Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
32. Peluk-Peluk


__ADS_3

Manusia itu makhluk yang rapuh. Mereka tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan harian mereka. Tidur, makan, berpakaian, bicara, berpikir.


Orang bisa begadang dua hari tanpa tidur, tiga hari mereka stres, empat hari mereka depresi dan akan kehilangan akal sehat. Itu adalah hukum alam.


Makanya Gista pasti sangat tertekan.


Gadis ini ... nyaris tidak makan sebulan penuh, tiga puluh hari lebih.


Dia melihat semua orang makan dengan normal. Makanan yang orang lain rasa enak bagi dia seperti makanan menjijikan. Makanan yang dulu dia suka justru terlihat mengerikan.


Parfum, sabun, bahkan keringat dia sendiri berbau busuk yang membuat dia muntah tanpa henti.


Endra tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya jadi dia. Bagaimana rasanya bertahan dalam situasi itu, Endra dan semua orang pasti tidak akan mengerti.


Karena itu Endra tidak tega ketika melihat dia menangis dengan wajah frustrasi sekali lagi.


Tidak bisakah dia kuat dan tabah saja? Jangan menangis. Dia benar-benar terlihat rapuh dan sakit saat melakukannya. Endra tak ingin dia menangis.


Endra tak tahu berapa lama dia menangis, tapi tangisan itu terus terdengar sampai Zaka dan Juli yang baru pulang bersamaan melongokkan kepala.


Posisi ini agak membuat salah paham. Gista memeluknya dan Endra malah tidak berpakaian atas. Tapi Gista pasti tidak bisa berpikir ke sana saat dia menangisi dirinya.

__ADS_1


Entah kenapa, Endra tak terlalu suka membuat Gista menangis di depan orang. Jadi diam-diam ia mengirim isyarat agar mereka tidak mengintip, menutup pintu rapat-rapat.


Sekarang Gista sudah tidak tahu meracau apa. Suaranya tersendat-sendat sendiri. Mirip anak kecil yang habis menangis keras dan bahunya terguncang-guncang.


Endra ingin menjaganya. Berharap dia tidak menangis seperti ini lagi.


"Enggak pa-pa yah, Teh." Diusap baik-baik pipinya yang basah ketika wajah Gista nyaris terkubur di dadaanya. "Enggak pa-pa, kok. Sembuh nanti. Teteh percaya, yah. Jangan sedih."


Saking menggunung kesedihan di benaknya, dia menangis sampai langit menjadi gelap.


Begitu Endra mengecek kenapa suaranya tidak lagi keluar, ternyata dia terlelap, dalam kondisi kacau dan berdiri memeluknya.


Syukurlah dia berhenti menangis.


*


Pura-pura tuli saja. Pokoknya pura-pura tuli.


"Aih Teteh mah enggak usah malu-malu, atuh. Orang sedih emang normalnya minta PELUK, kok," ucap dia sok bijak, tapi menertawakan. Nampaknya malah sangat menikmati bagaimana dia menertawakan Gista.


"Enggak usah diungkit!"

__ADS_1


Endra membuat wajah serius dan berkata, "Tapi yah Teh, setau saya, kalau orang sedih terus enggak diPELUK nanti dia bisa kesurupan."


"Endra, aaaaahk!" Gusta berteriak penuh rasa kesal.


Lalu dia terbahak, membuat Gista antara mau mencakarnya tapi sibuk ditelan oleh rasa malu.


Bagaimana caranya ia menatap Endra sekarang ketika semua ingatannya tentang kemarin berseliweran di kepala Gista?


Tidak tahu malu. Bukan cuma mendobrak pintu kamar cowok yang berencana mandi, ia malah menangis sampai malam. Tidur pulak di pelukan dia sampai-sampai paginya sudah bangun berselimut di dalam kamar.


Sudah begitu orangnya malah menikmati bagaimana Gista malu.


"Enggak pa-pa, Teh. Enggak pa-pa, beneran. Saya mah pasrah, ikhlas lahir batin diapain aja juga. Enggak saya anggep pelecehhan kok diPELUK-PELUK." Endra masih tak bosan menyindir.


Gista menutup wajahnya yang terasa terbakar.


"Eh, tapi Teteh juga jangan dibilang pelecehhan yah saya bales PELUK-PELUK. Soalnya kan yang PELUK-PELUK duluan itu—"


"ENGGAK USAH DITEKANIN PELUK-PELUK BISA ENGGAK, SIH?!" jerit Gista stres, lengkap dengan mukanya memerah padam.


Dasar brengseek!!!

__ADS_1


*


__ADS_2