
A Zaka merasa emosi Endra sudah naik terlalu tinggi sampai dia mengucapkan kalimat itu. Pria itu diam-diam menepuk punggung Endra, berharap dia tenang, tapi Endra langsung memberi isyarat jangan menyentuhnya.
Dia benar-benar marah.
Sangat amat marah sampai Endra tak lagi mempertahankan kelembutan namun menekannya ketegasan yang tajam.
"Siapa yang tanggung jawab, Om, kalau Teh Gista bunuh diri? Atau kita bilang aja 'siapa yang suruh kamu bunuh diri, masa dikatain gitu aja sampe milih mati'. Om pikir yang kayak gitu bisa hidupin orang mati?"
Juli pada dasarnya tidak suka mendengar keributan begini. Jantungnya jadi berdebar-debar keras dan air matanya meleleh.
Baik dia ataupun A Zaka bisa tahu ketika suara Endra gemetar, dia langsung mengingat adiknya, Nisa.
Tidak ada orang di kampung ini yang tidak tahu mengenai cerita itu. Nisa, adiknya Endra, bunuh diri karena kesepian.
Ketika Endra sibuk kuliah di kota meninggalkan Nisa sendirian di desa ini. Sebenarnya, Nisa tidak benar-benar sendirian. Nisa berteman sangat dekat dengan Yura. Mereka seumuran dan bisa dibilang seperti saudara.
Tapi Nisa itu agak ... bisa dibilang sulit jujur.
Dia sering bilang dia baik-baik saja tinggal sendiri di rumah meskipun sudah dipaksa pindah ke rumah Tante Inah oleh Yura dan keluarganya yang lain. Nisa selalu bilang kalau dia tidak takut, tidak merasa ada masalah karena siang hari dia bersama Yura terus.
Lalu puncaknya dia sudah muak pura-pura, Nisa bunuh diri. Hanya meninggalkan beberapa lembar surat mengenai isi hatinya tentang sepi itu.
__ADS_1
Tentu saja semua orang merasa sedih, tapi tak bisa dibendung orang-orang pun berkata kalau Nisa begitu bodoh.
Kalau dia takut, kenapa dia sok kuat? Kalau dia tidak mau kesepian, kenapa dia bilang baik-baik saja?
Ujung-ujungnya dia mati.
Banyak orang berpikir begitu. Menyalahkan Nisa terlalu berlebihan tanpa memedulikan ada sesuatu yang setidaknya bisa dimengerti, bahwa tidak semua orang bisa membicarakan sepi di hatinya.
Makanya, Endra sangat sensitif pada segala hal mengenai penyakit mental.
"Aku enggak masalah kalau Tante mau ngomong soal dia enggak puas soal Teh Gista. Aku maklumin. Aku tau Tante kecewa soal Yura." Endra mengepal tangannya kuat-kuat. "Tapi kalo omongan Tante cuma bikin orang lain sakit hati, Om mau suruh aku diem aja? Kalau Teh Gista denger itu, Om kira itu wajar?"
Sejak dulu, Endra memang selalu peduli pada kesehatan mental seseorang. Lebih tepatnya sejak Nisa pergi. Dia selalu memperhatikan hal-hal mengenai perasaan orang, sampai kesannya dia sering berlebihan dan memikirkan hal tidak penting.
Tapi yang dia katakan sekarang benar.
"Om minta maaf ngewakilin Tantemu. Dia enggak ngerti, Sen. Yang dia pikirin itu Yura gimana kalau kamu sama Teh Gista."
Napas Endra naik turun. Tapi begitu mendengar omnya minta maaf dengan nada lembut, Endra jadi merasa bersalah juga.
Pemuda itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, berulang kali menarik napas.
__ADS_1
"Aku juga salah. Maaf, Om. Aku emosi."
Endra menelan ludah, sekaligus menelan amarahnya yang tadi meluap-luap. "Aku cuma enggak tahan kalau ada yang kayak gitu di depan aku. Teh Gista itu sakit, demi Allah, itu menderitanya enggak kepikiran sama kita."
Suara Endra bergetar mengatakannya. Sebab jauh di hatinya pun Endra merasa sangat bersedih akan kondisi Gista.
"Enggak semua sakit parah itu mesti nangis-nangis teriak, Om. Enggak semua. Kita itu bangun pagi mau makan ini bisa mau itu terserah. Teh Gista enggak bisa."
"Cium bau nasi panas aja dia nangis. Kita minum kopi minum teh bahagia, Teh Gista nyium baunya aja enggak bisa. Kalo itu cuma pura-pura, tunjukin sekali aja ke aku kapan Teh Gista diem-diem makan."
Karena mustahil seorang manusia, apalagi yang hidup di lingkungan ini, bisa hidup tanpa makan nasi, tanpa makan lauk, tanpa makan sayur, tanpa makan apa-apa kecuali beberapa butir jeruk tiap hari, yang kadang-kadang ditambahkan roti secara paksa.
Tidak akan ada.
Kalau itu cuma pura-pura, cuma sesuatu yang dilakukan demi menarik perhatian, sungguh dia harus diberi penghargaan sebagai manusia paling sabar dan totalitas dalam berpura-pura.
Sebab orang paling jago bohong di dunia ini pun tidak bakal bisa melakukannya.
*
Tinggalin like kalian sebagai bentuk dukungan karya author, yah 😊
__ADS_1