Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
23. Merebut Kang Dokter


__ADS_3

Rasanya tidak nyaman diperlakukan begitu meski niatnya baik mau menawarkan. Mungkin dia pikir Gista merasa asing jadi tidak berani masuk.


Maka dengan terpaksa ia menjauh dari motornya Endra, ditarik masuk ke tenda yang telah penuh hiasan bunga-bunga itu. Gista sudah sering menghadiri pernikahan gedung, jadi sejujurnya ia menilai dekorasinya tidak cantik.


Tapi kalau dinilai dari kacamata awam dan dikorelasikan dengan situasi desa, mungkin ini sudah sangat cantik. Penuh bunga-bunga namun sejujurnya panas karena kanan kiri ditutup tenda.


Ya Tuhan, tolong jangan buat Gista berkeringat banyak. Ia paling tidak bisa mencium bau keringatnya sekarang.


"Sini, Neng. Makan kue dulu."


Bagaimana ia bisa menghindari situasi ini? Berkata kalau ia sakit jadi tidak bisa makan?


Nanti kalau mereka bertanya sakit apa, Gista harus menjelaskan kalau itu sakit aneh yang namanya tidak tahu apa namun membikin Gista muntah setiap saat?


Dokter saja tidak paham, apalagi masyarakat awam.


Diam-diam ia menutup mulut. Mual oleh aroma parfum dan entah bau apa lagi di sekitaran.


Ya Tuhan, orang-orang ini bisa salah paham Gista terlalu sombong makanya tidak mau membaur. Padahal bukan.


"Ayo, Neng. Makan atuh, jangan diliatin aja. Eneng sukanya kue apa? Kue kering atau kue basah?"

__ADS_1


Endra.


Gista merintihkan nama Endra dalam hari, berharap dia bergegas keluar. Kalau ada dia, setidaknya ada penjelasan yang bisa diberikan.


Mau tidak mau, dialah yang bisa menyelamatkan Gista dari situasi ini.


Matanya menatap sepiring kue cokelat yang diambilkan oleh ibu-ibu itu. Tampaknya enak, walau diletakkan di piring sederhana mirip alas kopi di warung.


Perut Gista agak lapar melihatnya. Tapi ia trauma ketika tahu rasa seenak apa pun akan berubah sampah di mulutnya.


Ketika semua orang melihat, Gista hanya punya pilihan meraih sendok, menyendoknya sesedikit mungkin untuk dimasukkan le mulut.


Rasanya seperti dipaksa menelan cacing. Napas Gista sampai tertahan.


Gista mau menangis ketika ia menelannya demi menjaga perasaan mereka.


"Eneng Gelius ini teh sahanya Kang Dokter?"


Bibir Gista bergetar. Tak bisa fokus karena tenggorokannya seperti mulai berkontraksi, ingin muntah.


Jangan muntah. Ini pemberian orang. Nanti mereka tersinggung.

__ADS_1


Pasti bisa tahan. Cuma sesuap. Cuma sedikit makan jadi pasti baik-baik saja.


"Pacarnya Kang Dokter dari kota yah, Neng?" tanya yang lain. "Waduh, susah ini. Eneng-nya cantik begini kayak artis Korea, Kang Dokter mana nolak."


"Iya, yah. Saya ngiranya Kang Gasen sama Yura nanti jadi ke pelaminan. Eh, ternyata udah punya cememew di kota."


Ini kenapa jadi bicara seakan-akan Gista datang merebut Kang Dokter dari tangan Yura?


Gista jadi semakin ingin muntah karenanya.


Dan karena ia sudah benar-benar tidak tahan, Gista berlari keluar tenda untuk muntah.


Air matanya keluar, setelah beberapa hari lepas dari gejala muntah, lagi-lagi ia harus mengeluarkan isi perutnya.


Dada Gista ikut sesak karena perasaan frustrasi. Gista tak mau muntah-muntah lagi, ya Tuhan!


Tentu saja itu mengundang perhatian. Apalagi Gista muntah-muntah di depan pesta, dan kerongkongannya seperti melebar paksa untuk mengeluarkan secuil kue tadi.


Suara muntahan Gista terdengar heboh. Secara naluri Gista mau makanan menjijikan itu keluar dari lambungnya bahkan kalau harus ikut keluar bersama lambung sekalian.


Saking ributnya, Endra keluar dari rumah pengantin.

__ADS_1


*


__ADS_2