
Endra membawa semua makanan yang mengandung karbohidrat tinggi itu ke depan Gista. Walaupun dia terlihat takut-takut dan trauma, Endra berusaha tidak kasihan.
Harus ada pilihan antara Gista tambah sakit atau dia memaksakan sedikit.
Ini waktunya dia memaksakan diri.
"Teteh pilih sendiri, mau coba yang mana dulu."
Sepertinya tidak terlalu mengejutkan ketika Gista menunjuk alpukat. Karena selama ini dia setidaknya bisa makan jeruk, Gista dan Endra berharap alpukat sudah bisa dia tolerir.
Endra meraih sendok bersih. Menyendok sedikit alpukat untuk dibawa ke mulut Gista.
"Bismillah," ucap Endra mewakili, sekaligus berdoa ini benar-benar berhasil.
Gista terlihat lebih tenang karena Endra pun bersikap tenang. Setelah menarik napas panjang, dia pelan-pelan membuka mulut, menerima alpukat itu.
Satu detik di mulut, Gista langsung memudahkannya ke tangan Endra.
Tanpa sengaja.
"M-maaf!" pekik Gista spontan.
Namun Endra baik-baik saja dengan hal itu. "Enggak pa-pa, Teh. Enggak pa-pa. Nanti saya cuci tangan juga bisa."
Sebagai seseorang yang nyaris menyandang gelar dokter secara resmi, Endra bukan tipe manusia yang gampang jijik.
Darah dan nanah pun ia hadapi, apalagi kalau sekadar alpukat yang baru masuk ke mulut Gista.
Dengan tenang Endra mengelapnya, sekali lagi menyendok.
"Enggak enak, Teh?"
__ADS_1
"Amis." Gista menggeleng tak mau. "Enggak enak."
"Paksain, yah? Coba telen. Sedikiiiiit aja. Sedikit aja coba telen."
Gista menggeleng, nampak tertekan.
Waktu melihat itu, Ashar langsung bicara, "Emangnya enggak pa-pa kamu maksa? Takutnya nanti Gista tambah stres sama makanan."
"Iya, Gasen. Kasian, loh."
Endra paham. Endra juga kasihan.
Tapi ia harus sedikit memaksa di sini.
"Teteh." Endra mengelus pipi Gista sambil tersenyum manis. "Saya tau Teteh enggak suka banget rasanya. Pasti enggak enak banget. Saya paham."
Jelas itu rayuan.
Gista langsung cemberut. Mana mungkin dia mau muntah di wajah Endra.
Akan tetapi, ucapan halus dan bujukan manja Endra itu berpengaruh.
Tekanan di benak Gista terasa berkurang. Gadis itu mengangguk lagi, mau menerima suapan.
"Bismillah." Endra menyuapinya sekali lagi, dan menyaksikan Gista memejamkan mata rapat-rapat agar menelan alpukat itu.
Satu.
Dua.
Tiga.
__ADS_1
"Gimana, Teh?"
Gista menangis. "Enggak enak," ucap dia dengan air mata bercucuran. "Enggak enak banget."
Tangan Endra langsung mengusap air matanya. Tapi Endra tersenyum, sebab Gista tidak muntah.
"Enggak enak, yah? Paksa lagi sesuap, yah?"
Jika dia harus menangis sedikiiiit saat makan, Endra rasa tidak masalah. Mereka bisa menjadikan ini stimulasi dua atau tiga hari sekali agar Gista tidak kekurangan karbohidrat.
Juli, A Zaka dan Ashar yang melihat Gista akhirnya bisa makan hal lain mau tak mau ikut menghela napas lega.
Syukurlah kalau sudah bisa. Karena masalah paling utama tentang makan setidaknya sudah teratasi.
Satu suap lagi.
Dua suap lagi.
Tiga suap lagi.
Gista makan alpukatnya sambil menangis karena tidak enak.
"Ooow, Teteh. Nangis karena enggak enak, yah? Nanti saya kasih cokelat yah, Teh? Hm? Makan lagi."
Endra benar-benar memperlakukan Gista seperti bayi yang lagi malas makan. Berusaha dibujuk rayu agar dia mau buka mulut, menelan makanannya.
Tapi ....
Pada suapan Endra yang ke lima Gista tiba-tiba menarik baksom yang disiapkan, memuntahkan semua isi perutnya.
Yang dia muntahkan jauh lebih banyak dari yang dia baru saja makan.
__ADS_1
*