Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
41. Harus Tanggung Jawab


__ADS_3

Gista pasti sudah gila. Tidak, kata Ayah, ia memang gila.


Tapi gila pun gila, lah. Terserah pada bagaimana orang melihatnya.


Karena begitu ia memeluk Endra yang bersimbah keringat itu, Gista sedikitpun tidak peduli soal mual atau ingin muntah. Gista tak peduli soal penciumannya membuat segala sesuatu jadi terlalu sampah untuk ditoleransi, karena yang ia pedulikan cuma satu.


Satu-satunya yang ia peduli adalah hatinya berhenti gelisah.


Cuma dia obat bagi Gista.


Cuma dia.


Cuma Endra.


Cuma dia yang membuat Gista berhenti merasa dunia menekannya.


"Saya kangen kamu."


Gista mau dia tahu.


Sangat mau dia tahu bahkan kalau nanti ia menyesal, malu, atau bahkan diledek macam-macam lagi.


Pokoknya Endra harus tahu dan harus selalu tahu. Dia harus, harus, sangat harus tahu bahwa dia segalanya bagi Gista.


"Jangan jauh-jauh. Saya enggak bisa. Saya kangen kamu."


Walau berkata begitu, Gista malah kaget merasakan pelukannya terbalas.


Endra tiba-tiba memeluknya jauh lebih erat, jauh lebih lekat. Debaran jantungnya terasa jelas di telinga Gista. Napas Endra pun terdengar berat.


Tak tahu kenapa, Gista merasa justru Endra memeluknya dengan perasaan yang jauh lebih besar. Tapi itupun membuatnya jauh lebih tenang.

__ADS_1


"Teteh mesti tanggung jawab," gumam Endra. "Pokoknya harus tanggung jawab."


Tanggung jawab? Tanggung jawab apa yang dia maksudkan?


"Teteh kira bisa segampang itu bilang kangen?"


Endra makin menguatkan pelukannya sampai Gista jadi sesak napas. Tapi Endra seperti tidak sadar, tetap memeluk Gista sangat erat.


"Mulai sekarang jangan lepasin. Saya enggak bakal mau. Awas aja kalo lepas. Teteh saya masukin ke penjara. Saya kunciin di kamar saya biar enggak ke mana-mana. Awas aja. Kalo perlu saya iket biar Teteh enggak pergi-pergi."


Eh?


Endra malah meletakkan bibirnya di puncak kepala Gista, menciumnya sangat jelas.


"Saya sayang sama Teteh. Sayang banget."


Gista mengerjap. Cengo dibuat.


Jadi yang kemarin dia ucapkan itu serius? Soal dia suka Gista?


Tapi ... tapi kan mereka baru bertemu. Gista mungkin memang murahan tapi kan dia—


"Teh, mau nikah kan sama saya?"


Tenggorokan Gista seperti dijejali batu.


Gadis itu terbatuk-batuk menepuk dadanya, langsung berjongkok setelah bebas dari pelukan Endra.


Wajah Gista serasa sedang dipanasi oleh uap. Tidak siap akan pertanyaan semacam itu.


Kenapa dia malah mengatakan hal memalukan tiba-tiba?! Lagipula mereka baru bertemu dan dia malah mau langsung menikah?!

__ADS_1


"Om, aku lamar Teteh-nya enggak pa-pa, kan?"


Ada omnya?! Kenapa dia tidak bilang ada omnya?!!!!!!


Gista makin terbatuk, makin tidak bisa bangun dari posisi berjongkok. Malunya tidak usah ditanya. Apalagi pelan-pelan kewarasan Gista ikut berkumpul.


Kenapa tadi Gista tidak memerhatikan sekitaran, sih! Tunggu, kalau dipikir lagi, ini rumah tantenya. Berarti tantenya Endra juga—


"Teh, nikah, yah?"


Gista jatuh berlutut dari posisi jongkoknya. Ia merasa mau terkubur sekarang saking malunya.


"Teh? Teteh sakit?"


"Kamu yang sakit!" Gista menyahut jengkel, tapi menerima uluran tangan Endra agar berdiri. "Lagian ngaco apa sih kamu? Saya kan cuma bilang—"


"Enggak mau?"


Gista menggertak giginya, tak dapat berkata tidak karena sebenarnya mau.


Murahan, kan? Yasudahlah, murahan.


Tapi sekarang Gista merasa mau diajak terjun ke jurang pun ia mau asal bersama Endra. Ke mana pun asal Endra ada.


"Ma-mau."


Tidak seperti biasa yang tenang, Endra mengepal tangan di udara sambil berbisik, "Yes!"


Walau kemudian momen itu dipatahkan dengan deheman dari omnya Endra.


*

__ADS_1


__ADS_2