Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
53. Menjenguk Anak Bayi


__ADS_3

Endra dengar soal pembicaraan Gista dan Ashar tadi, soalnya pintu kamar terbuka. Kebetulan, Endra memang betul-betul mau mengajak Gista jalan-jalan biar dia tidak sumpek seharian di rumah.


Ternyata Ashar tidak mau semudah itu merelakan Gista.


Bisa dimengerti, sih. Dia pacaran sama Gista tiga tahun, kalau Endra tidak salah ingat Gista memberitahunya.


Tapi, Endra juga tidak mau tuh menyerahkan Teteh Gemesnya. Mau dia pacar Gista tiga tahun kek, tiga belas tahun kek, pemenang pada akhirnya jadi yang menikahi.


Kalau metode dia mengajak Gista mengingat kenangan, Endra sebagai orang baru akan mengajak Gista buat bikin kenangan.


Naik motor melewati sawah-sawah, kebun-kebun baik milik Endra atau milik beberapa warga lainnya.


"Teteh pake masker yah, biar enggak kecium banget bau di dalam. Biarpun enggak banyak bau kayaknya."


Gista memasang maskernya baik-baik sesuai perintah Aa Dokter-nya. "Temen kamu baru lahiran?"


"Istri temen saya, lebih tepatnya, Teh. Dia baru lahiran kemarin, mau akikah besok. Tapi katanya anaknya demam jadi khawatir, makanya manggil saya."


Sambil berjalan di belakang Endra, Gista melihat-lihat sekitaran yang sebenarnya cukup ramai. "Emangnya bidan di sini enggak ada?"


"Bidan lagi ke kota, Teh, jadi saya disuruh wakilin. Enggak parah juga indikasinya. Kecuali nanti kalau saya liat dia parah, baru saya kasih tau bidan."


Gista memegang tangan Endra saat mereka masuk ke dalam rumah. Di dalam cukup banyak orang juga duduk lesehan di lantai.


Melihat Endra datang, jelaslah mereka semua langsung berisik. Apalagi waktu melihat tangan Endra memegang Gista di belakangnya.


"Eh, Eneng Gista dateng juga. Sini, Neng. Masuk sini."

__ADS_1


Gista mengangguk canggung. "Iya, Bu."


Terus Endra bicara pada yang punya rumah dengan bahasa Sunda yang tidak Gista paham maksudnya apa. Kayaknya sih Endra sedang menanyakan keadaan si anak bayi bagaimana, gejalanya apa saja dan lain-lain.


Baru setelah itu Endra, masih memegang tangan Gista, menariknya buat masuk ke kamar sang bayi berada.


"Aduh, yang gandeng-gandeng bawa calon."


Kayaknya itu ibu si bayi, yang menyambut mereka ramah dengan senyum bersahabat pula.


Gista merasa tidak terlalu canggung, soalnya umur perempuan itu sekitaran Gista juga, kayaknya.


"Sini, Teh." Endra menuntun Gista buat duduk di tempat tidur juga, sebelum dia ikut duduk.


Endra mengeluarkan hand sanitizer dari kantongnya, memberikan juga pada Gista agar sama-sama membersihkan tangan.


Gista cuma melihat ketika Endra memegang anak itu pelan-pelan. Bayinya begitu kecil, begitu kurus sampai Gista malah takut waktu melihat tangan dan kakinya.


Apalagi waktu Endra menggendong anak itu, Gista malah ngeri karena membayangkan dia jatuh.


"Ugh."


Endra menoleh. "Kenapa, Teh?"


Tangan Gista mencengkram kaus Endra. "Saya takut dia sakit."


Ibunya anak itu tertawa. "Sama yah, Teh, saya juga. Gantiin bajunya aja saya enggak berani, loh. Kecil banget soalnya."

__ADS_1


"Beratnya berapa?" Gista spontan saja bertanya, daripada canggung.


"Cuma sekitar dua koma tiga. Tapi alhamdulillah normal, Teh."


Endra menggendong anak itu dengan kedua tangannya, mendekatkan pada Gista. "Coba Teteh pegang."


"Enggak mau."


Endra malah tertawa. Lucu melihat Gista takut pada anak kecil. Tapi setelah itu Endra letakkan lagi anak itu di kasurnya.


"Ini kayaknya cuma hawa panas aja." Endra agak membuka sedikit selimut yang membungkus bayi itu. "Tuh, mukanya merah banget. Agak demam memang. Insyaa Allah enggak kenapa-napa."


"Aku takut banget loh, A. Apalagi kecil banget gini, loh. Apalagi dianya diem terus. Nangisnya cuma tadi pagi aja, itupun sebentar doang. Kemarin-kemarin tuh malah kayaknya enggak nangis sama sekali. Kalo bangun juga diem aja. Aku takutnya ada apa-apa."


Iya, loh. Gista melihat bayi itu sangat tenang dan seperti tidak terusik.


Matanya cuma terbuka, lalu tertutup. Badannya tidak bergerak-gerak juga, kecuali sedikit. Tapi mukanya memerah dan kata Endra dia demam.


"Enggak di bawa ke rumah sakit aja?" tanya Gista, khawatir jika terjadi apa-apa.


Malah waktu melihat anak ini, Gista jadi lupa kalau dirinya juga butuh ke rumah sakit.


*


...PENGUMUMAN :...


...karya ini update setiap hari sekitar jam 18:00 sore selama bulan ramadan. sebagai bentuk dukungan bagi karya dan author, tinggalkan jejak kalian dengan like-komen 🙂...

__ADS_1


__ADS_2