
Sebenarnya, kalaupun Endra tidak pura-pura sakit, Gista juga bakal memberinya pelukan sebanyak yang Endra mau bahkan tanpa alasan.
Tapi mungkin karena Endra tinggal di lingkungan pedesaan yang lebih konservatif, Endra jadi menggunakan metode beginian untuk minta pelukan.
Gista tidak bergerak dari pelukan Endra bahkan setelah sejam berlalu. Tatapan Gista malah fokus pada wajah tenang Endra, yang tampak sangat menikmati tidurnya itu.
Jantung Gista berdebar-debar keras, tapi Gista pun tak ragu menyapukan ujung jemarinya ke sudut bibir Endra yang melengkung samar ke bawah.
Wajah dia malah terlihat lebih serius waktu tidur.
Pada jam kedua Gista dijadikan bantal guling, ia mulai pegal.
Gista sedikit menggerakkan badannya, agar mencari posisi baru. Namun gerakan kecil itu sudah cukup membuat Endra seperti menolak, menarik Gista semakin erat ke pelukannya.
Antara capek tapi gemas, Gista akhirnya pasrah.
Lama Gista cuma memerhatikan wajah Endra. Dan entah karena dorongan apa, Gista mencium pipinya.
Endra tidak bergerak. Tetap kelihatan nyenyak.
Ciuman pertama itu mengundang ciuman kedua. Gista mencium tulang hidung Endra, kemudian mencium sudut mata, kemudian mencium keningnya, kemudian mencium pipinya lagi.
Endra masih pulas, jadi Gista tertawa kecil.
__ADS_1
Selama dia tidak lihat, ya bebas dong Gista ngapain.
Tatapan Gista turun ke bibir Endra. Untuk situasi sekarang, Gista tak bisa melakukan sesuatu yang mungkin juga sangat diinginkan Endra.
Tapi karena dia tidur, seharusnya dia tidak sadar.
Gista mengecup bibirnya.
Sekali, dua kali, tiga kali. Empat dan lima menyusul sebelum Gista memeluk Endra sama eratnya.
"Kamu udah cukup," bisik Gista di pipi Endra, dekat telinganya. "Aku sayang banget sama kamu."
Gista mencium pipi Endra lagi dan membiarkan bibirnya tetap di sana, sambil perlahan-lahan menutup mata.
Dalam keadaan matanya tertutup, Endra sebenarnya sedang terbakar api yang begitu panas.
Oleh ciuman Gista di seluruh sudut wajahnya, ciuman ringan namun sialan tanggung di bibirnya, dan bisikan lembut Gista itu.
Ya Allah, keluh Endra dalam hati. Aku lagi dosa, dosa banget sekarang. Tolong mudahin aku nikahin biar enggak dosa lagi.
Kalau bukan karena sakitnya Gista, Endra mungkin sudah pergi mendatangi orang tua Gista biar cepat menikah.
Bahkan kalau orang tuanya Gista minta uang pernikahan setengah M, kayaknya Endra bakal jual aset biar mereka bisa menikah.
__ADS_1
Tapi itu mustahil sebab Gista sedang sakit.
Penyakit yang dia derita pun menghambat banyak hal dalam hidupnya, termasuk hal yang dilakukan sepasang manusia setelah menikah.
"Teh."
Berbeda dari waktu Gista tidak berani bergerak, Endra langsung melepaskan pelukan itu begitu Gista tidur lelap.
Endra memindahkan selimut tipis menyelimuti Gista. Menyeka sedikit keringat di keningnya yang jatuh karena udara panas tapi mereka berpeluk pelukan lama.
Seperti Gista tadi menghadiahi wajahnya ciuman, Endra pun menunduk. Mencium seluruh sudut wajah Gista, mengecup bibirnya yang tertutup rapat.
Bibir Endra menekan lembut sudut alis Gista. "Aku juga sayang kamu, Gista."
Sampai sekarang Endra dan Gista masih saling bicara 'saya-kamu' satu sama lain. Itu sulit diubah karena mereka terbiasa, bahkan setelah mereka cukup dekat untuk saling sayang.
Tapi itu tidak masalah bagi Endra.
Ia beranjak dari kasur, menggeser kipas agar mengusir panas dari Gista sebelum Endra beranjak keluar kamar.
Endra harus membuat obat Gista dan menemaninya makan. Kalau tidak, dia akan lupa.
*
__ADS_1
Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊