
Kalau mengikuti isi hati Endra, ia sebenarnya tak mau Ashar sampai memahami perasaan Gista. Soalnya Gista meninggalkan Ashar itu karena Ashar tidak memahami penyakit yang Gista derita, berpikir kalau Gista melebih-lebihkan sakitnya.
Tapi, Endra mengikuti logikanya. Kalau dilihat dari interaksi Gista dan Ashar, masih ada sesuatu yang perlu diselesaikan. Berarti masih ada interaksi-interaksi setelahnya dan Gista sekarang masih sangat rentan.
Dia masih tak boleh dihadapkan pada situasi yang membuat dia putus asa. Jadi mau tak mau, biar Gista tak merasa tertekan, Endra harus membuat Ashar paham seberapa parah kesehatan mental Gista.
"Tolong Akang di sini, nanti bantuin saya ngetes Teteh."
Endra mengarahkan Ashar buat berdiri di dekat Gista, karena dialah yang akan mengetes nanti. Biar dia percaya dan melihat sendiri.
Lepas itu Endra pergi, mengambil baki berisikan piring-piring dengan berbagai hal selain kopi, gula dan teh.
Standar pemeriksaan setahu Endra memang tiga hal itu, tapi Endra juga mau memastikan secara langsung bagaimana Gista merespons makanan lain.
"Teh, jawab saya kalau denger, yah."
"Iya."
Endra menambah sumpalan telinga Gista, karena dia masih dengar.
"Teteh coba bilang A."
Gista tidak dengar sebab dia tidak merespons.
Endra pun mulai memberitahu Ashar untuk mendekatkan mangkok berisi kopi ke hidung Gista. Dan karena Gista sudah beberapa kali dites begini, dia tak perlu intruksi buat menjelaskan.
"Amis."
Terlihat jelas Ashar kaget. Bisa dimaklumi memang, karena penyakit Gista bukan hal sepasaran demam.
__ADS_1
"Lanjut, Kang. Yang ini lagi."
Ashar menyodorkan teh sebagai ganti kopi.
Sejenak Gista diam, lalu menggeleng. "Baunya enggak kuat. Enggak amis tapi aneh."
Endra buru-buru mengambil catatannya. Agak mengerutkan kening sebab terakhir kali, Gista bilang teh itu amis.
Apa ada yang berubah?
Ashar pun menyodorkan gula. Gista lagi-lagi diam, menggeleng. "Enggak ada bau."
Mungkinkah ini perubahan positif? Endra mencatat segera sebelum kembali meminta Ashar mengambil piring lain.
Di piring itu ada nasi. Hanya nasi putih biasa, yang panas.
"Itu nasi, saya tau. Baunya enggak enak."
Endra membuat tanda silang di catatannya untuk nasi. "Jadi Teteh ngerasa nasi panas itu bau." Endra menjelaskan pada Ashar. "Kalau yang dingin katanya enggak ada bau menyengat, tapi rasanya enggak enak."
"Itu karena saraf?"
"Segala sesuatu di badan itu pusatnya di saraf, Kang. Ibaratnya komputer, saraf itu kayak kabel-kabelnya, yang hulunya di otak. Jadi kalau saraf bermasalah, kenanya bisa ke semua badan, termasuk berpengaruh ke rasa makanan yang kita makan. Lidah kita juga punya saraf."
Ekspresi Ashar jadi rumit. "Terus gimana kalau Gista enggak bisa makan nasi?"
"Enggak pa-pa, Kang. Mungkin memang enggak memenuhi kebutuhan secara keseluruhan, tapi solusi sementara itu Teteh harus konsumsi banyak gula, terutama gula dari buah, buat sumber energi. Cuma solusi sementara, sambil dirangsang terus penciuman sama perasaanya."
Ashar mengerutkan kening dalam. Sepertinya dia mulai memahami sedalam apa beban di jiwa Gista, karena hal ini.
__ADS_1
"Lanjut, Kang."
Endra menyuruh Ashar mengangkat mangkok berisi sayur bening pada Gista.
Dan seperti yang sudah-sudah, Gista menggeleng tak nyaman.
"Bau daging mentah."
Padahal itu sayur—muka Ashar seperti memikirkan hal demikian.
Semua benda di atas baki itu didekatkan pada Gista, dan semuanya masih mengganggu dia. Endra mau tak mau jadi urut dahi, cukup bingung sebenarnya harus mencari referensi dari mana.
"Kita lanjut lagi, Kang. Sekarang Tetehnya disuapin."
Tapi sebelum itu, Endra membuka penutup telinga Gista, biar dia merasa lebih nyaman.
"Saya mau suapin Teteh lagi, yah? Tapi, hidungnya boleh ditutup dulu, Teh? Mau, kan?"
"Iya." Gista dengan patuh menyerahkan keputusan pada Endra. "Biar apa?"
"Saya mau coba nutup penciuman Teteh, buat tau rasa makanannya tetep sama atau berubah juga. Soalnya secara psikologis bisa aja pencium Teteh yang berpengaruh."
"Iya."
Endra tersenyum, berjanji dalam hatinya bahwa ia akan mencari seluruh solusi yang ia bisa agar Gista cepat sembuh.
Karena kelihatannya, dia sudah membaik secara mental.
*
__ADS_1