
Baju?
Gista diam-diam menatap bajunya dan bertanya-tanya lagi apa ada perbedaan. Ia cuma mengenakan kaus cokelat pas bodi dan celana panjang berwarna hitam agak kebesaran yang penyerupai kulot.
Memang ini pakaian yang salah di desa?
Masa kaus tidak boleh?
Sampai ibu itu selesai dengan omelannya, Gista cuma terus berpikir apa yang salah dari bajunya. Gista merasa tida ada yang salah, tapi kenapa bibinya Endra merasa itu salah?
Ia kembali duduk di bawah pohon, karena memang mau apa lagi?
Tak lama, ternyata anaknya Bu Inah datang, membawakan Gista air dan jeruk.
"Maafin Mamah ya, Teh?" Yura tampak sangat malu karena ibunya. "Mamah enggak ngerti, makanya ngomong gitu. A Gasen udah jelasin kok Teteh kenapa."
Mau bagaimana lagi, kan? Sejak mengalami sakit ini, ia menyadari kalau manusia itu ... tidak bisa saling mengerti kecuali sama-sama merasakan.
Cuma Endra yang sedikit memaklumi. Pada kenyataannya dia juga sering salah karena tidak mengerti. Jadi Gista akan berusaha maklum.
Atau lebih tepatnya pasrah.
Tidak ada gunanya memaksa orang lain. Yang ada malah sakit hati sendiri.
__ADS_1
"Iya, enggak pa-pa."
Orang luar tidak berhak banyak bicara, begitu hukumnya, kan?
"Omong-omong, saya mau nanya. Baju saya emangnya aneh?"
Dia terkejut sesaat, sebelum kemudian berkata, "Kalau di sini, bajunya Teteh terlalu ngumbar aurat."
Gista tersentak. Ia tak sadar karena di tempatnya baju begini itu baju sehari-hari. Ada yang lebih mengumbar, malah. Pamer pusar, punggung, atau pakaian yang hanya menutupi tiga per empat dari payuudara.
Apa kabar kalau mereka melihat itu?
"Maaf." Gista spontan menutupi bahunya yang agak terekspose. "Saya enggak tau."
Gista termenung. Bagaimana ini? Ia tak punya baju oversized. Semua bajunya modelan sama dengan ini, karena memang ia bukan penyuka pakaian kebesaran khas anak-anak R&B.
Pikir Gista, desa itu panas jadi mending ia bawa baju sederhana yang tidak banyak printilannya. Ternyata malah salah?
"Yuraaaa!"
"Iya, Mamah." Gadis itu beranjak. "Saya ke dalem dulu yah, Teh. Jeruknya dimakan."
Tapi entah kenapa Gista terdorong menanyakan sesuatu padanya. "Kamu suka sama Endra?"
__ADS_1
Straightforward sekali memang. Pasti dia kaget ditanyai tiba-tiba oleh seseorang yang mungkin, di sudut hati dia anggap sebagai saingan.
Meski begitu Gista punya alasan bertanya. Jadi walaupun Yura akan sangat terkejut, Gista tetap mengatakannya.
Wajahnya agak pucat seketika. "Saya ...."
"Saya enggak ngambil Endra, kok," ucap Gista, berusaha tersenyum meyakinkan. "Saya di sini cuma buat healing. Enggak lebih."
Dia bingung harus membalas apa.
Anak ini, mungkin dalam hatinya ada kebencian atau setidaknya penolakan terhadap Gista, namun dia juga masih anak gadis polos.
Jelas dia tidak akan terang-terangan mengakui Endra sebagai tunangan hanya karena mereka dijodohkan oleh warga sekitaran.
Beda dari ibunya, dia tahu sopan santun dan menahan diri.
Teriakan ibunya sekali lagi membuat Yura pergi tanpa menjawab. Gista hanya duduk di sana, menatap jeruk pemberian anak itu dan tersenyum miris.
Ia ... dikasihani oleh anak SMA.
Segitu menyedihkannya sampai anak itu datang membawa makanan setelah Gista diusir terang-terangan oleh ibunya.
*
__ADS_1