Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
37. Pacarnya


__ADS_3

Gista meringis. Berusaha mengalihkan pikiran dengan memerhatikan sekitaran. Seketika, pikiran Gista teralihkan.


Tempatnya menakutkan. Kenapa harus berhenti di tempat macam ini, sih? Gista itu takut setan!


Iya sih setan itu tidak ada. Maksudnya, tidak terlihat. Tapi ya tetap saja menakutkan!


Duh, Endra kok bisa-bisanya tenang di sini?


"Teh." Tiba-tiba, Endra memanggilnya.


Tapi karena memikirkan setan, Gista sibuk memejam takut.


"Kalau saya suka Teteh, marah enggak?"


Gista tersedak. "Sori?"


Pemuda itu sudah melajukan motornya lagi. Tidak bicara apa-apa.


Gista mendadak gelisah untuk alasan berbeda. Lupakan soal vibes angker atau jok merosot! Tadi dia bilang apa? Jelas dia bilang sesuatu, kan?


Ulang, dong.


Tapi Gista juga tengsin, mana mungkin ia menanyakan sesuatu yang Endra tidak mau ucapkan kedua kali.


Duh, dia mengucapkan itu untuk mengetes Gista jangan-jangan? Bagaimana kalau dia tahu Gista suka padanya dan dia ilfil?

__ADS_1


Pikiran buruk Gista semakin menjadi-jadi. Pada akhirnya ia diam sampai mereka tiba di lokasi yang cukup jauh, nyaris menyentuh jalan raya.


Endra turun dan Gista mengikutinya. Sebuah mobil truk terparkir di pinggir jalan bersama sejumlah orang berkumpul di sana.


Kecelakaan itu nampaknya melibatkan mobil truk.


"Naha ie, Kang?"


Mereka bicara dengan bahasa Sunda, maka Gista cuma jadi penonton.


Gista siibuk memandangi sekitaran, menemukan sebuah motor yang rusak parah menandakan dia juga terlibat kecelakaan. Tapi di mana korbannya?


Endra tiba-tiba beranjak. Pergi ke arah kegelapan dan Gista masih mengikutinya. Di dekat pohon ada seorang laki-laki duduk bersandar dengan kondisi terluka.


Begitu melihat dia, Gista langsung menegang.


Endra menoleh, kaget pada ucapan Gista. "Teteh kenal?"


Gista tak dapat menjawab. Langsung mendekatinya untuk mengecek kondisi pria itu.


"Ashar! Ashar! Ashar, bangun!"


Dia terluka parah. Ada lecet di kepalanya, beberapa goresan di wajah juga sikunya. Kalau dia benar terlibat kecelakaan dengan mobil truk, jangan bilang dia patah tulang?


Gista seketika itu ketakukan. Bagaimanapun Ashar adalah kekasih—oke, mantan kekasihnya. Gista tak mungkin baik-baik saja kalau Ashar sampai mengalami sesuatu yang buruk, apalagi di depan mata Gista.

__ADS_1


"Teh, biar saya kasih pertolongan pertama dulu." Endra maju, perlahan memberi penanganan.


Tangan Gista menggigil menyentuh tangan Ashar. Tanpa bertanya pun ia jelas tahu kenapa orang ini ada di sini.


Gista lupa kalau melacak lokasi jaringan seseorang sekarang semudah membalik telapak tangan.


Tapi kenapa Ashar sampai datang ke sini? Gista tahu bisa saja dia khawatir namun ... pertengkaran mereka terakhir kali bukannya memutus alasan Ashar peduli?


*


Jadi itu pacarnya.


Anjing, adalah umpatan yang tertelan oleh Endra begitu tahu bahwa pria itu bernama Ashar, pacarnya Gista yang dari Jakarta.


Belum pulih Endra merutuki diri karena kelepasan bilang suka, sekarang malah harus melihat Gista menatap wajah pacarnya sendu.


Jelas masih ada rasa. Kalau tidak ya tidak mungkin dia menggenggam tangannya seerat itu. Kelihatan jelas kalau Gista menyayangi orang ini, dan jelas pula di otak Endra bahwa tadi seharusnya ia tak keleparan berucap baper.


Makanya jangan suka ngembat punya orang, sindir Endra pada dirinya sendiri. Udah tau pacar orang, malah kepedean suka.


Tetehnya mana mungkin buta bedain orang kampung sama orang kota. Baperan emang kamu, Ndra. Tau diri!


Selesai dengan permasalahan kecelakaan dan pengobatan, pasien dibantu pindah ke rumah Endra, berhubung dia pacarnya Gista.


Cowok itu dibaringkan di kasur Gista—kasur Endra yang ia berikan pada Gista, lebih tepatnya—lalu terbaring karena syok ringan yang dia alami.

__ADS_1


Sejauh ini Gista belum cerita apa-apa soal bagaimana dia dan pacarnya.


*


__ADS_2