
Tentu saja, Endra juga punya pertimbangan. Kalau Gista mengeluhkan sakit di kepalanya, terutama, lalu dia terlihat semakin lemah, lesu dan tidak berdaya, Endra jelas tidak akan menahan Gista di desa ini.
Dia butuh penanganan terbaik. Endra bersumpah bakal menemaninya sekalipun ifu berarti harus membawa Gista ke rumah sakit di Singapur.
Namun Gista terlihat lebih baik secara mental. Dia tidak pernah mengeluh kepalanya sangat sakit, atau badannya sangat lemas. Tidak juga terlihat ada tanda-tanda berbahaya.
Endra memastikan dia mengonsumsi makanan, Endra pun memastikan dia cukup mengonsumsi air. Endra memastikan juga vitamin Gista tersedia selalu, dan Endra memberinya seduhan obat herbal yang baik untuk regenerasi sel dan sarafnya.
Makanya Endra berani menahan Gista.
Kalau mau pergi, jangan sekarang.
Endra masih mau dia berada di sisi Endra hari demi hari kedepan.
*
Gista berlari masuk ke dalam kamarnya buat berteriak keras-keras menyesali teriakan tadi.
Kenapa dari semua hal konyol yang bisa ia lakukan, Gista malah berteriak seperti orang bodoh begitu?!
Dan Endra! Pria brengsekk itu jelas-jelas menertawakan Gista! Orang itu jelas-jelas tertawa kencang mendengar Gista!
Sekarang Gista merasa harus pulang. Detik ini juga pokoknya ia harus pulang demi kehormatannya!
Gista tidak boleh tinggal di tempat yang bahkan wajahnya pun sudah tak bisa ia tampakkan di sini.
__ADS_1
Maka, Gista menarik kopernya, bersusah payah turun ke bawah.
"Loh, loh, loh. Teteh mau ke mana?" Endra sekali lagi mencegahnya.
Tapi berbeda dari tadi Gista galau dan takut dia marah, sekarang Gista yang marah.
Dengan ketus ia menjawab, "Pulang."
"Lah? Teteh kan bilang mau—"
"SAYA BILANG ENGGAK MAU SAMA KAMU!" pekik Gista histeris, takut kalah Endra mengungkit-ungkit ucapannya tadi. "POKOKNYA SAYA ENGGAK MAU LIAT MUKA KAMU LAGI! SAYA ENGGAK MAU!"
Endra tercengang, tapi sejurus kemudian dia tertawa. "Ah, masa?"
Buru-buru ia menyeret kopernya pergi, bahkan mau lari saking tidak sudinya berada di sini.
Endra sudah sangat keterlaluan menyebalkan. Gista salah soal dia sangat baik hati! Itu dusta! Bohong! Tipuan yang tidak boleh dipercaya!
Endra cuma membuat orang lain nyaman lalu mengolok-olok mereka, seperti Gista.
Tentu saja, A Zaka yang menyaksikan drama tidak jelas itu cuma bisa memiringkan bibir sinis.
Dalam hati A Zaka harap Gista benar-benar pulang biar Endra menangis darah.
"Teteh, Teteh." Endra buru-buru menahan tangan Gista. "Bercanda saya mah. Teteh ih, mau langsung ninggalin. Nanti saya kangen gimana? Masa mesti lari-lari ke kota meluk Teteh?"
__ADS_1
Wajah Gista akhirnya merah sungguhan oleh emosi.
Tuh, kan! Dia mengungkit lagi waktu Gista lari padanya waktu itu!
Memang orang ini tuh! AAKKKKHHHH!
Tapi sebelum Gista bisa berteriak, Endra sudah memeluknya. Mengurung pemberontakan Gista di antara kedua lengannya yang melilit kuat.
"Yaudah, yaudah. Biar adil, saya ngomong malu-maluin juga." Endra bergumam kecil tapi masih cukup buat bikin A Zaka dengar.
Sumpah serapah A Zaka makin keras di kepala.
"Teteh," ucap Endra dengan nada serius tiba-tiba, "kalo Teteh ninggalin saya sehari aja, nanti saya enggak bisa napas. Soalnya Teteh separuh jiwa raga napas saya."
Daripada terdengar mempermalukan diri sendiri, lebih terdengar Endra sedang mengejek Gista.
Akhirnya, karena sudah sangat emosi, Gista melakukan tindakan anarkis yang diperintahkan otaknya.
Lengan Endra yang memeluknya Gista gigit tanpa perasaan.
"AAAAAAAAAKHHH!"
Rasain!
*
__ADS_1