa aku maafin, bisa aku biarin, bisa aku terima, Ashar. Ada juga yang enggak."


Bahkan sekarang, kalau Gista pikir lagi, ia mungkin bakal lebih mudah memaafkan kalau Ashar selingkuh daripada kalau Ashar melakukan hal ini.


Saat kalian sakit dan tidak tahu penyakit apa itu, saat kalian dituntut baik-baik saja padahal mungkin saja penyakit itu akan bertahan selamanya, saat kalian dianggap hanya melebih-lebihkan sesuatu yang mungkin di pikiran mereka itu bukan masalah; Gista tidak bisa memaafkannya.


Ia tidak mau memaafkannya.


*

__ADS_1


"Teteh ngomong apa sama Akangnya?"


"Rahasia."


Endra mencolek pipi Gista. "Masa Teteh pake rahasia-rahasiaan sama pacar sendiri?"


"Siapa yang pacar kamu?!" pekik Gista spontan karena terkejut. Tentu saja sembilan puluh persennya gengsi.


"Ohiya, yah. Calon suami."


"Endraaaaa!"


Pemuda itu tertawa puas, tak terlalu terpengaruh meski Gista memukul-mukul lengannya. Tapi Endra juga tidak memperlama durasi bercandanya, karena setelah itu dia menarik Gista buat duduk di ruang santai lantai dua.


Ternyata di sana Endra sudah menyiapkan makanan.


"Teteh makan dulu. Kayaknya dari tadi Teteh enggak makan apa-apa."


Gista mengerjap, bahkan dirinya sendiri lupa kalau belum makan sejak tadi.


Sebenarnya itu sangat sederhana dan nyaris tidak terlalu penting. Tapi mungkin karena Gista sedang punya masalah batin, perhatian Endra ini sudah cukup jadi alasan Gista tersenyum bahagia.


"Endra."


"Iya, Teteh?"

__ADS_1


Gista cuma melakukan hal spontan di kepalanya, yaitu berjinjit, mengecup pipi Endra.


*


__ADS_2