Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
43. Pasti Sembuh


__ADS_3

Endra menyadari jika Gista punya permasalahan tentang keluarganya. Terlebih, Endra ingat bahwa Gista pernah berkata dia dikatai gila oleh orang tuanya sendiri. Maka Endra mengajak dia bicara berdua. Berjalan santai menuju kediaman.


Baru Endra sadar kalau ia penuh keringat sementara Gista tidak bisa mencium bau keringat. Apalagi, Gista juga terlihat pucat setelah berlari.


Duh, saking fokusnya Endra malah lupa kalau Gista tidak boleh banyak beraktivitas sebab sumber energinya dia sangat sedikit.


Tapi, Endra memegang tangan Gista tanpa paksaan. Dia sedikitpun tidak terlihat mau protes entah soal lelah berlari atau soal Endra penuh keringat.


"Saya takut pulang." Gista terlihat sedih waktu mengatakannya. "Saya enggak bisa lupain omongan Ayah ke saya."


Endra sangat ingin memeluk Gista sekarang. Namun harus menahan diri karena dia sedang sakit.


"Tapi ...." Tiba-tiba Gista berhenti, meremas kuat tangan Endra di tangannya. "Saya juga enggak bisa bayangin saya pisah dari kamu."


Duh, Teteh manis ini mengerti tidak sih apa yang dia katakan? Dia bilang kangen saja Endra sudah mau mengurung dia seumur hidup karena gemas!


Gista tidak tahu saja kalau dalam hati Endra sedang loncat-loncat. Sumpah, Endra merasa sangat galau karena berpikir Gista milik orang lain.


Tapi pokoknya sekarang dia milik Endra!


"Teh—"


"Saya aneh banget, kan? Padahal baru kenal kamu. Katanya kita enggak boleh langsung percaya orang baik ke kita soalnya itu mungkin ada maksud buruknya. Tapi saya enggak bisa."


Endra mengerjap tercengang.

__ADS_1


"Saya enggak bisa mikir buruk soal kamu. Mau kamu apain saya sekarang mungkin juga enggak bakal berubah. Saya beneran enggak bisa."


Gista samar-samar menggigil.


"Jangan ilfil, yah?" bisik dia takut-takut, hingga Endra malah semakin gemas mau menggigitnya.


Sambil berusaha terus tenang, Endra berdehem. Kemudian membalas, "Teteh mau tau yang saya pikirin?"


"Enggak." Gista malah menggeleng panik. "Enggak usah. Simpen aja buat—"


"Saya mau nikahin Teteh besok—enggak, satu jam lagi biar saya cepet-cepet bisa bebas ngapa-ngapain Teteh, hehe."


Wajah dia lucu saat tambah pucat justru karena ucapan Endra. Sedikitpun Gista tak tahu, walaupun Endra cengengesan, ia sebenarnya juga takut kalau Gista ilfeel padanya.


"Jangan ilfeel sama saya yah, Teh?"


"Saya kan udah bilang, Teh," ucap Endra lembut, "buat sekarang Teteh healing dulu. Nanti kalo udah sembuh, kita nikah."


Endra tersentak karena alih-alih tersenyum, Gista malah jadi murung.


"Loh? Saya salah ngomong, Teh? Dah atuh jangan nangis. Masa saya udah bikin nangis padahal belom nikah? Nakal yah mulut Endra ke Teteh? Biar saya pukul si Endra kalo macem-macem."


Gista mewek, tapi masih sempat bertanya, "Emang kamu mau bikin saya nangis habis nikah?"


Saat itu, hanya Tuhan yang tahu, bahwa Endra sedang membayangkan sesuatu yang kotor. Kasur berantaran, air di mana-mana, Endra berkeringat, dan Gista menangis terisak-isak.

__ADS_1


Endra buru-buru menggeleng, mengusir jauh-jauh hal itu daripada tersiksa sendiri.


"Teteh kenapa malah sedih?"


"Kapan saya sembuh?"


Endra tersentak, kali ini ekspresinya ikut kaku.


"Saya sakit apa aja belum tau, kan? Kalau nunggu saya sembuh, gimana kalo enggak bisa?"


Seketika, Endra sadar kalau gadis ini adalah pasien. Dia bukan orang yang bisa bahagia dengan mudah sebab ada gajah dalam pikirannya yang perlu diusir.


Pemuda itu berdehem beberapa kali, kini menatap Gista lebih tegas sebagai seorang perawat.


Dasar Endra kurangajjar, ucap Endra pada dirinya sendiri. Disembuhin dulu baru mikir kawin. Goblock siah.


"Teteh pasti sembuh."


"Tapi—"


"Dibilang pasti. Mau saya pukul?" Endra mencubit pipinya yang tirus. "Cubit aja, deh. Pukulnya nanti aja."


"Endra, saya serius—"


"Saya juga serius. Pasti, sembuh. Teteh saya pasti sembuh."

__ADS_1


*


__ADS_2