
Gista tak tahu kenapa tapi kepalanya jadi pusing setelah muntah-muntah. Bukan pusing yang sangat mengganggu, tapi pusing tetaplah pusing.
Apalagi setelah itu Juli mengajak mereka pergi ke belakang, ingin makan sekaligus ingin memperlihatkan bagaimana situasi perkebunan di kampung pada Gista.
Endra masih tidak melepaskan tangan Gista dari genggamannya, padahal mereka kini berada di kerumunan yang jauh lebih banyak daripada ibu-ibu di teras tadi.
Lagi-lagi kebanyakan dari mereka bicara bahasa Sunda. Gista cuma bisa menyimak percakapan Endra tanpa paham dia bicara apa, meskipun tangan dia tidak pernah meninggalkan tangan Gista.
"Kalian ngomong apa, sih?" bisik Gista pada Endra setelah sekian menit dicueki.
"Didoain biar cepet nikah katanya, Teh."
"Bohong, ah." Gista memukul pelan lengan Endra. "Masa tiap ketemu orang semuanya pada ngomong cepet nikah."
Endra malah tertawa. "Ya soalnya goals orang kampung cuma dua, Teh. Banyak duit terus nikah."
Hah, sulit dibantah karena kayaknya benar.
Semenjak datang ke sini, kayaknya Gista tidak pernah di tanya ia kuliah di mana atau lulusan apa atau kerja di mana.
Semuanya cuma soal nikah.
Padahal di kota Gista lebih pusing pasal kerja di mana.
"Diiyain aja, Teh, kalo pada ngomong. Enggak perlu risi. Soalnya mindset Teteh sama orang sini beda."
Gista malah menoleh pada Endra. Karena semua orang sedang sibuk bicara hal lain lagi, tidak memerhatikan mereka, Gista jadi bisa berbisik-bisik padanya.
__ADS_1
"Emang mindset kamu sama juga?"
Soalnya Endra kan juga orang sini. Kalau begitu dia juga berpikir kalau tujuan hidup orang itu banyak uang dan menikah?
Tapi mungkin Gista tidak akan masalah. Satu-satunya yang penting bagi Gista sekarang adalah Endra sendiri.
Bagaimanapun Endra, selama dia masih Endra, Gista akan menerimanya.
"Ya kalo saya fifty fifty, Teh."
Endra menunduk untuk memudahkan bicara lirih pada Gista.
"Saya enggak perfeksionis banget mikir harus sukses luar biasa dulu baru nikah kayak cowok-cowok di kota, ya enggak dilabas juga mikir tujuan hidup saya cuma nikah doang kayak kebanyakan orang sini."
"...."
Endra mengenggam tangan Gista di atas pahanya, tersenyum manis.
"Itu sih semua orang."
"Ah enggak tuh, Teh. Banyak orang sini nikah karena dijodohin. Disuruh muluuuu nikah makanya nikah biar enggak pusing dengerin orang ngomong."
"Ih." Gista terkejut mendengar itu.
Memang sih di kota juga banyak hal semacam itu. Mengomentari hidup orang dan memaksa-maksa mereka lewat kalimat mengintimidasi agar ikut sependapat, karena mereka pikir hidup mereka lebih benar.
Tapi masa seseorang mengikuti yang semacam itu? Itu kan orang toxic.
__ADS_1
"Saya juga sebenernya hampir kemakan."
Endra menatap ekspresi kaget Gista dan terlihat menyukainya.
"Kalo aja Teteh enggak ada, mungkin beneran saya nikahnya sama Yura. Daripada saya ribet dirongrong mulu sama orang."
"Ih, kok gitu? Enggak boleh dong."
"Di sini yang enggak boleh tuh beda sendiri, Teh. Kalo orang makan nasi ya semua orang harus makan nasi. Kalo enggak, nanti beda sendiri, diomongin akhirnya."
Gista mengerjap. Tertawa kecil mendengar Endra bicara soal dirinya, tapi ternyata menghibur bukannya meledek.
"Iya." Gista jadi ingat semua orang seakan tidak bisa paham. "Padahal suka-suka orang, yah?"
"He-em. Makanya saya sukanya Teteh."
"Lah?"
"Soalnya suka sama Teteh enggak perlu maksa." Endra mengedipkan mata genit. "Suka sama Teteh mah enggak perlu disuruh saya. Teteh senyum aja coba, saya udah mau ijab kabul."
"Sembarangan!"
"EHEM!"
Keduanya menoleh kaget, tak sadar sekarang jadi pusat perhatian.
Tapi waktu melihat Juli geleng-geleng bete, Endra cuma cengengesan, sementara Gista mengubur wajahnya di lengan Endra.
__ADS_1
Ish, padahal lagi seru bicara sambil menatap muka Endra.
*