Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
19. Disuruh Mati Oleh Semesta


__ADS_3

Yura terdoktrin oleh omongan orang. Dia terpengaruh oleh sangat banyak mulut yang berkata dia harus menikahi Endra, dia akan menikahi Endra, dia sepantasnya menikahi Endra.


Padahal sekali lagi, Endra sedikitpun tidak berencana menikah apalagi dengan Yura.


Mungkin ia tinggal di desa cukup lama, tapi sebenarnya Endra besar di kota. Pola pikirnya berbeda dan tidak sesederhana lulus sekolah ya menikah.


Mereka juga tidak cocok. Endra tidak pernah merasa tertarik bicara terlalu panjang dengan Yura. Dia cantik dan sebenarnya punya badan bagus.


Cuma ... Endra tidak tertarik secara emosional.


Bagaimana ia lepas dari ini, demi Tuhan?


*


Gista tak mau jadi beban untuk Endra yang harus merawatnya padahal mereka orang asing, jadi ketika Endra di luar sibuk dengan apa yang dia kerjakan, Gista memutuskan cari pekerjaan dalam rumah.


Ia hidup sendiri di kota, jadi Gista tidak secanggung itu mengerjakan hal-hal mengenai rumah. Sambil memakai masker di mulutnya menghindari kemungkinan mencium bau, Gista putuskan menyapu lantai atas dan bawah.


Kepalanya masih pusing lantaran demam. Gista sesekali berhenti, merasakan tubuhnya berkeringat dan bau keringat itu membuatnya terganggu.


Itu bukan bau keringat yang biasa. Baunya berubah jadi sesuatu yang lebih memualkan.


Lagi-lagi ia harus mengatur napas. Berusaha tidak menangis putus asa karena sudah dua puluh hari lebih ia menangis, tidak ada satupun hal berubah.

__ADS_1


"Lah, Teteh? Kok malah nyapu?"


Gista menoleh ke arah suara yang jelas miliknya Endra. "Bosen aja."


"Bosen mah nonton tipi, Teh." Endra agak tertawa kecil. "Demamnya udah turun, Teh?"


"Udah kayaknya."


Endra datang, nampaknya mau mengecek suhu badan Gista. Tapi ada jejak bau asap di tubuhnya yang spontan membuat Gista menutup mulut dan hidungnya.


"Duh, lupa saya. Maaf, Teh."


Yang merasa bersalah justru Gista. Apalagi ia malah spontan menolak seakan-akan Endra bau bangkai.


"Yaudah, Teteh masuk aja ke kamar. Ini biar saya yang lanjutin. Orang sakit enggak boleh banyak gerak, Teh."


Meski sejenak diam, Gista menyerahkan sapu pada Endra—ah, maksudnya, ia meletakkan sapu di dinding dan Endra baru mengambilnya ketika Gista mundur.


Di kamar, Gista langsung berbaring. Kakinya lemas karena memang kurang tenaga. Ia lapar tapi tak bisa makan apa-apa.


"Teh, saya masuk, yah?"


Cepat sekali dia kerja. Kurang dari tiga puluh menit Endra sudah mengetuk pintu kamarnya dan masuk dengan penampilan segar khas baru mandi.

__ADS_1


Tapi tidak tercium bau yang kuat, selain samar-samar bau tak enak. Kemungkinan dari sabun.


"Saya baru mandi, Teh. Enggak bau asap lagi kan, yah? Atau bau sabun?"


Mana Gista tahu mana mau asap mana bau sabun kalau dua-duanya menjijikan.


"Enggak pa-pa," ucapnya samar.


Seharusnya Endra tidak perlu terlalu hati-hati. Malah Gista yang merasa harus lebih tahan karena bau sabunnya Endra juga tidak bisa diatur-atur.


"Saya dikasih sup, Teh." Dia duduk setelah menarik kursi di dekat tempat tidur. "Tante Inah jago bikin sup yang rempahnya banyak. Teteh cobain mau enggak?"


Tadi Endra membawakan beberapa bahan makanan rempah dan rimpang padanya. Lalu dia minta Gista membauinya.


Ternyata bau mereka juga tidak berubah. Tidak berbau busuk atau terasa menjijikan, jadi mereka berasumsi kalau makanan alami tanpa tambahan penyedap masih terasa normal baginya.


Namun itu bukan kabar yang benar-benar baik.


Karena paginya A Zaka membawakan ubi rebus dan Juli berbaik hati mengulek sambal belimbing, ternyata rasa ubinya hancur di mulut Gista.


Karbo lain pengganti nasi seperti jagung, alpukat, dan lain-lain semuanya tidak bisa ia konsumsi.


Rasanya seperti disuruh mati oleh semesta.

__ADS_1


*


__ADS_2