
Meninggalkan? Endra meninggalkan Yura?
Padahal Endra tidak pernah sekalipun berkata ingin bersama dia. Padahal Endra punya pilihan sendiri dan itu bukan Yura. Padahal, Endra tidak pernah terima perjodohan itu.
Ya, andai Gista bisa berkata demikian.
Tapi Gista justru menunduk, karena yang ia pahami dari gadis ini hanya ... dia merasakan apa yang Gista rasakan.
Bukan soal sakit atau soal perasaan dikatai gila oleh keluarga sendiri atau soal perasaan sepi Gista.
Itu soal takut yang dia rasakan. Dia takut jika seluruh desa menghinanya karena batal menikah. Dan yang lebih utama, dia menyukai Endra dan dia takut kehilangan.
Yura juga manusia dan dia punya perasaan. Bukan cuma Gista yang mau dihargai atau dipilih.
"Gis."
Suara Ashar dari atas membuat Yura tersentak. Gadis itu langsung menutup wajahnya yang menangis agar tak terlihat, buru-buru pergi sambil bergumam 'saya permisi, Teh'.
Tentu saja tindakannya membuat Ashar terkejut. Pria itu menatap kepergian Yura heran, sambil bersusah payah turun dari tangga dengan tangan dan kakinya yang terluka.
"Itu siapa, Gis?"
Gista mengerutkan bibir. "Sepupunya Endra."
"Kok nangis?"
Gista menjatuhkan diri ke sofa depan televisi. Memeluk bantal sofa di sana untuk menyembunyikan wajah cemberutnya.
"Dia dijodohin sama Endra."
__ADS_1
"Apa?"
"Ya kayak, satu desa nganggep dia sama Endra bakal nikah kalo dia lulus SMA sampe kesannya mereka udah 'dijodohin'. Padahal Endra sebenernya enggak suka sama dia. Cuma nganggep dia adeknya aja."
"Hmmmm." Ashar mengamati wajah Gista. "Terus, dia musuhin kamu?"
"Enggak. Oh, come on, Ashar. Dia baru lulus SMA. Masih anak-anak. Besides, dia anak desa."
"What does that mean?"
Gista menghela napaa. "Meaning, dia dari kecil udah dikasih contoh kalau satu-satunya hal yang mesti dia lakuin adalah nikah. Itu enggak salah, tapi kala dia gagal, aku rasa itu kayak kita kalau gagal diterima kerja di perusahaan inceran sementara bulan depan kita enggak tau mau bayar kosan pake apa."
Kalau gagal, dia pasti merasa kalau dia tidak layak jadi manusia. Itu yang Yura rasakan.
"Kamu kasian?"
"Terus kamu mau relain Gasendra buat dia?"
Nah, itu pertanyaan yang sulit dijawab. Gista mengacak-acak rambutnya frustrasi. Pelan-pelan, ekspresi Gista justru terlihat semakin sedih.
Ashar yang melihat itu spontan menepuk-nepuk puncak kepala Gista.
Sentuhan itu tak Gista tepis, sebab pikirannya sekarang sangat fokus pada ucapan Yura dan hubungannya dengan Endra.
*
"Gasen."
Tante Inah langsung memanggil Endra begitu proses transaksi berhasil, setelah melewati beberapa diskusi panjang dan pembicaraan ala pedagang.
__ADS_1
Suasana hati Endra sedang baik karena itu juga. Ia bermaksud menabung uang bagiannya untuk menggandakan tabungan pribadi Endra di rumah, sebagai persiapan pernikahannya kedepan.
Bagaimanapun Gista kan orang kota, jadi biaya pernikahan dengannya pasti mahal. Lebih mahal karena harus sewa gedung dan macam-macam.
Walaupun Endra merasa punya tabungan cukup banyak, ya jaga-jaga siapa tahu kurang.
"Iya, Tante?" Endra berbalik penuh senyum. "Kenapa?"
"Sini dulu, Tante mau ngomong."
Tentu Endra datang. Duduk di kursi ruang tamu yang tadi diisi oleh tamu mereka, meskipun sekarang mejanya sudah kosong karena dibersihkan oleh Yura.
"Ngomong apa, Tante?"
"Tante enggak usah basa-basi, ini soal kamu sama cewek di rumahmu itu."
Mood Endra seketika anjlok.
Haduh, itu lagi.
Sebenarnya Tante Inah itu orang baik, tapi dia sangat pemaksa dan agak kurang dalam menghargai pilihan orang. Kepribadiannya ya normal kalau berhadapan dengan orang di desa ini, tapi kalau berhadapan dengan Endra, itu kepribadian yang mengganggu.
"Tante, aku udah bilang aku sama Yura tuh—"
"Gimana nasib Yura kalo kamu enggak nikahin dia?"
Endra terbungkam.
*
__ADS_1