
"Ujung-ujungnya Teteh juga mau ninggalin saya."
Eh?
Kenapa Endra mengatakan sesuatu yang menakutkan begitu?
Kenapa Gista harus gila meninggalkan orang sebaik dia? Apa Gista memang telah gila? Apa Gista memang sedang tidak waras sampai-sampai malaikat berwujud manusia ini ia tinggalkan?
Fitnah macam apa itu?!
"Endra!"
Tapi Endra tak mau mendengarkan penjelasan Gista. Dia berbalik pergi, berjalan terburu-buru turun ke bawah. Gista berusaha mengejarnya dengan keadaan kaki gemetar akibat kurang asupan, yang pada akhirnya malah berakhir ia tertinggal oleh Endra yang kini sudah membawa motornya pergi.
Gista menutup wajahn dengan kedua tangan. Tentu saja Gista menangis mendengar perkataan itu.
Lihat, kan. Endra pasti salah paham. Tapi kalau Gista juga masih di sini, Endra tetap akan kesusahan. Lalu sebenarnya Gista harus apa?
"Gis, kamu kenapa nangis di situ?"
Gista langsung mendongak ketika suara Ashar terdengar. "Endra salah paham," adunya seketika.
Lupa lagi bahwa orang di depannya ini adalah mantan Gista yang membuat Endra cemburu.
"Dia kira aku mau pulang karena udah balikan sama kamu."
".... Terus Gasendra ke mana?"
__ADS_1
"Enggak tau. Dia pergi."
Ashar berjalan pincang turun dari tangga. "Yaudah, kamu naik ke kamar aja. Biar aku yang ngomong sama Gasendra."
Sesaat, Gista terkejut. Kenapa mantannya justru mau pergi membujuk Endra yang salah paham?
"Kamu mau ngomong sama Endra?"
"Ya gimana pun dia yang ngurusin kamu sama aku di sini, kan? Dia mesti tau kamu mau ke dokter."
"Tapi—"
"Percaya sama aku. Aku enggak suka ngajak ribut orang yang punya jasa buat aku."
Karena dia berkata begitu, Gista mau tak mau percaya. Taoi entah kenapa Gista merasa aneh ketika Ashar pergi.
Kenapa Ashar ... terkesan tidak masalah sama sekali Gista bersama Endra? Bukankah dia yang bilang dia tidak mau menyerah?
*
Tak sulit bagi Yura mengenali wajah sedih Endra.
Karena setiap kali dia sedih, Endra sering datang ke kuburan orang tua dan adiknya, yang memang dikuburkan persis di belakang rumah Yura, sekaligus berbatasan dengan perkebunan.
Hari ini Endra tiba-tiba datang ke sana, duduk sendirian mencabuti rerumputan yang tumbuh di sekitaran makam.
"Mah, A Gasen ke kuburan." Yura melapor pada ibunya meskipun tidak disuruh sama sekali.
__ADS_1
"Biarin aja." Mamah menjawab setengah hati. "Biar dia renungin yang sama dia selama ini itu kita, bukan cewek entah siapa dari kota."
"Mah, Papah kan udah bilang A Gasen enggak marah karena Teh Gista. Lagian kalo Mamah yang marah sama A Gasen, A Gasen juga pasti sedih."
"Sedih apa dia buat Mamah? Gasen udah enggak mikirin kita karena ada pacarnya."
Mamah memang sangat keras kepala. Yura bukannya senang jika Endra memilih Gista, tapi kalau orang yang notabene sepupunya itu sedih, ya Yura juga akan merasa sedih.
Karena Mamah terlihat tidak mau menurunkan ego, Yura putuskan buat keluar sendiri.
Yura keluar dari pintu depan, baru akan turun ke jalan setapak menuju perkebunan sebagai jalan yang sama menuju kuburan kekuarga saat tiba-tiba seseorang berbicara.
"Dek."
Yura menoleh, merasa yakin itu panggilan untuknya. Tapi Yura baru terkejut ketika menoleh, karena yang memanggilnya ternyata adalah orang kota selain Gista di rumah Endra.
"Iya, A." Yura membalas ramah sekaligus canggung. Sebagai perempuan lugu dari desa, Yura tidak pernah nyaman diajak bicara oleh orang asing. "Ada apa ya, A?"
"Kamu sepupunya Gasendra, kan?"
"Iya, A. Aa-nya nyari A Gasen?"
"Um, kamu liat?"
Yura menunjuk ke arah perkuburan dengan sopan. "A Gasen lagi ziarah di kuburan Mamahnya, A. Kalau mau saya anterin."
Ternyata laki-laki itu malah berkata, "Enggak. Enggak usah."
__ADS_1
*
Tinggalin like kalian sebagai bentuk dukungan karya author, yah 😊