
"Terus Eneng-nya enggak makan nasi? Berapa lama?"
"Udah sebulan."
"Gelo! Kumaha atuh Enengnya? Terus Eneng makan apa sebulan, Neng?"
Padahal tadi sudah dibilang cuma makan belimbing dan jeruk. Kan sudah Gista bilang, mereka sulit dipahami kecuali mereka merasakan.
Mereka makan nasi setiap hari dan rasanya bisa mati kalau tidak. Bagi mereka, sulit dibayangkan ada orang tidak makan nasi tiga puluh hari. Itu terdengar seperti tidak bernapas sama sekali.
Mati pasti, pikir mereka.
Makanya itu menyedihkan. Makanya itu membuat Gista serasa berada di tepi jurang, antara ingin menyerah dan lompat saja atau bertahan membuat jembatan.
"Teteh-nya langsing, jadi makan buah juga cukup." Endra tiba-tiba berucap. "Badan kita enggak disetting bisa hidup kalo makan nasi. Itu mindset. Makan buah tiap hari juga bisa hidup. Malah jadi cantik karena badannya enggak kerja ekstra."
Gista terpaku. Bukan karena apa pun, tapi terkejut bahwa Endra masih berusaha menghiburnya.
Padahal Gista baik-baik saja, kok. Gista tidak sesedih itu walau memang masih agak murung. Tapi Gista sungguh tidak butuh dihibur juga.
"Kita makan nasi itu karena kebutuhan karbohidrat," ucap Endra lagi, menatap Gista dengan senyum teduhnya. "Kalau makan gandum enggak makan nasi ya enggak mati, kok. Atau kalau makan alpukat terus enggak makan nasi juga idup kok. Iya, Teh?"
Gista mengerjap. "Saya ... enggak bisa makan alpukat." Karena amis.
"Teteh kan makan jeruk. Di jeruk ada gula, gulanya bagus lagi, gula alami. Teteh pasti tau kalau salah satu makanan yang bikin banyak orang kesiksa itu gula buatan. Jadi Teteh justru sehat karena enggak makan gula kayak gituan."
__ADS_1
"...."
"Teteh pernah denger detox? Badan Teteh sekarang mungkin lagi didetox. Semua asupan yang bahaya, yang kurang alami semuanya dicut dulu, biar regenerasi sel badan Teteh jadi baik lagi. Nanti kalau semuanya udah baik, saya yakin Teteh pasti jadi lebih sehat. Lebih cantik juga malah."
Dasar tukang gombal. Gista tarik ucapannya. Orang ini pasti playboy kelas kakap. Soalnya masa dia sebaik itu pada Gista?
Kan dia tidak perlu mengatakan semua itu cuma buat menghibur!
"Terus aku enggak cantik karena makan nasi, gitu?!" Juli memotong percakapan itu dengan melotot.
Tapi Endra cuma terkekeh kecil, tak melirik Gista yang sudah terbakar oleh rasa baper.
Siialan. Kalau begini terus, kalau dia baik terus, Gista jadi suka betulan!
*
Tapi Endra tiba-tiba dapat panggilan darurat hingga bergegas mereka meninggalkan lokasi pesta.
Gista tidak mau sendirian di sana tanpa Endra, jadi ia putuskan untuk ikut. Biarpun sudah jadi teman Juli dan A Zaka, Gista masih tidak bisa kalau Endra tidak ada.
"Ada apa, Ndra?" tanyanya sewaktu motor melaju.
"Ada kecelakaan katanya, Teh, di luar. Kebetulan ini kan hari libur, jadi dokter yang bisa tanganin enggak ada. Puskesmas juga jauh."
"Parah?"
__ADS_1
"Enggak sih kayaknya, Teh. Kalau parah pasti dilariin langsung ke rumah sakit."
Iya, sih.
Gista memegang pinggang kemeja batik Endra selama perjalanan. Jalanan berbatu yang rusak membuat sesekali ia merosot dekat, sementara duduknya malah menyamping.
Itu sangat memalukan setiap kali ia merosot, Gista malah agak senang.
Dasar gila otaknya.
Masa sudah sampai separah itu ia baper pada orang ini? Ingatlah, ingat! Mereka baru kenal! Baru bertemu kemarin! Baru bersama kemarin, ingat!
"Kenapa, Teh?"
".... Jalanan jelek, yah?" Ayo pura-pura tenang.
Endra tertawa kecil. Lalu menghentikan motornya tiba-tiba di lokasi yang super duper sepi, dipenuhi hutan pinus besar tidak terawat, plus aura-aura suram menyeramkan.
Mau apa dia di sini?
Pikiran buruk sempat terlintas di benak Gista, tapi ia tertohok ketika Endra menoleh, lalu dengan lembut berkata, "Perbaikin dulu duduknya, Teh. Kayaknya enggak nyaman banget."
Duh, jodoh orang kok manis banget, sih?
*
__ADS_1