
Sakit kepala Gista sudah reda ketika ia bangun. Gista pun tidak terlalu merasa sakit di anggota tubuhnya yang lain. Malahan, Gista merasa lebih baik, segar dan semangat.
Cuma, Gista lapar. Agak sedikit lebih lapar dari biasanya hingga Gista beranjak dari ranjang, pergi mengambil beberapa butir jeruk di keranjang atas meja.
Gista mengupas kulit-kulit jeruk itu, lalu memakannya dengan lahap satu per satu. Mungkin karena kemarin ia muntah banyak, Gista benar-benar lapar.
Biasanya di pagi hari Gista harus memaksakan diri agar bisa menelan tiga butir jeruk, tapi kali ini tanpa paksaan Gista malah makan lima buah jeruk.
Itupun Gista masih lapar.
Tapi lidahnya mulai tidak bisa menahan perubahan rasa di mulut hingga Gista putuskan beristirahat. Minum air banyak-banyak sebagai penolong.
"Loh, Teteh udah makan?"
Seperti biasa, Endra datang pagi-pagi membawakan ramuan herbal pada Gista.
"Iya." Gista tersenyum kecil. "Saya laper banget, enggak tau kenapa. Tapi udah kenyang."
Endra ikut tersenyum senang mendengarnya.
Karena Gista duduk di lantai, Endra pun ikut duduk. Memberikan gelas seduhan kunyit, jahe, jeruk nipis dan ketumbar itu. Tapi karena Gista masih kenyang, seduhannya ditepikan dulu.
"Teteh gimana? Masih enggak enak badan?"
Gista menggeleng. "Enggak pa-pa. Laper aja tadi. Kayaknya enggak sakit juga, deh. Coba pegang."
Endra mengulurkan tangan ke leher Gista, mengecek suhunya sekaligus mengecek denyut nadi di leher Gista.
"Enggak ada keluhan sama sekali yah, Teh?" tanya dia seolah memastikan.
"Iya." Gista menjawab bersama senyum manis. Biarpun kemarin ia muntah-muntah, Gista merasa sangat baik karena tahu hari ini ia pasti bertemu Endra, ia pasti diperhatikan oleh Endra.
"Baunya juga udah ilang?" goda Endra setengah bercanda.
Beda dari awal di mana Gista merespons dingin candaan semacam itu, sekarang Gista bisa tertawa.
__ADS_1
"Masih. Tangan kamu masih bau sabun."
Endra pura-pura cemberut. "Kalo bau sabun berarti di Teteh baunya enggak enak. Berarti saya bau, dong? Masa pacar Teteh bau?"
"Ya enggak pa-pa." Gista mencium kilat tangan Endra yang masih di pipinya. "Asal kamu enggak pa-pa."
Bibir Endra bergetar. Memang kadang-kadang tuh Gista bisa tidak tahh malu membuat orang malu.
Malah masih pagi juga. Masa debaran konser jantung Endra harus dimulai pagi-pagi buta begini?
Tidak bisa dibiarkan. Endra tidak boleh kalah dalam hal menggoda. Masa dirinya sebagai laki-laki yang jadi pihak dirayu?
Harus sebaliknya.
"Teteh."
"Iya?"
"Peluk?"
Tapi ekspresi Endra yang mendadak melas bikin Gista greget sekaligus gemas. Pada akhirnya Gista terkekeh, agak malu tapi sangat amat mau memeluk Endra.
Mata keduanya terpejam meresapi rasa nyaman satu sama lain. Endra sebagai laki-laki sangat amat menikmati pelukan dari lawan jenis, dan Gista sebagai perempuan sangat menyukai sentuhan penuh kasih sayang.
Rasanya mereka tidak mau semua ini berakhir.
Bahkan buat melepas pelukan itu, rasanya sulit dan menyebalkan.
"Saya sayang Teteh." Endra berbisik, tak menyembunyikan perasaannya. "Sayang banget sama Teteh."
Wajah Gista terasa panas saat ia ikut tersenyum lebar. Wajahnya terkubur di bahu Endra, menikmati elusan kecil di punggungnya.
"Teteh sayang saya, kan? Iya kan, Teh?"
Gista mengangguk. "Banget." Luar biasa sayang bahkan.
__ADS_1
"Teteh," panggil Endra lagi, padahal dia bisa langsung bicara.
"Apa?"
"Panggil sayang, dong."
"Ogah." Gista langsung melepaskan pelukan. Kali ini tidak bisa melawan malu dan gengsinya.
"Dih, Teteh jahat banget. Nolaknya langsung ogah. Ngenes pisan nasib si Endra, mah."
"Ogah, kamu aja enggak pernah." Gista melipat tangan, semakin dikuasai gengsi.
"Oh, Teteh mau dipanggil sayang? Yaudah deh saya panggilnya sayang mulai sekarang."
Bibir Gista cemberut seakan meledek, padahal dalam hati berharap Endra sungguh-sungguh. Duh, siapa yang tidak mau setiap hari dipanggil sayang oleh Endra?
"Teteh Sayang."
Mata Gista melotot saat perasaannya justru melonjak senang. "Apa sih! Norak!"
Jika lelaki adalah makhluk pembohong, maka wanita adalah makhluk yang tidak suka jujur.
"Eh, Teteh. Terus maunya apa? Sayangku?"
"Endra!"
Endra tergelak kecil. Mencubit ujung hidung Gista usil.
"Teteh."
"Apa sih? Manggil-manggil mulu, deh."
Senyum usil Endra berubah jadi senyum simpul. "Kita ke rumah sakit, yah?"
*
__ADS_1