
"Udah, udah. Teteh kenapa malah nangis. Saya kan suruh makan biar kuat, kenapa malah nangis?"
Endra akhirnya menarik Gista dalam pelukannya, sebab ia bingung dia mau diapakam.
Pelukan itu Endra lakukan seerat mungkin, tapi juga tidak berusaha menyakiti. Endra tepuk-tepuk punggung Gista, mengusap-usap rambutnya biar hormon bahagia terstimulasi dan Gista benar-benar berhenti menangis.
"Teteh kenapa? Jelasin sama saya. Gituan maksudnya gimana? Saya marah kenapa?"
Gista malah nyaman dalam pelukan Endra itu. "Kamu marah saya cium."
Lah?
Tunggu, tunggu, tunggu. Jadi maksudnya dia menangis karena berpikir Endra marah?
Wah, gila saja. Maksud Endra, yang benar saja!
Bahkan bencong di dunia ini pun bakal senang kalau dicium bahkan biarpun cuma pipi. Apalagi Endra yang normal dan baik-baik saja, malah sangat amat gemas pada Gista.
"Jadi maksudnya Teteh ngira saya marah?"
Bibir Gista melengkung ke bawah saat dia mengangguk. "Kamu enggak marah?"
Duh. Endra menutup wajahnya tiba-tiba, tak sanggup hidup lagi malah.
Lucu banget, ya Tuhan. Apa Endra bilang saja ia marah jadi Gista harus menciumnya lagi tiap hari?
__ADS_1
Ah, tidak, tidak. Endra harus bilang sebagai hukuman karena sudah bertindak kurang ajar, Gista harus mencium dan memeluknya sepuluh kali sehari.
"Kamu kok ketawa?!"
Endra tertawa kencang pada akhirnya. Menertawakan kebodohan Gista karena bisa-bisanya dia berpikir seperti itu.
Ya ampun. Dapat info dari mana sih dia berpikir seorang cowok bisa marah, tersinggung dan terganggu kalau pacarnya mencium dia?
Yang ada malah Endra mau lebih!
"Teteh mau saya maafin?"
Gista memukul lengan Endra karena dia terus tertawa. "Saya enggak becanda!"
Meskipun sekarang Endra tanpa ekspresi, gara-gara dia tertawa tadi, Gista jadi sebal. Ia mencubit kecil perut Endra, tak peduli dia berteriak.
"Maaf, Teh, maaf. Habisnya Teteh lucu, sih."
"Nyebelin!"
Endra terkekeh kecil, tapi segera dia mengakhiri candaan sampai di sana, karena Endra pun serius mau melakukan pemeriksaan ulang.
Sudah lewat beberapa hari sejak pemeriksaan Gista dilakukan, jadi Endra mau memastikan apakah ada perubahan kecil, sedikit saja darinya.
"Yaudah, Teteh makan dulu, nih. Saya siapin dulu yang dibutuhin, yah."
__ADS_1
Gista mengangguk, membiarkan Endra beranjak sementara ia mengupas kulit jeruknya sendiri.
Agak butuh waktu sampai Gista dengar Endra kembali. Tapi perasaan Gista langsung tak nyaman ketika Endra datang bersama Ashar.
Kenapa?
"Saya ngajak Akang-nya buat jadi asisten saya, Teh." Endra mendekati Gista lengkap dengan berlembar-lembar kain di tangannya. "Juga, biar dia liat sendiri keluhan Teteh. Jadi Teteh enggak perlu jelasin panjang lebar. Saya yang jelasin."
Be-begitu, yah?
Baiklah kalau Endra merasa itu lebih baik. Lagipula, Gista juga capek harus menjelaskan A-B-C-D berulang kali.
"Teteh matanya saya turup dulu, yah? Enggak pa-pa, kan?"
Gista tersenyum pada Endra. "Kamu kan enggak usah nanya terus."
"Harus dong, Teh. Harus mengutamakan kenyamanan." Endra berdiri di belakang sofa, mulai melilitkan kain ke mata Gista. "Teteh tutup mata, yah? Kainnya juga saya tebelin. Sama, sekarang pake penutup telinga."
Gista yang matanya telah ditutup agak menoleh ke belakang. "Kenapa?" Soalnya waktu Gista ke dokter saraf, tidak sampai telinganya juga ditutup.
"Inisiatif saya aja, Teh. Pokoknya nanti yang saya bawa enggak boleh Teteh liat enggak boleh denger. Tebaknya pake rasa sama penciuman aja. Oke?"
Jantung Gista berdebar-debar, tapi karena Endra yang bilang, ia mengangguk percaya.
*
__ADS_1