
Bukan membetulkan kompres Gista, Endra menyingkirkan itu. Dia lalu mengambil kantong plastik berisi stiker kompres demam untuk ditempelkan ke kening Gista.
Tak lupa dia menyerahkan jeruk yang belum dikupas ke tangannya.
“Bauin dulu coba, Teh," kata Endra, dengan maksud agar Gista tidak terlalu trauma lagi.
Gista menciumnya. Tersenyum samar menghirup aroma khas jeruk yang wangi dan normal.
Paling tidak, masih ada satu yang bisa ia anggap wangi di dunia ini sekarang.
Ya, Gista masih bisa mensyukuri itu.
*
Gista sedang tidur dengan buah jeruk menempel di dekat mulut dan hidungnya saat samar-samar mendengar suara Endra.
Meski merasa lemas bangun, Gista memaksakan diri mengecek ada apa.
Dari balkon kamar ia bisa melihat Endra sedang bicara dengan seseorang, memakai logat sunda yang kental sambil menunjuk-nunjuk ke arah rumah mereka.
Biarpun awalnya tak paham ada apa, Gista mulai paham ketika Endra pergi memadamkan api di rumah tetanggannya yang sedang membakar sampah.
Ah, dia tahu Gista tidak bisa kena asap dulu, kah?
__ADS_1
Manis sekali. Bagaimana ibunya membesarkan laki-laki semanis itu?
Apa karena dia tinggal di desa yah makanya dia masih punya akhlak dan tidak egois? Beda dari di kota, kondisi lingkungan di desa lebih kental akan persaudaraan dan kekeluargaan, kan?
Walau mungkin juga bukan karena itu.
Gista memandanginya dari balkon. Bagaimana Endra dengan sukarela mengangkut sampah itu ke tempat lain, lalu bantu membetulkan pagar tetangganya yang dipenuhi rerumputan liar menjalar.
Dia cekatan sekali bekerja. Melakukan apa saja nampaknya bisa. Katanya sih anak kedokteran memang cerdas-cerdas, tapi memang bisa melakukan segalanya?
Atau hanya orang tertentu?
Entahlah. Lama Gista melihat dia, sampai kemudian gadis bernama Yura itu terlihat mendekat dari kejauhan, datang membawa sebuah rantang makanan berukuran besar.
Tapi, dia juga terlihat ... entahlah, lugu?
Endra menerima rantang makanan dari gadis itu lalu mengatakan sesuatu. Dia beberapa kali tersenyum manis, namun samar-samar terlihat canggung dan tidak nyaman.
Kayaknya cinta Yura bertepuk sebelah tangan. Dari yang terlihat, Endra menghindari kontak berlebihan dengan gadis itu.
Duh, masa Gista senang? Harusnya ia kasihan pada Yura.
Lagipula mau Endra tidak suka Yura juga belum tentu dia bisa suka Gista.
__ADS_1
Oke, maksud Gista, dia pasti punya kehidupan pribadinya sendiri dan dia .... Intinya itu bukan urusan Gista.
Bukan urusannya.
*
"Aa udah kenal lama sama Teteh-nya?"
Endra mungkin harus mengatakan tidak karena nyatanya memang tidak.
Apa yang ia lakukan cuma menolong. Kebetulan saja dia mengalami sesuatu yang tidak banyak dialami orang lain, dan kebetulan Endra juga paham.
Sekali lagi, Endra memang harus berguna buat sesama biar tidak hidup cuma buat jadi fosil di masa depan.
Ketika seseorang demam, mereka tidak seputus asa itu, kan? Karena semua orang juga demam.
Anak bayi juga demam, atlit tinju saja bisa demam. Presiden demam, dokter juga demam. Semua orang mengalami hal sama.
Namun apa yang Gista alami masih dalam proses diagnosis karena jarang ditemukan penyakit sepertinya. Wajar saja kasihan melihat dia frustrasi, kan?
Endra harusnya bilang begitu ketika ia tersenyum dan tahu bahwa Yura akan salah paham.
Tahu kalau Yura bakal berpikir Endra sudah kenal lama, sangat amat peduli diselipi perasaan khusus.
__ADS_1
*