Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
73. Jebakan Endra


__ADS_3

Gista membeku akan pertanyaan yang mengisyaratkan tuntutan itu. Meskipun Endra mengucapkannya dengan mada lemah, dia sepertinya tidak ingin menerima kalimat 'tidak' dari Gista.


Masalahnya ....


"S-saya ...." Gista menunduk, memilin ujung kausnya karena bingung ingin mengatakan apa. "Saya enggak mau nyusahin kamu," cicit Gista akhirnya.


Hal yang semakin tidak Gista sangka, Endra berkata, "Kalo saya minta Teteh nyusahin saya, Teteh enggak mau?"


"Tapi—"


"Jadi Teteh enggak mau."


Endra membuat wajah seolah-olah seluruh dunia telah mengecewakannya. Dia seperti sangat terkhianati hingga Gista tercekik takut melihatnya.


"Saya minta Teteh nyusahin saya, Teteh enggak mau. Saya minta Teteh temenin saya, Teteh juga enggak mau. Berarti Teteh enggak mau sama saya."


"Bukan kayak gitu!" teriak Gista putus asa.


Mengerikan.


Sangat mengerikan apa yang dia katakan.


Gista-lah yang bakal mengemis ke kakinya Endra agar dia tetap mau bersama Gista. Kenapa pula Gista yang menolak dia, bahkan mencampakkan dia seperti yang dia katakan?


Dasar orang gila ini! Dia harus belajar menjaga kalimatnya itu! Itu kalimat yang tidak pantas dikatakan oleh orang waras!


"Saya mau sama kamu!"

__ADS_1


Gista bahkan tidak memedulikan wajah terkejut A Zaka ketika menjerit frustrasi.


"Saya mau banget sama kamu makanya saya mau pulang! Saya mau ke dokter biar saya bisa cepet sembuh terus saya bisa nikah sama kamu!"


"Kamu tuh kenapa sih keras kepala banget! Saya enggak mungkin selingkuhin orang kayak kamu! Kalo kamu manggil saya tinggal di kolong jembatan juga saya mau! Saya mau makan nasi sama roiko aja tiap hari asal sama kamu!"


"Kamu kira saya enggak bisa?! Saya udah enggak makan nasi sebulan lebih jadi udah ada bukti kalo saya bisa idup tanpa makan ikan sama ayam! Denger kamu!"


Detik berikutnya sekujur badan dan wajah Gista memerah.


Lantaran kini di depannya Endra menutup mulut, berusaha keras tidak tertawa tapi terlihat sedang sedang ketawa.


Tak jauh beda, A Zaka sampai menutup wajahnya sendiri, merasa panas karena ucapan Gista barusan.


Gila, gila, gila. Bisa juga seorang wanita mengucapkan hal semacam itu sambil teriak. Di depan rumah pula.


Itu tawa kemenangan, A Zaka tahu.


Orang ini sengaja memanas-manasi Gista biar Gista mengucapkan hal memalukan yang mendeklarasikan cintanya pada Endra.


Sudah A Zaka bilang, Endra itu tidak sesuci kelihatannya.


Dia benar-benar egois kalau sudah pada hal yang dia mau. Bahkan kalau perlu, Gista harus berteriak ke seluruh dunia kalau dia tidak akan mau menikah kecuali dengan Endra.


Endra bakal puas dengan hal itu.


"Kamu!" Gista melepas sepatunya kanan kiri, melemparnya pada Endra penuh emosi. "SAYA ENGGAK MAU LIAT KAMU LAGI!"

__ADS_1


Bertentangan dengan apa yang beberapa waktu lalu dia katakan, Gista lari masuk, lari dari kenyataan bahwa dia barusan bicara hal memalukan.


Tapi Endra tidak peduli.


Masih sibuk tertawa puas-puas sampai gigi-gigi putih dan langit-langit mulutnya terlihat.


A Zaka sudah tidak tertawa. Entah kenapa jadi kesal sendiri melihat Endra merayakan kemenangan karena disukai oleh gadis cantik.


Saking jengkelnya, A Zaka tidak sadar melempar Endra juga dengan sandal.


"Enggak usah ketawa-tawa maneh. Mau aku sleding, hah?!"


Cih. Apa-apaan dia tertawa lebar begitu. Mentang-mentang sudah laku, dia pikir dia sudah hebat?


"Lagian kamu teh enggak mikirin Eneng Gista-nya?" A Zaka kembali duduk di anakan tangga teras. "Siapa tau Neng Gista butuh dokter beneran. Mau kamu ngerti, gimana kalau Neng Gista-nya sakit parah?"


Endra masih terlihat senang. Tapi pertanyaan A Zaka barusan membawa sedikit mendung di wajahnya.


Tak A Zaka sangka, Endra berkata, "Aku tanggung jawab kalo ada apa-apa."


"Hah?"


"Aku enggak mau lepasin Teteh sekarang, Kang." Endra berdiri dan membersihkan sisa-sisa tanah di celananya. "Bukan karena Ashar, tapi emang karena aku enggak mau."


"Jangan egois, Sen."


Endra tidak bisa. Endra mau egois.

__ADS_1


*


__ADS_2