Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
31. Kamu Ngerti Apa?


__ADS_3

Suasana di sekitar Gista mendadak panas sekalipun AC menyala dalam suhu rendah.


"Kamu tau apa?" balas Gista lebih emosional lagi.


"Ya makanya jelasin kenapa. Kamu kenapa?"


"Terus emang kamu paham kalau aku jelasin?! Kamu paham rasanya mau makan tapi enggak bisa makan?! Kamu paham rasanya parfum tiba-tiba jadi bau ikan mati?! Kamu paham apa?!"


Gista menangis tersedu-sedu.


"Sakit tau, Ashar. Sakit banget. Kamu cuma bisa bilang 'ada apa, aku kenapa, sakit apa' tapi ujung-ujungnya enggak ngerti!"


"Gimana aku ngerti kalo kamu enggak jelasin."


"Gimana aku mau jelasin kalo aku juga enggak paham?!" teriak Gista frustrasi.


Ia benar-benar frustrasi sampai rasanya nyawa Gista naik ke kerongkongan akibat teriakannya.


"Aku juga enggak ngerti! Sebenernya aku kenapa?! Kenapa cuma aku yang aneh?! Kenapa cuma aku dari semua orang?! Dokter enggak tau aku kenapa, kamu enggak ngerti aku kenapa, Ayah bilang aku gila! Terus sebenernya aku harus ke mana?!"


Kenapa semua orang menuntut Gista buat sabar, buat paham, buat mengerti, buat menjelaskan padahal semua itu justru Gista yang pertanyakan!


Kenapa, kenapa, kenapa, kenapa! Gista sudah bertanya kenapa ke dirinya sendiri sejak bulan kemarin!


Tapi dirinya juga tidak bisa menjawab apa-apa!

__ADS_1


Memutus panggilan begitu saja, Gista berlari keluar. Ia tak tahu apa yang salah dengan kepalanya, tapi ia cuma berpikir menemui Endra yang selalu menenangkan rasa sakit kepalanya ini.


Cuma dia yang tidak membuat Gista sakit.


Gista mendorong pintu kamar Endra. Terlalu larut dalam kesedihan sampai ia tak sadar pemuda itu baru saja akan membuka baju, sedang berada dalam kondisi setengah telanj*ng.


"Teh—"


Sebelum dia bisa bertanya, Gista mengubur diri dalam pelukannya. Ia menangis keras. Hanya mau melampiaskan rasa kesal dan marahnya lewat rintihan pilu.


Semua rasa sakit ini, Gista tak dapat menanggungnya sendiri.


Di sisi lain, Endra terkejut. Namun Endra menunduk dan menemukan wajah menyedihkannya yang menangis.


Tangan pemuda itu bergerak mengusap pipi Gista, balas memeluknya erat. Tidak sedikitpun terlihat ada risi atau heran di wajah Endra.


"Teteh kenapa?" Endra berbisik dengan halus. Mengusap-usap punggung Gista naik turun. "Siapa yang bikin nangis, Teh?"


Gista merintih seperti tengah kesakitan.


"Teteh jangan nangis kayak gini. Saya jadi ikut sedih. Teteh kenapa? Cerita sama saya."


Gista nyaris menjerit pilu. "Kok cuma saya yang aneh?" isaknya tertahan. "Kok cuma saya yang enggak bisa makan?"


Rasanya Endra tertusuk mendengar pertanyaan pilu itu. Menjadi satu-satunya orang aneh di dunia pasti tidaklah mudah. Semua orang melakukan itu seolah memang wajar, sementara Gista malah tidak bisa karena terhalang.

__ADS_1


Itu adalah ujian yang Endra tak bisa bayangkan sama sekali.


Sungguh, Endra tidak tega melihatnya. Dipeluk perempuan itu erat-erat, berharap kesedihannya berkurang.


Jangan menangis. Demi Tuhan, jangan menangis. Endra sangat tak suka mendengarnya.


"Teteh punya saya." Endra akan selalu bersamanya sampai dia sembuh.


Gista menangis keras. "Kok cuma saya yang begini? Saya udah datengin tiga dokter, tapi satu aja enggak bisa bikin saya sembuh. Terus saya harus ke mana, hiks? Saya sebenernya kenapa, Endra?"


"Iya, Teh. Pelan-pelan, yah."


"Semua orang bisa makan."


Gista meringis di antara tangisan, memejamkan matanya karena merasa sekarang ia begitu menyedihkan.


"Semua orang bisa makan, kenapa saya enggak? Emangnya saya salah? Emangnya saya jahatin orang makanya saya dihukum? Saya juga mau normal."


Endra benar-benar memeluknya sekuat tenaga. "Teteh normal, kok. Sabar, yah? Besok-besok pasti balik lagi. Pasti. Kita berobat sama-sama."


"Tapi udah sebulan," ratap Gista tanpa harapan. "Udah sebulan saya begini, hiks. Udah sebulan kenapa belum sembuh?"


"Iya, Teteh." Endra mengusap-usap punggungnya. Terus dan terus mendekap gadis itu. "Sedikit lagi aja sabar. Sedikiiiiit lagi aja. Teteh jangan nangis dulu. Saya kan ada. Saya bakal dampingin sampe Teteh sehat lagi."


Makanya jangan menangis. Jangan memperlihatkan wajah sedih itu pada Endra.

__ADS_1


Endra tak mau lagi melihat seseorang yang ia sayangi menangis lalu putus asa meninggalkannya.


*


__ADS_2