Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
12. Pemeriksaan


__ADS_3

Gadis itu bergerak canggung dengan nampan makanan di tangannya. Mungkin dia tidak sengaja membuka pintu tiba-tiba tanpa pemberitahuan, hingga sekarang dia malu dilihat oleh orang asing seperti Gista.


"Anu, A. Mamah nyuruh bawain makan," katanya malu-malu.


Endra menatap Gista sejenak sebelum dia meringis. "Puasa, Dek. Enggak usah."


"Oh." Dia langsung kecewa dan merasa bersalah. "Maaf, A. Enggak tau."


"Iya, enggak pa-pa."


Wajahnya terlihat pucat. Mungkin dia sakit? Atau karena memang dia putih? Gista agak memerhatikan. Sekali lihat juga langsung bisa paham kalau cewek ini suka pada Endra.


Kelihatan masih muda. Badannya tidak kurus, berisi namun nampak sehat dan cantik.


Kembang desa pasti.


"Oiya, Dek, sekalian aja. Aku minta tolong ambilin sesuatu."


"Iya, A, boleh."


Endra beranjak, datang ke sana untuk berbisik.


Perasan Gista agak aneh waktu melihat jarak mereka. Spontan ia memegang tenggorokannya, mau muntah untuk alasan yang sepenuhnya bukan bau.


Tidak. Mungkin lidahnya saja sedang bermasalah. Air liurnya sendiri sudah cukup membuat Gista mau muntah jadi pasti karena itu. Bukan karena yang lain-lain.


Gila saja kalau ia terganggu cuma karena Endra dekat dengan orang lain.


Demi Tuhan, Gista baru bertemu dia kemarin!


"Teh." Endra datang mendekati Gista yang spontan terkesiap. "Boleh enggak saya tutup matanya sebentar? Sebentar aja."


"Buat apa?" Gista jelas terkejut.


"Nanti saya jelasin enggak pa-pa, yah? Sumpah, saya enggak ngapa-ngapain. Cuma periksa sebentar aja."


Padahal Gista tidak keberatan juga. Ia tahu orang ini baik dari kemarin. Cuma refleks saja Gista bertanya.


Kelopak matanya ia tutup, lalu Endra datang memasangkan sesuatu. Sepertinya itu semacam kain hitam yang dia ikatkan kuat-kuat menutupi kelopak mata Gista.


"Keliatan, Teh?"

__ADS_1


"Agak."


"Saya tambahin, yah. Sampe gelap. Enggak boleh liat apa-apa. Teteh juga tutup mata aja. Tutup aja."


Entah kenapa ini agak familier. Jangan bilang ....


"Udah, Teh?"


"Iya, gelap." Gista mengunci semua penglihatannya dibalik balutan kain tebal itu. Ia pun menutup mata dengan patuh sesuai permintaan Endra.


Gista rasa ia tahu apa yang mau dia lakukan.


"Sekarang saya tanya, yah," ucap Endra ramah. Disusul perasaan dia mendekatkan sesuatu ke mulut dan hidung Gista. "Ini apa?"


Jadi tes, kah? Sesuai dugaan Gista.


Gista sudah mengalaminya juga. Tiga kali mengalami, lebih tepatnya. Dokter akan menutup mata Gista, lalu menyuruhnya mencium aroma kopi, gula dan teh saat matanya tertutup.


Fungsi penutup mata itu adalah agar Gista tidak mengarang-ngarang keluhannya tentang sesuatu, dan dokter pun memastikan secara yakin bahwa penciuman Gista memang benar-benar bermasalah.


"Ikan." Itu yang Gista jawab saat entah apa itu disodorkan oleh Endra.


"Ikan? Baunya amis kayak ikan, Teh?" tanya Endra penuh kesabaran.


"Saya enggak tau deskripsiin." Gista bergumam, mengutarakan secara jujur. "Itu sebenernya bukan bau ikan beneran, tapi amis. Saya enggak pernah cium bau kayak gini seumur hidup."


"Oke. Jadi intinya Teteh enggak tau baunya apa tapi kira-kira mirip itu, yah?"


"Iya. Pokoknya amis. Enggak enak."


"Amis, yah. Kalau ini?" Endra mengganti sesuatu itu dengan hal lain.


"Pait." Gista menciumnya. "Pait tapi amis juga. Agak mendingan dari yang tadi."


"Kalau ini?"


"Amis."


"Ini?"


"Pait kayak yang tadi."

__ADS_1


"Kalau ini?"


".... Amis juga cuma beda. Samar gitu baunya."


"Ini gimana?"


"Enggak ada baunya."


"Kalau ini?"


"Busuk."


"Oke." Endra nampaknya bergerak sejenak sebelum dia kembali bersuara. "Saya suapin sedikit, yah, Teh. Rasain aja sedikit. Kalau mau muntah langsung bilang. Oke?"


"Oke."


"Saya suapin, yah."


Gista membuka mulutnya. Merasakan sesuatu yang lagi-lagi membuatnya trauma. "Gula."


"Rasa gula, Teh?"


"Enggak. Rasanya kayak daging busuk. Tapi saya inget, saya rasain gula kemarin begini."


Endra agak tertawa kecil. "Minum dulu." Dia membantu Gista membilas mulutnya dengan air. "Air berasa, Teh?"


"Kadang kayak besi."


"Oke. Air juga. Kalau ini?"


Gista tahu rasanya. Rasa pekat pahit namun tengik ini kopi. Karena dokter juga menyuapinya kopi sambil bertanya bagaimana rasanya.


Kopi, gula, teh, sesuai dugaan Gista. Pasti itu yang Endra pegang.


Kebanyakan rasanya amis dan menjijikan, dan Gista cuma bisa mengenali satu rasa, yaitu rasa jeruk nipis yang super kecut.


"Kecut ada, yah. Tapi manis bermasalah."


Endra terdengar bingung lagi. Sama seperti dokter yang Gista dengar kemarin-kemarin.


*

__ADS_1


__ADS_2