Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
47. Mulai Terlihat Hidup


__ADS_3

"Teteh sekarang tidurnya di kamar lain aja, yah?"


Gista mencubit kecil lengan Endra yang berjalan di depannya. "Yaiyalah tidur di kamar lain. Saya tidur di sana kemarin cuma buat mastiin Ashar baik-baik aja."


Lagipula, dia datang ke sini karena Gista. Jadi bahkan kalau Gista merasa sesak dengan kedatangannya, apalagi setelah mendengar Ashar berkata demikian, ya Gista harus bertanggung jawab.


Tapi, tidak mungkin juga Gista mau tidur di kamar yang sama setelah Ashar sadar. Beda cerita jika dia masih seseorang yang spesial buat Gista.


"Teteh tidur sama saya aja gimana?" goda Endra, lengkap dengan senyum usilnya. "Kalo sama saya, nanti Teteh ada yang peluk-peluk. Enggak kedinginan."


Wajah Gista langsung panas mendengar perkataan itu. Jantungnya berdebar-debar lagi, namun Gista buru-buru mengendalikan diri, tidak mau jadi pihak yang hanya digoda saja.


"Yakin?" Gista mencolek pinggang Endra. "Beneran bisa tidur kalo saya temenin?"


Muka Endra malah langsung tegang karena salah tingkah. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan, berpaling ke depan. "Teteh mah digombalin enggak asik."


"Gombalan kamu kelas teri. Enggak mempan buat saya," balas Gista pongah.


"Eleh. Padahal Teteh sendiri yang bilang mau cepet-cepet jadi istri saya. Teteh yang kebelet."

__ADS_1


"Endra!" Wajah pongah Gista langsung terbakar habis.


Itu sih barusan bukan gombalan tapi ledekan. Gista memukul punggung Endra sebal, membuat dia tergelak sambil mengusap-usap bekas pukulan Gista.


Kayaknya dia masokis, deh. Karena berapa kalipun Gista sakiti, dia malah lebih banyak tertawa.


"Teteh mah kalo malu meni radikal pisan. Dicium atuh sayanya, bukan malah dipukul."


Gista yang malu jadi spotan mencubit lengan Endra, tak peduli kalau dia berteriak sakit.


Rasa malu Gista sudah sangat menggunung hingga sulit membalasnya. Jadi bergegas Gista kabur, berjalan cepat menaiki tangga dan melewati Endra.


Ih, dasar orang desa! Kenapa sih dia harus semenggemaskan itu?!


"Teteh, tungguin saya dong. Jangan jauh-jauh, nanti saya kangen."


Mata Gista melotot lebar-lebar, tak menyangka dia bakal mengungkit itu juga.


Dasar berengsekk. Lain kali Gista tidak bakal mengatakan hal yang ia sesali seperti itu!

__ADS_1


Mana waktu berkata begitu, Endra tertawa sangat puas.


"Teteh gemes, deh. Takut saya tinggal, yah? Nanti kangen sama saya makanya enggak mau ditinggal jauh-jauh."


Muka Gista mungkin sudah memerah saking panasnya. Walaupun dalam hati sebenarnya dia suka diledek-ledeki orang yang ia cintai, tetap saja Gista malu.


"Pokoknya saya marah sama kamu!" teriak Gista pada akhirnya. "Saya enggak jadi mau nikah sama kamu!"


Endra malah tertawa makin keras, menatap Gista yang lari ke kamarnya.


Perasaan Endra menghangat hanya karena menjaili Gista. Rasanya sudah cukup lama ia tak merasakan perasaan ini, yang sekaligus seperti mengobati luka di sudut hati Endra.


Tapi, yang sekarang paling ia syukuri adalah Gista sudah terlihat sangat hidup. Jauh berbeda dari pertama kali mereka bertemu, atau awal-awal dia hidup di rumah ini. Gista seperti orang yang menunggu kapan dia berani bunuh diri.


Karena itulah Endra selalu takut meninggalkan Gista sendirian.


Jangan lagi. Endra tak mau lagi melihat atau mendengar seseorang mengakhiri hidupnya di rumah ini.


Satu-satunya hal yang mesti Gista lakukan adalah tertawa.

__ADS_1


Cukup itu saja.


*


__ADS_2