Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
59. Semesta Belum Merestui


__ADS_3

Endra memindahkan Gista dari kursi itu ke kasurnya. Memastikan dia berselimut tipis, tapi juga menyalakan kipas angin agar Gista tak terlalu panas.


Ingat dan ingat, Gista bahkan terganggu oleh aroma keringatnya sendiri. Jadi dia juga tidak bisa tidur dalam kehangatan.


Sebelum benar-benar beranjak, Endra diam-diam mengambil satu kecupan kecil di sudut bibir Gista dan keningnya.


Oke, Endra telah melakukan sebuah kejahatan. Tapi ... masa bodo enggak mau tau.


Hmpt! Memangnya salah kalah Endra mau mencium wanitanya sendiri?


Walaupun diam-diam. Soalnya kalau terang-terangan, lalu Endra kelepasan minta lebih, sementara Gista jelas tidak bisa. Tahap itu agak sulit Gista lalui karena yah, intinya begitu.


Semesta belum merestui.


"Itu anak kota—mantannya Neng Gista, dia enggak marah kamu ngerebut pacarnya?"


Endra mendengkus. "Kapan aku ngerebut? Teteh-nya yang milih aku, Kang. Aku mah enggak pernah maksa."


"Licik juga yah kamu. Menang enggak pake perjuangan."


Endra malah tertawa. "Itu namanya rejeki enggak bakal diambil orang, Kang."


"Terus gimana kalo ternyata nanti kamu diputusin juga? Buktinya Neng Gista pacaran lama terus putus juga. Siapa yang mastiin jodohnya kamu?"


A Zaka ternyata suka menghancurkan kebahagiaan seseorang.


Tawa Endra jadi hilang, digantikan perasaan kesal memikirkan itu bisa saja terjadi.

__ADS_1


Oke, kalau jodoh tidak bisa hanya ditunggu maka Endra akan memastikan jodohnya jatuh ke tangan dengan cara apa pun.


Makanya kemarin malam Endra bekerja keras. Ia berjuang untuk memberi jodohnya yang terbaik, agar Endra pantas untuknya.


"Intinya, Kang, aku bakal nikah duluan daripada Akang. Yang sabar."


A Zaka mengumpat kesal tapi Endra mengabaikannya.


Tak seperti kalau Endra membonceng Gista, motor Endra melaju cepat ke kediaman bibinya sambil membonceng A Zaka. Mereka langsung sampai dalam sekejap mata dan Endra langsung bisa mendengar suara Tante Inah memerintahkan orang buat bersih-bersih sebelum pembeli dari kota datang.


A Zaka turun langsung ke perkebunan lewat jalan pintas di samping rumah, sementara Endra masuk ke rumah terlebih dahulu, buat mengambil catatan yang disimpan pamannya.


Tak sengaja, Endra malah melihat Yura sedang mengaduk sesuatu di panci, di dalam dapur.


"Loh, Dek? Kamu enggak sekolah?"


Ekspresi Yura mendadak murung. "Kemarin udah ujian, A. Yura cuma tinggal nunggu pengumuman."


Sss, oke, Endra jadi terdengar sangat jahat, entah kenapa.


Ia benar-benar tidak ingat kalau Yura sudah kelas tiga SMA dan kemarin semua anak SMA sudah berpesta pora lantaran tidak lagi perlu sekolah.


Nampaknya Endra terlalu fokus pada hal lain.


"Gitu, yah." Endra berlalu saja, karena bingung mau membahas apa.


Tentu saja Endra tidak memerhatikan kalau Yura semakin terlihat murung akan sikap Endra.

__ADS_1


Dulu, meskipun Endra tidak menunjukkan rasa suka pada Yura, dia masih sedikit perhatian sebagai sepupu. Tapi sejak ada Gista, perhatian Endra sangat banyak tertuju pada gadis itu.


Yura tahu kalau Endra sejak awal tidak suka padanya sebagai lawan jenis, namun ... Yura setidaknya berhak sedih, kan?


Rasanya seperti ia tak punya nilai dibanding Gista bagi Endra.


Yura meninggalkan sejenak agar-agar yang minta diaduk oleh Mamah-nya. Mengintip dari jendela ke mana Endra pergi dengan catatan pekerjaan.


Dia masih Endra yang biasa, di perkebunan. Tapi dia benar-benar sudah bukan Endra yang biasa, di kehidupan Yura.


Mungkin ucapan Mamah benar adanya.


"Kamu mau biarin kamu malu satu kampung?"


Itu yang Mamah ucapkan waktu mendengar Endra pergi menengok anak Teteh Gina kemarin.


"Satu kampung udah tau kamu sama Gasen bakal nikah, Yura. Kamu udah lulus. Apa kata orang kalo kamu batal nikah sama Gasen? Cuma karena cewek kota sakit-sakitan."


"Mah." Yura merasa tidak enak dengan cara Mamah memanggil Gista, tapi justru Mamah melotot padanya.


"Enggak usah sok kasian sama orang asing! Mamah dari dulu suruh kamu deketin Gasen! Udah Mamah bilang berkali-kali jangan jadi adeknya aja! Mamah tuh mau yang terbaik buat kamu! Yang paling baik buat jagain kamu! Giliran ada kesempatan kamu sama Gasen, kamu biarin gitu aja! Sekarang gimana?! Gasen malah mau sama cewek kota!"


Yura menunduk mendengar semua itu. "Ya aku mesti gimana kalo A Gasen sukanya sama dia, Mah?"


"Gasen tuh suka sama dia karena dia jago ngerayu! Kamu lebih cantik! Lebih ada isinya daripada tulang kering kayak cewek kota itu! Ya kamu usaha dong, Yuraaaa!"


Yura juga tidak mau malu dibicarakan satu kampung.

__ADS_1


*


Tinggalin like kalian sebagai dukungan bagi karya author 😊


__ADS_2