
Endra yakin kalau Tante Inah pasti bakal mengadu ke Om-nya soal Endra bicara kurang ajar. Bagaimanapun, Endra memang menekankan fakta bahwa ia jauh lebih pintar, lebih berpendidikan dan lebih patut bicara daripada tantenya yang tidak berpendidikan dan hanya tahu menuntut.
Endra sadar kalau ia mengatakan hal yang kurang ajjar dan termasuk hal yang tercela.
Makanya Endra tidak kaget ketika Pak Hanung mencarinya ketika malam hari.
Beliau datang seperti sedang bertamu, basa-basi sedikit mengenai transaksi tadi, sebelum akhirnya masuk ke topik pembicaraan.
"Tantemu bilang kamu ngomong kasar, Sen."
Endra menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Mau bilang ia tidak berbuat salah, Endra tahu sebenarnya itu salah. Tapi mau bilang ia mengaku salah, Endra juga merasa ia tak benar-benar salah.
Di mata Endra, Tante Inah juga berbuat salah. Kesalahan fatal baginya malah.
"Aku cuma enggak bisa denger kalo Tante ngomong begitu, Om," ucapnya berusaha tidak membela diri juga tidak terlalu menyalahkan.
"Ya kenapa? Maksud Om, kamu tersinggung Tantemu jelekin Neng Gista?"
A Zaka diam-diam menyimak pembicaraan itu, sama seperti Juli yang tidak begitu mengerti duduk permasalahan.
Dari sudut pandang orang lain, Endra seperti sedang melawan keluarganya cuma buat perempuan asing yang baru dia temui sebulan terakhir.
__ADS_1
Pasti begitu pikiran mereka semua. Bahkan Endra dibutakan perasaan cinta pada Gista makanya Endra tidak bisa kalau Gista sedikit saja dihina.
Padahal tidak. Padahal bukan itu masalah Endra.
"Bukan, Om. Aku teh enggak marah karena Tante ngomongin Teteh begitu." Endra membantahnya lembut tapi tegas. "Iya, aku marah kalau Tante ngomong jelek soal Teh Gista. Tapi kalo cuma begitu, aku enggak bakal ngelawan sampe bikin Tante sakit hati."
Endra akan lebih memilih diam dan setidaknya tidak membiarkan Gista dengar agar dia tidak sakit hati. Soalnya, mulut Tante Inah juga tidak bisa Endra kontrol semau hati. Begitu pula semua orang.
"Terus kenapa? Coba perjelas biar Tantemu enggak salah paham."
Endra menghela napas. Bahkan ia sudah merasa marah hanya dengan memikirkannya.
"Tante tuh bilang kalau Teh Gista itu enggak sakit, dia cuma pura-pura sakit biar aku peduliin."
Endra langsung menggeleng-gelengkan kepala melihat ternyata omnya pun tidak mengerti. Bahkan Endra menoleh ke A Zaka dan Juli, berharap setidaknya melihat ekspresi mereka mengerti tapi ternyata juga tidak.
Jadi begitu.
Jadi karena itulah Gista putus asa.
Ada begitu banyak orang yang tidak mengerti di dunia ini. Orang yang memandang segala sesuatu begitu sederhana padahal serius.
__ADS_1
"Aku ngomong sebagai orang yang sadar kalau kesehatan itu penting." Endra bahkan menekan suaranya agar semua orang mendengar jelas dan mengerti betul duduk permasalahan ini bukan soal Endra membela Gista.
Bukan soal Endra tidak bisa tahan Gista dihina.
Bukan soal itu, demi Tuhan.
"Ada banyak orang sakit di luar sana, Om, yang awalnya mungkin cuma sakit kepala. Mungkin awalnya dia cuma sakit kepala, cuma sakit kepala, karena sesuatu yang sepele, tapi muncul orang-orang yang seenak hati bilang kalau itu bukan sakit kepala, itu cuma caper. Kalau orang yang sakit kepala itu denger, udah ada kemungkinan lima puluh persen dia bunuh diri."
Ekspresi Pak Hanung langsung mendung.
"Aku enggak ngomong gini karena aku milih Teteh daripada Tante. Teteh Gista itu sakit yang tiga dokter saraf enggak bisa nyebutin spesifiknya apa. Om ngerti kan maksudnya? Tiga dokter saraf yang sekolah kedokteran dulu, koas dulu, jadi dokter umum dulu baru dia kuliah lagi biat dapet gelar dokter spesialis. Dokter yang ngabisin waktunya bertahun-tahun buat belajar enggak bisa nyebutin sakit Teteh apa."
Suara Endra tanpa sadar sudah memenuhi ruangan.
Membuat semua orang diam dan terfokus memandangnya.
"Tiga dokter yang tiga jam terbangnya beda-beda tetep enggak bisa ngasih kepastian sakitnya apa. Sampe Teh Gista udah ngerasa kalau Tuhan emang sengaja mau bunuh dia secara enggak langsung. Pake sabun mandi enggak bisa, pake odol enggak bisa, keringetan sedikit pun enggak bisa."
Urat-urat di kening Endra sampai bermunculan.
"Dan Tante seenaknya bilang 'itu bukan sakit, itu cuma caper'. Om, pertanyaan aku, Tuhan yang mau bunuh Teh Gista atau Tante?"
__ADS_1
*
Tinggalin like kalian sebagai bentuk dukungan karya author, yah 😊