
"Maap-maap aja, Teh, soalnya saya juga pernah di kota. Peduli sampe ngorbanin diri jarang ada."
Iya, sih. Suasana di tempat ini rada mengubah sudut pandang. Walau tidak sepenuhnya, Gista merasakan memang ada perbedaan dalam interaksi.
Tapi ia tak boleh mengakui langsung bahwa mungkin yang mengubah itu adalah Endra sendiri.
Seperti bagaimana dia membuat jantung Gista berdebar-debar, padahal mereka baru bertemu kemarin. Dan bagaimana dia membuat Gista jadi mau memeluknya—maksud Gista, jadi merasa lebih baik meski tengah sakit.
"Ohya, Teh."
Endra membuka suara ketika motornya sekali lagi berhenti di depan rumah tantenya.
"Tadi di pengantin baunya kecium enggak? Soalnya tadi kayaknya saya juga cium banyak bau. Orang-orang lagi pada masak di belakang."
"Iya." Gista lagi sibuk meredakan debaran jantungnya yang masih terlalu kencang.
"Jadi enggak bisa yah Teh dateng?"
"Emangnya kenapa?" Kesannya dia mau Gista datang. Ekspresinya malah kelihatan kecewa, sedikit.
Atau Gista yang kegeeran?
"Enggak, sih." Endra menggaruk tengkuk, canggung. "Saya cuma nebak, mungkin Teteh bakal terhibur kalo ke tempat rame."
Dalam situasi sekarang, itu tidak. Tapi entah kenapa Gista tidak mau mengatakannya dan tersenyum berkata hal lain. "Yaudah, saya pergi sama kamu kalau boleh."
__ADS_1
Memang Gista sudah gila. Padahal tahu bakal tersiksa, kenapa malah tersogok cuma karena Endra manis?
*
"Kamu."
Gista mengangkat wajah dari memandangi tanah perkebunan ke arah suara itu berasal. Ibunya Yura alias tantenya Endra berdiri di sana, menatap dengan sorot mata tak senang yang jelas.
"Sini!"
Tidak sopan sekali. Meski dia orang tua, bukankah kalau dia memanggil orang setidaknya harus dengan kesan baik? Masa dia memanggil orang seperti memanggil anjingnya yang jauh buat mendekat?
Meski begitu, Gista putuskan tetap ke sana. Daripada panjang.
"Iya, Bu?"
Dia langsung melayangkan pertanyaan bernada menusuk.
"Kamu dateng ke sini buat apa? Ngekos di sini buat apa?"
Gista harus jawab apa? Ia datang ke sini tidak sengaja, pingsan di lapangan setelah kabur dan depresi akan penyakitnya. Bukan juga ia niat ke sini karena tahu ada Kang Dokter kesayangan warga di sini.
Oke, kalau tahu, Gista bakal lebih cepat datang. Tapi intinya, ia tak datang buat menggoda Endra kalau memang itu yang bibinya kira.
Sepertinya memang itulah yang dia kira.
__ADS_1
"Kamu yah, gara-gara dateng ke sini, Gasen diomongin satu kampung hamilin anak orang. Kalau kamu sakit, kamu ke dokter, bukan nyusahin Gasen."
Gista menunduk. Perasaannya langsung tidak enak mendengar perkataan semacam itu.
"Orang tua kamu mana? Pulang sana ke orang tuamu. Bukan tinggal di sini minta diusurin Gasen. Atau kamu beneran hamil anak dia?"
Kenapa yah orang-orang selalu melakukan ini? Kenapa gitu suka sekali menyakiti sesama?
Kesannya dia bilang Gista berbohong bahwa ia sakit.
Itu membuat Gista getir. Ia mungkin berharap dirinya bohong saja. Karena ... ia lapar. Ia benar-benar lapar dan merindukan berbagai makanan.
Gista sudah lupa rasa bakso bagaimana. Gista sudah lupa enaknya nasi goreng apa. Bahkan, Gista penasaran bagaimana rasanya makan buah yang benar-benar segar, bukan cuma sebutir jeruk.
Gista juga merindukan rumah dan orang tua yang ibu ini singgungkan padanya.
Dipikir aku mau begini? Gista mengepal tangannya kuat-kuat tapi diam.
Ketika Bu Inah mengoceh tentang harusnya ia ke dokter, ke rumah sakit, dan ke orang tuanya, Gista diam saja.
Diam adalah caranya menolak seseorang. Dan ia tak tahu harus melawan orang tua seperti apa.
Setelah dia puas mengomel, dia kembali bertanya.
"Pulang yah kamu? Jangan tinggal di sini. Enggak usah ngekos di sini. Lagian kamu jalan-jalan di kampung pake baju ketat begitu, kamu kira ini kota? Kamu kalau cocoknya di kota ya tinggal aja di kota."
__ADS_1
*