
Sudah Endra bilang, kan? Yang namanya penyakit akan sembuh jika pasiennya percaya dia sembuh. Tapi kalau tidak, Gista cuma akan menghambat kesembuhannya sendiri dengan pikiran itu.
Jangan remehkan kekuatan pikiran. Itu menentukan sembilan puluh persen dari keseluruhan hidup seseorang.
"Atau gini deh kalau Teteh belum bisa percaya. Teteh percaya ini aja."
Endra menangkup wajahnya dan berusaha tidak tertawa pada merah bekas cubitan di pipi Gista.
"Saya bakal temenin Teteh sampe sembuh," ucap Endra penuh keyakinan. "Saya bakal selalu temenin Teteh sampe Teteh sehat lagi."
"...."
"Kenapa? Soalnya saya mau nikahin Teteh. Sekarang kan enggak bisa. Soalnya Teteh sakit. Orang nikah kan butuh pake bedak, butuh pake parfum, harus mandi—dan paling penting harus keringetan. Harus banget itu keringetan. Teteh harus sembuh, harus mau keringetan. Gimanapun caranya."
Gista mengerjap. "Dengan kata lain, kamu mau nemenin saya sembuh buat diri kamu sendiri?"
"Iya."
"Biar bisa tidur bareng?"
"Iya."
"Biar kamu bisa nikahin saya?"
"Iya banget. Ih, Teteh mah pinter banget."
Tawa Endra berderai menerima pukulan-pukulan Gista di punggungnya. Walaupun Gista memukulnya karena ucapan itu, Endra tahu betul bahwa perasaannya dan Gista sama.
Mereka menantikan hal sama.
__ADS_1
Saat tertawa itulah ... tubuh Endra membeku kaku. Kecupan kecil tiba-tiba mendarat di punggungnya dari luar kaus, disusul sebuah tangan melingkar ke perutnya, memeluk Endra dari belakang.
"Bukan cuma kamu," bisik dia. "Saya juga egois."
Endra masih membeku.
"Kalau aja bisa, saya mau semua orang ilang kecuali kamu sama saya. Biar saya sama kamu bebas berdua."
Ah, sialan.
Kenapa jadi Endra yang lebih baperan sekarang? Harusnya kan dirinya yang bikin baper.
*
Gista jadi lupa kalau tadi dirinya mau curhat soal Ashar. Di depan rumah justru Gista baru ingat, namun tak lagi punya keinginan curhat.
Segala kesedihan di hatinya soal Ashar malah sudah hilang tak berbekas. Gista bahkan tidak tertarik memikirkannya lagi.
"Gis, kamu dari mana?"
Gista merasa lebih tenang menghadapi Ashar sekarang. "Ketemu Endra."
"Endra?"
"Orang yang nolongin kamu. Nolongin aku juga."
Nama laki-laki yang terucap dari bibir Gista membuat pandangan Ashar jadi waspada. Pria itu beranjak duduk dari posisi berbaring, menatap Gista penuh kalkulasi.
"Kamu ketemu cowok lain?"
__ADS_1
Pertanyaan itu bukan soal Gista baru bertemu seseorang namun soal Gista punya rasa dengan seseorang. Sebagai seorang laki-laki yang mendampingi Gista selama bertahun-tahun, Ashar peka terhadap berubahnya perasaan Gista.
Maka, Gista mengangguk, mengakuinya.
Tidak, ia mau Ashar tahu bahwa dirinya sudah berselingkuh hati dengan seseorang.
"Jadi gitu." Ashar menghela napas tak percaya. "Kamu mau putus bukan karena aku tapi karena cowok baru? Kamu selingkuh?"
Gista tersenyum getir. "Kalo bukan cowok baru itu yang bilang 'aku bisa sembuh' kemungkinan aku bunuh diri karena kamu cuma bisa nanya 'aku kenapa'."
Demi langit dan bumi dan demi Tuhan yang menciptakan keduanya, bahkan di antara kedua hal itu, tidak ada yang paling Gista benci kecuali pertanyaan 'kamu kenapa?'.
"Terus aku harus apa, Gis? Aku mana ngerti kalo kamu enggak cerita apa-apa."
"Aku cerita."
"Cerita mana?!"
"AKU ENGGAK BISA MAKAN!"
Gista merasa luar biasa benci sekarang setiap kali ia harus menjelaskan sesuatu yang sudah ia katakan.
Apa, sih? Apa kurang jelas? Apa dia merasa ada definisi lainnya? Atau dia berharap diberi buku penjelasan?
Atau dia minta Gista menerangkan sesuatu seperti 'penyakit tidak bisa makan adalah penyakit yang menjangkit seseorang yang gila hingga dia tidak bisa makan dan harus menunggu kapan nyawanya tercabut' begitu?!
"AKU BILANG SAMA KAMU AKU ENGGAK BISA MAKAN! AKU ENGGAK BISA NELEN MAKANAN! AKU TERGANGGU SAMA BAU SEMUA HAL! PARFUM KAMU, SABUN MANDI, SAMPE RASA NASI PUTIH JADI SAMPAH! PERLU AKU JELASIN KAYAK GIMANA LAGI, HAH?! KAYAK GIMANA LAGI? INTINYA AKU ANEH, UDAH TITIK!"
Tubuh Gista tiba-tiba ditarik ke belakang, disusul sebuah kain tebal menutup mulut dan hidungnya.
__ADS_1
"Teteh."
*