Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
8. Dikira Hamil


__ADS_3

Gista menepis rasa menjijikan di hatinya itu sampai mereka tiba di tujuan akhir. Endra memarkirkan motor dengan baik, lalu turun setelah memastikan Gista turun aman.


"Teteh tunggu sini aja. Nanti juga saya keluar, kok. Soalnya rumah Tante saya dikasih pengharum banyak."


Maka tentu Gista diam di luar. Ia diam bersandar pada motor, niatnya cuma diam sampai Endra keluar.


Tapi tiba-tiba motor lewat. Knalpotnya yang dimodifikasi seolah sengaja dibuat ribut menyemburkan asap ke mana-mana. Gista yang sudah pakai masker dipaksa untuk membuka maskernya dan muntah parah.


Satu jeruk yang berhasil ia makan seluruhnya keluar lagi.


Suara Gista yang muntah menarik perhatian. Endra bergegas keluar, berjongkok di sampingnya karena Gista muntah-muntah tanpa henti.


Bau asap knalpot itu jauh lebih menjijikkan dari bangkai. Mata Gista memerah. Menangis sambil terus muntah sebab udara masih terasa bau.


Ia sudah tak sadar memegangi bahu Endra. Sudah lemas parah untuk bisa menyeimbangkan tubuhnya. Gista cuma bisa merasakan tangan Endra menepuk-nepuk punggungnya.


"Gasen!"


Tiba-tiba suara teriakan terdengar.


*


"Maaf."


Harusnya yang mengatakan itu Gista, soalnya yang baru saja dimarahi malah Endra—namanya Gasendra, tapi Gista sempat lupa dan cuma ingat Endra saja.

__ADS_1


Jelas saja keluarganya Endra salah paham.


Perempuan pagi-pagi muntah di depan rumah tanpa alasan jelas, yang kebetulan lagi perempuan itu tiba-tiba pindah ke rumahnya Endra, terus Endra yang sukarela memeluknya waktu muntah; mereka langsung berasumsi Gista hamil muda.


Hamil anaknya Endra.


"Ya Tuhan, Tante! Tangan pacar aku gandeng aja gemetaran, gimana mau hamilin anak orang! Kasian atuh Tetehnya dituduh-tuduh. Sakit itu dia," seru Endra tadi, waktu dia dan bibinya saling berdebat.


Mereka berdebat cukup panjang, tapi intinya adalah mereka salah paham dan tidak percaya sampai Endra menjelaskan situasinya sedikit.


"Tetehnya sakit di bagian saraf, Tante. Sarafnya bermasalah, jadinya muntah-muntah karena penciumannya kena. Orang muntaber aja muntah, enggak ujug-ujug hamil. Hadeh!"


Endra agak depresi.


"Itu saraf bagian inderanya bermasalah, jadi kena ke persepsinya. Gitu diagnosanya. Sakit itu. Muntah-muntah bukan ngidam doang."


Entah kenapa ia merasa tantenya Endra tidak suka dengan kehadiran Gista, tapi ia berusaha berpikir positif bahwa mungkin saja dia khawatir lanang-nya dinodai oleh masalah hamil diluar nikah.


Orang seperti Endra pasti diharap bisa menikah dengan cara terhormat.


"Tante saya emang suka gitu," ucap Endra penuh rasa bersalah.


Endra malah menjelaskan padahal Gista yang jadi masalah.


"Jangan tersinggung yah, Teh. Orang sini mah kalau muntah-muntah pagi pada dikira hamil. Orang muntaber aja diintrogasi. Maklum yah, Teh, orang kampung soalnya."

__ADS_1


Gista meringis, ikut merasa canggung. "Saya yang minta maaf nyusahin kamu."


"Kan yang manggil saya, Teh, wajar saya yang tanggung jawab," jawab pemuda itu halus.


Endra mengusap-usap punggungnya ketika mengulurkan sebungkus roti cokelat pada Gista.


"Enggak enak juga coba telen, Teh. Udah pucet banget. Paksain sedikit."


Sebenarnya belakangan Gista juga sering dengar itu, terutama dari Ibu. Katanya paksakan sedikit walaupun tidak enak.


Setiap mendengar itu, Gista merasa emosi. Kenapa tidak coba paksakan bangkai ke mulut kalian? Kalau bisa, Gista juga akan paksakan semua makanan ke mulutnya.


Karena Gista tidak bisa memaksa ketika mulutnya serasa sedang mengunyah bangkai.


Tapi perkataan penuh pengertian dari Endra membuatnya tidak kesal. Ia mengangguk, mengunyah hati-hati roti rasa amburadul itu.


"Menurut kamu, saya ... harus operasi?"


Itu hanya terpikir saja. Mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki di dalam sana agar ia tak perlu seperti ini.


Meski bukan berarti Gista berani operasi juga, namun ia hanya bertanya.


Bagaimanapun, Gista tidak bisa membayangkan hidup dalam penyakit itu lebih lama.


Mentalnya tidak akan kuat.

__ADS_1


***


__ADS_2