
Endra benar-benar marah sampai seluruh kebahagiaannya mengenai uang hilang tak berbekas. Motornya melaju kencang menuju kediaman, ia parkirkan sembarangan karena hanya ingin mandi sekarang juga.
Salah satu kebiasaan Endra. Jika ia marah besar, Endra bakal langsung mandi, berharap air dingin memadamkan semua panas di tubuhnya.
Karena terlalu buru-buru, Endra bahkan tidak menyadari Gista memanggilnya.
Tak menyadari kalau Gista terkejut akan ekspresi masam di wajah Endra itu.
Bagi siapa pun yang sudah mengenal Endra, rasanya ekspresi marah seperti itu adalah sebuah pertanda dunia sedang tidak baik-baik saja. Seseorang yang sebaik dan sesabar dia, jika sudah marah, maka ada sebuah masalah yang tidak boleh diremehkan.
"Endra—"
"Gis." Ashar menahannya dari mengejar Endra. "Dia cowok, bukan cewek."
Kalau cewek marah, tolong kejar dia dan bujuk sampai dia menceritakan semua alasan dia marah. Setelah itu, kemungkinan besar cewek itu akan baik-baik saja, terutama setelah bercerita.
Tapi kalau cowok marah, jangan usik dengan pertanyaan 'ada apa' berukang kali yang bisa saja membuat dia banting lemari karena emosi. Endra pasti hanya ingin sendiri sekarang.
Ashar cuma tidak mau kalau Gista justru dibentak oleh Endra. Mungkin itu baik buat kehancuran hubungan Endra dan Gista, tapi itu tidak akan baik buat kondisi psikis Gista, jadi Ashar harus mencegahnya.
"Kalo dia udah selesai mikir, dia juga pasti bakal ngomong lagi. Jangan kamu gangguin dulu."
Gista mau tak mau diam, sadar kalau Ashar benar.
*
Gista sangat gelisah memikirkan kemarahan Endra itu. Bahkan waktu masuk jam makan, Gista sengaja makan di ruang santai lantai dua semata agar bisa mengawasi pintu kamar Endra, kapan itu terbuka.
Sebenarnya kenapa dia marah? Apa ada masalah tertentu di luar? Gista benar-benar mau dia cerita sebagaimana Gista sering cerita padanya, agar mereka bisa saling bantu.
__ADS_1
Tapi tidak, karena Ashar benar.
Kesalahan paling sering yang terjadi di hidup semua orang—mengganggu pria saat dia sedang punya masalah karena mengira bercerita bikin mereka lebih lega.
Tidak.
Sangat-sangat tidak.
Bertanya dan terus bertanya penuh perhatian cuma berlaku buat perempuan. Itu adalah pengetahuan sains.
Tapi untungnya Gista tak sampai harus sakit perut menunggu Endra keluar. Setelah sekian lama ia memerhatikan pintu, akhirnya pintu itu bergerak terbuka, disusul kemunculan Endra.
"Endra." Gista langsung memanggilnya. Tak lupa tersenyum lebar biar suasana lebih cair. "Hai."
"Teteh." Endra balas tersenyum, pertanda dia sudah tidak marah.
Hufh, untungnya Gista tidak mengganggu tadi. Tapi sekarang ia benar-benar penasaran ada apa. Maukah dia bercerita?
Gista buru-buru mengangkat ke meja botol dua liternya.
"Ini. Tadi udah abis sebotol."
Endra membuka mata lebar-lebar, terkejut. "Ohiya? Hebat banget Teteh habisin air dua liter enggak saya paksa."
Kepala Gista dielus-elus seolah ia anak kecil, tapi Gista sama sekali tidak keberatan tertawa mengikuti anak kecil.
Ini Endra yang ia tahu. Endra yang hangat dan penyayang.
Endra yang sangat Gista sukai karena sikap halusnya.
__ADS_1
Terlepas dari masalah apa, berarti sekarang dia sudah cukup baik-baik saja.
"Emang Teteh tuh hebat." Endra tiba-tiba memindahkan tangannya dari kepala Gista ke pipinya. Menatap lekat kedua mata Gista sambil tersenyum teduh namun sendu. "Teteh mesti sehat lagi, yah?"
Eh?
"Maksudnya?"
Endra menggeleng. Tiba-tiba malah memeluk Gista erat.
"Saya bakal pastiin Teteh sembuh. Pokoknya harus. Teteh percaya, yah?"
Debaran jantung Gista langsung menggila. Kadar gula darahnya mungkin langsung naik tanpa banyak asupan glukosa.
Tapi senyum sendu Endra tadi, Gista tak bisa melupakannya juga.
Kenapa? Apa yang membuat Endra terlihat sedih barusan?
"Endra."
Pemuda itu masih menyamankan diri memeluk Gista.
Mungkin seharusnya Gista tak mengeluarkan pertanyaan ini sekarang, terutama saat ia merasa kondisi emosi Endra juga tidak stabil.
Tapi Gista hanya spontan mengatakannya.
"Emangnya saya beneran bisa sembuh?"
*
__ADS_1
tinggalin like kalian sebagai bentuk dukungan karya author, yah 😊