Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
7. Pemuda Loveable


__ADS_3

Sebenarnya itu tidak seru melihat upacara, tapi ia bersabar untuk melihat. Tertawa mendengar anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan sambil berteriak-teriak.


Jumlah mereka sedikit. Sedikit sekali. Mungkin tidak genap seratus untuk keseluruhan sekolah. Karena Gista terbiasa melihat sekolah di kota, pemandangan itu agak ganjil.


"Yang ngekos di rumah saya salah satunya kerja di sini, Teh." Endra melajukan motor lagi. "Yang suka masak itu kalau pagi-pagi. Dia guru honorer."


"Perempuan?"


"Iya."


"Berapa orang ngekos sama kamu?"


"Hmmm, kalau saya dihitung sih lima. Tiga kalau saya sama Teteh enggak dihitung."


"A Zaka itu juga ngekos?"


"Dibilang ngekos enggak juga sih, Teh, soalnya dia enggak bayar. Temen deket saya soalnya. Sama-sama kerja jadi enggak ngitung bayar berapa sebulan."


Dia menoleh sekilas.


"Terus, satu lagi cewek. Cuma orangnya lagi ke kota."


"Oh." Gista tak tahu harus membalas apa. "Ohya, kamu bilang kamu dipanggil Pak Dokter? Kenapa, gitu?"


Dia tidak menyelesaikan pendidikan kedokterannya—dan Gista rasa jangan bertanya sebab itu pasti masalah sangat besar sampai dia rela pendidikan pentingnya terhenti—lalu kenapa dia disebut dokter?


"Kebanyakan orang sini enggak well-educated, Teh, jadi ya gampang dikasih gelar pinter," jawab Endra agak sedikit berteriak, melawan suara angin.

__ADS_1


Karena dia tidak bau, Gista mendekatkan badannya agar lebih bisa mendengar.


"Dulu ada anak desa sini yang tenggelam, kebetulan saya kasih pertolongan pertama cepet. Tau-tau malah dipanggil Pak Dokter. Jadi malu saya."


"Kok malu?"


"Ya saya kan bukan dokter, Teh."


"Kamu kan pernah pendidikan kedokteran. Udah masuk dokter muda, kan?"


Dia tertawa. "Iya, sih."


"Terus kalau ada yang sakit di desa, ke kamu datengnya?" tanya Gista lagi, masih penasaran.


"Biasanya sih, Teh. Makanya jangan heran yah kalau orang nyari saya. Orang kesurupan juga kayaknya mesti saya yang obatin. Katanya pasti sembuh. Padahal mah emang enggak ada yang sakitnya darurat banget."


Tiba-tiba, sebuah pemandangan menarik perhatian Gista.


"Itu apa?"


Endra mengikuti arah pandang Gista sebelum menjawab, "Oh, mau ada kawinan, Teh. Itu baru mau dipasang tendanya."


Hmmm.


Kata pernikahan membuat Gista mengalihkan mata seketika.


Sekitar dua minggu lalu, ia juga punya pacar. Tapi kemudian itu berakhir karena penyakit ini.

__ADS_1


Bukan. Bukan karena dia risi sebenarnya. Laki-laki itu sibuk bekerja. Sangat sibuk hingga sulit bagi dia meluangkan waktu bagi Gista.


Dalam kondisi mental terguncang setelah dikatai gila oleh Ayah, Gista terlalu mendesak dia hadir. Muak padanya, Gista memutuskan untuk mengakhiri.


"Ohiya, Teh, nanti kalau mau ke kondangan ikut saya aja."


Tidak, terima kasih.


"Eh, bau, yah? Maaf." Endra menoleh sekilas.


Mungkin dia menyadari mendung di wajah Gista, jadi Endra pun diam sampai mereka tiba di kantor lurah.


Gista turun bersamanya, masuk untuk menemui pak lurah sebentar, lalu bergegas pergi karena Endra punya pekerjaan.


Waktu mereka di jalan, tak sengaja mereka melewati warung yang speakernya diputar sangat keras. Mereka memutar lagu pop galau yang viral, dan Endra bersenandung mengikutinya.


Suaranya Endra merdu. Agak-agak mirip suaranya Admesh namun lebih samar.


Tangan Gista mencengkram jaket di pinggang Endra. Mendadak agak merasa kesepian. Apa ia sudah merasa bergantung padanya padahal baru bertemu kemarin?


Memang sih dia baik. Dia menolong Gista dan bahkan menawarinya tempat tinggal meski tahu Gista merepotkan. Tapi masa ia sudah baper?


Murahan banget.


Yah, mungkin Endra juga loveable, sih. Terutama untuk cewek kesepian.


*

__ADS_1


__ADS_2