Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
14. Putus Harapan


__ADS_3

Yang Gista tahu cuma dirinya mengalami disfungsi neurologis, tidak tahu apa nama pastinya, tidak juga tahu apa obatnya. Tak tahu sampai kapan ini semua akan berlangsung dan tak tahu kenapa cuma dirinya sendiri yang mengalami semua ini.


Nyaris Gista menangis, namun batal oleh ketukan pintu dan suara Endra.


"Teh, saya bawa mangganya."


Ayo coba sedikit peruntungan. Siapa tahu ia memang cuma bisa makan makanan kecut.


Jika benar demikian, berarti sedikit saja, Gista bisa percaya bahwa Tuhan tidak sedang membunuhnya.


Ketika Endra datang membawa nampan, ternyata dia tidak cuma bawa mangga, namun juga nasi dan belimbing yang ditumbuk bersama cabai.


"Kita coba dulu yah, Teh. Enggak pa-pa dimuntahin. Yang penting coba dulu," ucap Endra lembut.


Karena penyampaiannya itu, Gista jadi merasa pasrah pada ucapan Endra.


Endra duduk di lantai dan Gista mengikutinya. Pemandangan nasi itu tampak lebih menakutkan daripada pemandangan tubuh manusia berceceran di film gore.


Ia sudah terlalu trauma untuk mencoba, tapi Endra benar. Inderanya harus dirangsang agar kembali normal.


"Ini enggak pedes banget kok, Teh. Juli yang bikinin. Teteh cobain, siapa tau masuk."


Gista gemetar mengambil potongan mangga muda yang tampaknya sudah super kecut itu.


Bisa kan, yah? Pasti bisa dong, yah?


Ya Tuhan, tolong bisa. Kalau semua penciuman dan perasaanya bermasalah, Gista tidak akan putus asa kalau setidaknya ada satu jenis makanan yang bisa ia makan.


Gista berulang kali berdoa, lalu memasukkan makanan itu ke mulutnya.

__ADS_1


Pada gigitan pertama, ia memuntahkan itu ke tangan.


"Teh?"


Gista menggeleng keras. "Enggak bisa. Enggak enak."


Rasanya bukan cuma kecut. Ada rasa lain yang menjijikan sampai bahkan sulit dipaksa masuk. Padahal Gista pecinta mangga, tapi rasa ini luar biasa menjijikan sampai Gista sulit bernapas.


Mangga bukan sahabatnya seperti jeruk. Ini jauh lebih buruk dari rasa apel.


"Minum, Teh."


Gista berusaha keras menghilangkan sisa-sisanya yang demi Tuhan jauh lebih mending menghirup bau sampah.


"Padahal kecut, yah." Endra menggigit potongan mangga lain dan merasainya baik-baik. "Rasa mangga enggak bisa yah, Teh? Belimbingnya cobain."


Gista jelas makin trauma. Ia merasa seperti disuruh menelan kodok mati. Berusaha keras tidak muntah sampai memejamkan matanya.


"Bisa, Teh?" Endra tersenyum senang karena Gista menelannya. "Pedes enggak pa-pa yah, Teh. Kecut jeruk, kecut belimbing sama pedes. Cobain sama nasi, Teh."


Ingin rasanya Gista menangis. Ternyata ada makanan yang bisa ia telan lagi. Seandainya kedepan begini, tidak apa, sungguh.


Tidak masalah kalau Gista ternyata cuma bisa menelan satu hal ini.


Kali ini dengan semangat ia menyendok, karena memang sudah lapar dua puluh hari.


Semoga saja bisa. Semoga saja enak. Atau paling tidak semoga saja rasa belimbing dan cabai saja.


Gista menyuapkan nasi ... hanya untuk dimuntahkan seketika.

__ADS_1


"Teh?"


Gista langsung menangis. Seluruh harapannya barusan dipatahkan oleh sesuap nasi yang bahkan belum singgah untuk dikunyah.


Ia lari ke kamar mandi, berusaha mencuci lidahnya dari sisa rasa nasi menjijikan itu.


Suaranya muntah-muntah mungkin terdengar satu rumah, karena beberapa saat kemudian terdengar suara orang lain bertanya ada apa.


Gista menjatuhkan diri ke kamar mandi, menangis terisak-isak karena tak tahan lagi.


Menjijikan.


Menjijikan.


Menjijikan.


Ayah benar.


Ia tak normal.


Tak mungkin nasi bisa berubah rasa jadi daging mentah. Tidak mungkin mangga kecut bisa berubah rasa jadi bangkai.


Memang ada yang sepertinya di dunia? Tidak pernah ada yang punya penyakit begini. Gista pasti dikutuk. Tidak mungkin ada harapan ia sembuh kalau mengetahui penyakitnya saja ia tak bisa.


Dirinya yang tidak normal. Mulut dan penciumannya yang tidak normal.


"AAAKKKHHH!"


Gista berteriak histeris, cuma bisa melampiaskannya dengan cara demikian.

__ADS_1


Dunia ini membencinya.


*


__ADS_2