Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
22. Siksaan Apa Ini?


__ADS_3

Gista tidak bisa berinteraksi banyak dengan penghuni rumah ini gara-gara penciumannya. Ia begitu sensitif membaui apa pun hingga harus bersembunyi dan menutup mulut juga hidungnya.


Selama beberapa hari, ia dan Endra menghabiskan waktu melakukan banyak percobaan.


Masuk hari empat puluh ia sakit, bukan sembuh yang Gista rasakan, melainkan rasa terbiasa akan sakitnya.


Mulai ada perubahan yang terjadi.


Gista mulai mengganti odolnya dengan lemon dan garam, tidak lagi keramas kecuali dengan air hangat, juga akhirnya mendapat sabun lemon yang bisa ditoleransi olehnya.


Endra benar-benar membuktikan diri bahwa dia sukarela repot tak peduli mereka asing. Gista mulai merasa sangat terbiasa hingga di mana pun matanya melihat pasti ada Endra di sana.


Hari ini, untuk kedua kali, Endra mengajaknya keluar. Semangat Gista pelan-pelan mulai bangkit, meski kadang rasa jeruknya membuat ingin muntah, ia memaksakan diri makan tiga butir jeruk setiap tiga jam sekali.


Dengan begitu, biarpun tidak makan karbo, setidaknya asupan gula memberinya energi.


"Kok kayaknya banyak yang liatin kita, Ndra?"


Endra mengintip dari kaca spion. "Soalnya di sini jarang ada anak kota, Teh. Apalagi mukanya Teteh itu muka-muka orang kota banget."


"Muka orang kota emang beda sama muka orang desa?"

__ADS_1


Dia tergelak. "Maksudnya aura mukanya gitu, Teh. Duh, bingung jelasinnya. Pokoknya Teteh kalau diliat tuh orang langsung paham Teteh-nya orang kota. Apalagi bajunya Teteh juga, ya begitulah."


Baju?


Tapi dari awal sampai sekarang Gista cuma pakai kaus terus, tuh. Memangnya orang desa tidak punya kaus? Lalu kenapa Endra pakai kaus?


Karena bingung, Gista diam saja. Lagi-lagi Endra tak langsung sampai ke tujuan. Dia kali ini berhenti di depan tenda pesta pernikahan yang telah selesai didekorasi.


Gista sempat lupa kalau memang ia pernah lihat bagian ini, namun kenapa mereka di sini?


"Bentar yah, Teh. Saya ke dalem dulu." Endra turun dari motor tanpa meminta Gista turun.


"Kenapa?" Gista spontan bertanya. Canggung ditinggal, apalagi sekitaran mereka ramai.


"Pengantin ceweknya katanya sakit, Teh. Saya disuruh periksa."


Memangnya di tempat ini tidak ada dokter yang bekerja? Kenapa harus Endra?


Maunya bertanya begitu, namun mungkin terdengar menjengkelkan. Jadi ia biarkan saja Endra masuk, memang tidak diajak karena keramaian pasti penuh dengan bau parfum orang.


Parfum adalah musuh Gista sekarang.

__ADS_1


Apalagi, pernikahan identik dengan banyak makanan. Bahkan kalau acaranya belum mulai, keberadaan tamu-tamu menunjukkan kalau tuan rumah harus membuat makanan banyak, kan?


Tempat ini jelas tidak cocok buat Gista.


Gista diam bermain ponsel. Melihat ada jaringan muncul di tempat ini hingga ia menyalakan data.


Langsung, serentetan notifikasi masuk.


Dari Ibu, dari Ibu, dari Ibu, dari Ibu, lalu dari beberapa orang yang tahu ia sakit aneh.


Tidak ada yang sempat ia balas karena tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Neng!" Seorang ibu berdaster mengibas-ngibaskan tangan. "Sini atuh, Neng. Kenapa duduk di situ? Panas! Sini masuk."


Duh, bisa tidak dia paham kalau orang tidak masuk ketika temannya masuk berarti memang dia tidak mau masuk? Maksud Gista, ia pasti bakal masuk kalau memang mau dan kalau tidak ya ... ya tidak.


"Enggak usah, Bu. Makasih."


"Sudah, jangan malu-malu. Sini."


Duh, siksaan apa ini, Tuhan?

__ADS_1


*


__ADS_2