Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
85. Goals Bersama


__ADS_3

Sementara Gista tersiksa di rumah Endra, pada malam yang sama, Yura tersiksa mendengar suara Mamah memarahinya.


"Malu Mamah, Yura, satu kampung ngomongin kamu. Diketawain Mamah sama ibu-ibu. Kamu itu dari lama dijodohin sama Gasen, tapi kamu taunya dieeeeem aja Gasen gandeng-gandeng perempuan lain! Gimana sih kamu?!"


Yura tidak tahu di mana salahnya.


Bagaimana ia memaksa Endra melihat dirinya dan bukan Gista?


Salah satu teman sekolah Yura yang ada di rumah Teh Gina tadi bahkan memberitahunya kalau Endra dan Gista terlihat seperti suami istri baru menikah.


Mereka lengket luar biasa. Endra perhatian luar biasa.


Katanya, Gista ditemani ke kamar mandi buat cuci muka, cuma karena dia berkeringat. Lalu, waktu di kebun, Endra menghalau matahari dari Gista dengan tangannya sendiri karena katanya Gista pusing.


Semua orang mengatakan kalau mereka berlebihan, tapi semua orang juga mengatakan kalau pesona Yura kalah dari orang kota yang kurus.


Seolah-olah itu salah Yura. Seolah-olah Yura bisa mengubah situasi.


"Pokoknya Mamah enggak mau tau! Kamu mesti nikah sama Gasen! Titik! Mamah enggak mau tau!"


"Tapi, Mah—"


"Ya kamu usaha!" Mamah membentak keras saking emosinya.


Sebenarnya Yura merasa Mamah bukan cuma malu pada kata orang atau kasihan Yura ditinggal Endra, tapi Mamah lebih tidak terima karena kemauannya kalah dari kemauan Endra.


"Kamu usaha gimana caranya Endra milih kamu! Kamu itu lebih cantik dari perempuan enggak jelas itu! Kamu lebih ada isinya daripada dia! Kamu udah punya begini masa masih aja malah sama perempuan kurang makan begitu!"


Yura menunduk, berusaha tidak menangis.

__ADS_1


Jika saja ada ayahnya, paling tidak Mamah tidak akan berteriak begini. Tapi ayah Yura tadi berangkat ke kota bersama kawannya, sekalian juga bertemu keluarga di sana.


Makanya sepanjang malam, Mamah puas-puas merongrong Yura agar melakukan segala cara mendapatkan Endra.


Harus Endra.


*


Sepanjang malam setelah itu, Endra termenung di kamarnya memikirkan situasi Gista.


Setelah Gista muntah-muntah tadi, Endra tidak bisa memaksanya lagi karena sudah nampak jelas bahwa Gista belum bisa terlalu dipaksakan.


Dan itu juga sekaligus membuktikan bahwa kondisi Gista lebih parah dari yang terlihat.


Endra berusaha memikirkan setidaknya apa yang menjadi masalah.


Sebenarnya apa?


Ataukah itu virus? Namun jika itu virus, seharusnya ada satu dua kasus serupa.


Toktok.


"Ini aku, Sen." Pintu kamar Endra terbuka, memunculkan sosok A Zaka yang nampaknya baru mandi malam. "Gimana?"


"Apanya, Kang?" Endra sudah tahu dia bertanya apa tapi tetap memastikan.


"Ya itu, Neng Gista. Itu gimana?"


A Zaka bertanya dengan nada serius yang jarang dia keluarkan.

__ADS_1


"Itu kayaknya enggak bisa ditanganinya sama kamu lagi, Sen. Perlu ke rumah sakit itu."


Endra terdiam.


"Ini bukan masalah kamu mau tanggung jawab kalau ada apa-apa atau gimana. Kasian, Sen, anak orang. Dia makan aja nangis. Udah puncak penderitaan itu kalo gitu."


"Kalo ada apa-apa terus telat ditanganin, ya tanggung jawabnya mau gimana juga?"


Endra tahu.


Ia sadar akan hal itu setelah melihat Gista muntah parah karena memaksakan diri makan.


"Anterin ke rumah sakit. Panggil keluarganya. Udah diluar kemampuan kamu yang begini. Jangan dipaksain."


Endra mengacak rambutnya frustrasi.


Ya, A Zaka benar. Endra tidak boleh terlalu egois sampai mengurung Gista di sini, padahal dia butuh penanganan dokter.


Endra justru harus mendukungnya.


"Iya, Kang." Endra menjawab lemah. "Besok tolong siapin mobil. Kita anter ke rumah sakit."


A Zaka mengangguk setuju, langsung pergi begitu saja setelahnya.


Tidak boleh begini, pikir Endra gelisah. Ia tak boleh terlalu takut sampai kesannya Gista bakal hilang kalau Endra bawa dia ke rumah sakit.


Goals mereka bersama adalah menyembuhkan penyakit Gista.


Setelah itu baru pernikahan.

__ADS_1


*


__ADS_2