Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
25. Berdebar-Debar


__ADS_3

"Mungkin orang-orang ngerasa kamu emang cocok sama Yura, makanya mereka mikir gitu." Gista bicara apa yang bukan isi hatinya.


Endra tertawa kecil. "Wah, kalau cocok-cocokan mah saya enggak khatam, Teh."


Jawaban orang yang biasanya sudah yakin betul pada pendiriannya.


"Tapi setau saya yah, yang namanya jodoh itu dipilih, bukan dipilihin. Setau saya, sih. Enggak tau juga yang lain, mah. Mungkin saya doang."


Tuh, kan. Dia kesannya tidak memilih tapi sebenarnya sudah punya pilihan tetap yang dia tidak suka itu diganggu gugat.


Namun Endra mungkin tidak terlalu suka membuat dirinya terlihat tegas. Karena setelah mengatakan hal itu, dia pura-pura mengejek dirinya sendiri.


Katanya, "Ih, Endra mah banyak mau yah, Teh, ya? Banyak mau banget, kurang bersyukur tuh makanya begitu."


Senyum Gista terulas diam-diam. "Saya setuju, kok. Jodoh kalau dipilihin dan kita setuju sama yang dipilihin kan namanya berubah jadi pilihan. Tapi kalau enggak setuju ya bukan pilihan."


Endra tertawa makin merdu. "Gitu yah, Teh? Berarti Endra enggak banyak mau banget dong, yah? Kalo menurut Teteh banyak mau, biar saya pukul tuh Endra."


Dasar pelawak tidak lucu.


Tapi anehnya Gista tetap tertawa. Apalagi waktu menangkap jelas pesan Endra bahwa dia tidak suka Yura, dan Yura tidak masuk pilihannya sama sekali.


Dia tidak enak yah menolak sepupunya terang-terangan?


Tentu saja kalau sudah dijodohkan satu kampung, yang paling malu adalah perempuan jika perjodohan itu ditolak.

__ADS_1


Apalagi tampaknya yang perempuan terbawa suasana sementara yang laki-laki alias Endra tidak.


"Kamu punya pacar yah makanya nolak Yura? Padahal kan dia cantik banget."


Jujur, itu modus.


Ia kasihan pada Yura karena cinta ditolak setelah baper itu sakitnya sampai ke tulang, tapi pertanyaan tadi murni ingin tahu apakah Endra punya pacar atau tidak.


Dan sialnya, Endra tersenyum seolah dia tahu. Peka kalau Gista kepo soal pacarnya, bukan karena dia bertanya karena rasa ingin tahu saja.


"Ekonomi lagi turun, Teh. Nyari duit aja susah, apalagi pacar."


Gista melipat bibirnya, berharap ia tidak tersenyum.


Apa sih hatinya ini? Pikirkan saja soal sakit aneh yang ia derita! Kenapa pula baper pada orang asing!


"Yang mau nikah sakit apa?" Gista segera mengalihkan pembicaraan, daripada berlarut-larut.


"Hm? Enggak pa-pa. Cuma kayaknya gugup, stres juga, kurang tidur makanya drop badannya."


"Kok stres?"


"Dijodohin. Baru lulus tahun kemarin orangnya, disuruh nikah sama yang lebih tua."


Gista mengangkat alis tinggi-tinggi. "Kok masih ada gitu jodoh-jodohan begitu?"

__ADS_1


"Emangnya enggak ada jodoh-jodohan di kota, Teh?"


"Ya maksud saya enggak sampe segitunya juga. Setau saya aja yah, orang mah mending kabur daripada dijodohin."


Endra terkekeh. "Di sini mah udah biasa jodoh-jodohan, Teh. Nikah dipilihin orang tua mah udah biasa. Ada juga kok yang justru bahagia punya anak habis nikah, biarpun ada juga yang berantakan karena selingkuh sama kekerasan."


"Santai banget ngomongnya."


"Soalnya di sini ngomongin orang mabok hajar-hajaran juga biasa, Teh. Malah yah Teh ada keluarga yang cowoknya suka mukulin istrinya kalau marah, mukulin anaknya kalau marah, tapi enggak dilaporin polisi."


"Kok bisa?"


"Soalnya dipukulin pas marah doang. Kalau enggak ya sayang-sayangan. Sinting, kan?"


Endra menoleh sekilas untuk tersenyum.


"Emang banyak yang aneh kalau kita enggak terbiasa sama sekitaran. Tapi Teteh juga bisa banyak belajar, loh. Kayak tadi."


"Kayak tadi?"


"Waktu Teteh makan buat menghargai orang, terlepas dari Teteh lagi enggak bisa, itu kan nunjukin kalau Teteh peduli sama perasaan orang asing di sekitar Teteh."


Gista menahan napas bukan karena mendadak ada bau tak sedap dari udara, melainkan karena jantungnya berdebar kurang ajar.


*

__ADS_1


__ADS_2