Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
9. Nasehat Dokter Muda


__ADS_3

Endra ternyata tersenyum kecil. Lalu dengan tenang dia menjawab Gista.


"Saya jujur aja emang enggak tau Teteh kenapa. Tapi dari keluhan-keluhannya, kemungkinannya cuma ... ada infeksi, ada tumor, ada benturan atau psikosomatis."


".... Maksudnya?" Sepertinya dokter pernah bicara begitu juga tapi Gista tidak dengar sebab ia sibuk meratap.


"Di obatnya Teteh saya liat ada obat infeksi dikasih sama dokternya. Teteh udah minum sesuai resep tapi enggak ada perubahan, kan?" tanya dia hati-hati.


Gista mengangguk sebagai jawaban.


"Berarti kemungkinan bukan infeksi. Luka juga enggak ada. Enggak ada benturan, kan? Sama sekali?" celoteh Endra dengan nada ringan, tapi tegas dan tertata.


Karena Gista sudah bertemu tiga dokter—empat jika dihitung dokter umumnya—maka Gista harus bilang Endra cuma kurang jas putih dan lisensi resmi.


Dia benar-benar seperti dokter. Ramahnya, senyumnya, nadanya, tatapannya.


"Enggak ada," jawab Gista pun lebih tenang, tidak emosional seperti kemarin.


"Kemungkinan lainnya tumor." Endra pun menjelaskan perlahan. "Tapi tumor itu gejalanya ada. Bertahap. Biarpun misal ada kasus yang gejalanya enggak kerasa, tapi enggak cling, langsung muncul. Enggak ujug-ujug muncul dan tiba-tiba. Berarti kemungkinan bukan tumor juga."


".... Berarti emang gila?" Gista bertanya putus asa.


"Teteh emang ngerasa kalau masalah psikologis itu cuma gila? ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) maksud saya."


Gista merenung. Sebagai kaum well-educated—setidaknya di lingkungannya—Gista tahu bahwa sakit mental itu bukan berarti gila.

__ADS_1


Ia juga tahu psikosomatis itu apa. Singkatnya, psikosomatis itu situasi di mana Gista merasa sakit karena kondisi psikologis. Secara fisik sebenarnya tidak ada, namun ia mengira ada dan merasakannya.


Tapi sebenarnya ia juga ragu, karena Gista baik-baik saja secara mental sebelum menderita penyakit ini.


Semua datang tiba-tiba.


Serius, tiba-tiba.


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Ia membuat makanan, lalu saat memakannya, tiba-tiba rasa makanan itu jadi aneh. Padahal beberapa jam sebelum itu, Gista makan makanan kecil dan tidak ada masalah.


"Enggak ada yang kayak saya."


Perasaan sedih itu muncul lagi. Gista menunduk. Memegangi roti yang baru secuil bisa ia makan itu.


"Enggak ada yang sakit kayak saya. Orang lain cuma anosmia, saya enggak tau kenapa."


"Ayah saya bilang enggak ada yang kayak saya. Saya gila."


"...."


"Saya gila," ulang Gista, hilang arah.


"Kalau saya bilang enggak, gimana, Teh?"


Gista mengusap matanya yang basah lagi ketika mendongak.

__ADS_1


Latar kebun teh dan suasana sejuk di bawah pohon rindang itu entah kenapa membuat Endra nampak ... nampak memikat.


Dia tersenyum tenang. Terlihat tulus saat mulai berkata, "Teteh coba dengerin saya dulu."


Halus banget, batin Gista spontan, pada nada dan senyum Endra.


"Biasanya, Teh, kalau orang enggak tau apa-apa itu emang cepet jatuhin vonis."


Gista adem melihat Endra berceloteh karena kehalusannya itu.


"Teteh tau enggak sih kalau hati kita tuh rusak yah—liver, maksud saya, kenanya bisa ke mana-mana. Mata, kulit, muka, sakit A, B, C, padahal masalahnya di livernya, hatinya. Kalau diliat sekilas, orang misalnya mukanya kuning, awam kan enggak mikir 'oh, ini ada masalah hati'. Mereka mikirnya 'kurang gosok kayaknya pas mandi'."


Susah untuk tidak tertawa. Dia menjelaskan sambil membumbui dengan candaan. "Emang gitu?"


"Iya, Teh. Orang yah, Teh, kalo sering mager ada kemungkinan livernya bermasalah. Sering ngantuk, sering capek padahal enggak ngapa-ngapain banget. Dikira kurang makan, eh hatinya rusak."


Endra tersenyum melihat Gista juga ikut terhibur.


"Hatinya—livernya protes, istilahnya, ngasih kode ke badan. Nih, harus diobatin, harus diistirahatin biar baik lagi. Makanya muncullah berbagai macam gejala. Gitu, Teh."


Pemuda tampan itu terus berbicara.


"Tapi orang-orang kan enggak tau. Dikiranya mereka kalau liver rusak, ya muntah darah, atau sakit secara fisik di bagian liver kali yah orang ngiranya? Harus sakit dibagian itu gitu baru dibilang itu yang bermasalah. Padahal enggak."


Gista mengangguk lagi. Menyimak baik-baik.

__ADS_1


"Emang gitu, Teh. Orang-orang bakal menilai dari apa yang keliatan doang," ucap dia lembut. "Jadi, kalau Teteh dikatain A, B, C, D sama orang ya, yaudah, soalnya dia enggak paham. Emangnya ada dokter bilang Teteh gila?"


*


__ADS_2