Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
90. Cuma Dia yang Peduli


__ADS_3

Gista mengerjap, langsung dipaksa tidak bersedih. "Tapi kan beda."


"Beda apanya sih, Teh? Dokter tuh tiap hari kerjanya itu terus. Ketemu pasien banyak, yang kebanyakan keluhannya sama. Teteh tau kan tulisan dokter tuh enggak bisa dibaca? Kenapa? Soalnya bertahun-tahun nulis yang sama sampe bosen nulisnya."


"Terus Teteh dateng, ngeluh yang sama lagi, minta obat yang sama lagi. Dokter kalo bisa tuh bilang, Teh, bisa enggak sih enggak usah banyak tanya? Bisa enggak sih enggak usah banyak ngeluh? Capek dokter, Teh."


Ocehan Endra membuat Gista tiba-tiba tersenyum. "Iya, yah." Terbawa suasana akan caranya bercerita.


"Nah, kan." Endra mengangguk senang karena Gista tersenyum. "Kita tuh harus nyusahin orang biar hidup, Teh. Yang enggak boleh itu tanpa alasan jelas kita nyusahin orang."


"Kalo ada alasan, Teteh sakit terus ke dokter, nyusahin dokternya biar nyembuhin Teteh. Ya enggak pa-pa."


"Sama aja kayak saya. Teteh nyusahin saya karena Teteh sakit. Nanti kalau Teteh udah enggak sakit, saya nyusahin Teteh. Udah gitu doang. Enggak ribet-ribet."


Gista menatap mata Endra lekat. "Kamu beneran enggak males? Enggak ngerasa saya nyusahin bangef?"


"Males enggak, nyusahin iya." Endra menjawab jujur dan sangat tenang. "Susah saya mikirin Teteh sakit apa. Tapi anti sama susah-susah itu enggak boleh. Susah itu berusaha dinikmatin. Berlalu kok. Makanya walaupun nyusahin, saya enggak ngeluh. Saya enggak males."


Gista tak tahu kenapa tapi mendadak seperti ada kekuatan dalam dirinya menghadapi ketakutan bertemu Ayah dan Ibu.


Pada akhirnya Gista tersenyum, mengangguk sepenuhnya ikhlas pada keputusan Endra.


"Dan," ucap Endra saat membalas senyum Gista, "saya suka diandelin. Jadi Teteh dengerin omongan saya, yah? Saya mau diandelin."


"Saya suka diandelin. Teteh enggak mau pisah dari saya karena ngerasa cuma saya yang manjain Teteh, udah itu bagus. Saya enggak masalah."


Jangan dengar teguran Ashar, itu yang dia coba katakan.

__ADS_1


Dan Gista memahaminya.


"Iya."


Baiklah. Ayo berusaha sembuh agar mereka bisa cepat bersama.


Sebab penyakit ini memang menghalau Gista bisa menikahi Endra.


*


Kabar Gista akan pergi ke kota di antar oleh Endra rasanya seperti kabar bakal ada anak presiden datang. Warga berkumpul di rumah Endra cuma untuk melihat Gista keluar dari rumah bersama kopernya, dan Endra berpamitan pada Pak Hanung yang juga ikut datang melihat kepergian mereka.


Gista malah canggung karena semua orang berkumpul tanpa sebab.


"Sehat-sehat yah, Teh." Pak Hanung menepuk lengan Gista saat ia datang untuk salim. "Saya doain cepet sembuh. Kasian kalo sakit lama-lama. Gasen udah enggak sabaran."


Endra yang dengar langsung menyeletuk, "Tau aja, Om."


Hubungan Endra san Gista kini memang sudah sangat transparan. Dan semua orang mau tak mau terima kenyataan kalau Endra mau bersama Gista, bukannya Yura.


Tapi Yura hari ini datang. Ikut bersama Pak Hanung mengucapkan salam pada Gista, sekaligus memberi bingkisan berupa buah-buahan dari kebun kampung mereka, untuk keluarga Gista nanti.


"Hati-hati, Teh." Yura mengucapkannya tulus, walau tidak benar-benar bisa menyembunyikan getir ketika Gista dan Endra berdiri berdampingan.


Tak mau kesedihannya jadi pusat perhatian, Yura segera menepi. Pergi ke teras rumah Endra yang kosong karena semua orang berkumpul di dekat mobil.


Sekalipun ucapan Mamah terngiang-ngiang di kepala Yura, mengenai Endra seharusnya menikahi Yura bukan Gista, tetap saja tidak ada yang bisa dilakukan.

__ADS_1


Memang kalau Yura berteriak di sini, ia dan Endra otomatis bakal menikah?


Itu hanya mempermalukan diri sendiri.


"Sedih?"


Yura tersentak. Tidak sadar ketika Ashar muncul dari dalam rumah, lengkap bersama tas besarnya.


"A." Yura menyapa sopan. "Naik motor sendiri, A, nanti?"


"Hm? Enggak. Motorku masih diperbaikin, jadi nanti baru bisa diambil."


"Oh." Yura bertanya semata-mata karena basa-basi. "Hati-hati, A, nanti. Main-main lagi ke sini kalo ada waktu."


Ashar tersenyum sekilas. "Bukannya 'jangan main lagi ke sini'?"


"Aih mah Aa suka becanda. Saya seneng-seneng aja ada tamu di kampung." Walau saat mengucapkannya Yura tidak senyum sama sekali.


Kentara dia sedih.


Ashar mengangkat tas ke punggungnya, siap untuk naik ke mobil. Tapi sebelum itu, Ashar tiba-tiba meletakkan tangan di puncak kepala Yura, dan berlalu tanpa menjelaskan kenapa.


"Kalo Endra pulang, buruan nikahin," gumam Ashar pelan. Nyaris tak terdengar malah.


Namun Yura yang mendengar jelas dibuat mengerjap.


Tiba-tiba menyentuh puncak kepalanya dan tak tahu kenapa Yura pelan-pelan tersenyum.

__ADS_1


Sepertinya cuma dia yang cukup peduli pada rasa sakit Yura.


*


__ADS_2