
Endra sebenarnya berpikir dia sudah putus atau hubungan mereka tidak baik. Apalagi Endra sudah baper berkali-kali entah saat dipeluk atau saat di pelaminan tadi.
Derita suka pacar orang, sih. Nyeseknya sampai ke lambung.
Apalagi, sebagai tenaga medis, tugas Endra bukan menyulitkan keadaan namun menenangkan.
"Enggak pa-pa kok, Teh. Teteh tidur juga aja. Mungkin besok baru pacarnya bangun. Tadi juga saya kasih suntik penenang jadi bisa istirahat."
Sebenarnya Endra berharap dia bilang 'saya tidur di kamar lain kalau gitu' tapi Gista mengangguk, lalu berbaring di sebelah Ashar yang tertidur.
Sadar diri kalau memang itu yang seharusnya, Endra keluar, mengucapkan selamat malam dan semoga mimpi indah.
Dirinya masuk ke kamar, perlu minum obat tidur agar bisa tidur dan tidak mimpi buruk.
*
Paginya, Ashar membuka mata sesuai kata Endra. Dan hal pertama kali yang bisa Gista lakukan jelas adalah bertanya.
"Kamu ngapain di sini?" Menurut Gista, pertanyaan itu perlu dijawab sejelas mungkin.
Ashar bangun, menatap sekitaran tempat yang asing itu. "Kok kamu .... Ini di mana? Rumah sakit?"
"Emang rumah sakit keliatan kayak gini?"
Gista menatap murung wajah Ashar. Dia terluka parah, meski hanya dari sisi luar. Kata Endra dia baik-baik saja, tidak juga ada tulang yang patah dan berhasil menghindari sebelum terjadi hal-hal lebih menakutkan.
__ADS_1
Walau begitu tetap saja. Sampai terluka demi menyusul Gista, buat apa? Dia seharusnya sudah tidak mencari Gista setelah Gista bersikap menyebalkan, kan?
"Gis." Ashar tiba-tiba menarik punggungnya, memeluk tubuh Gista erat-erat. "Kamu enggak pa-pa, kan?"
Justru Gista yang harus bertanya.
Tapi untuk sebentar, mungkin tidak apa. Gista balas memeluk dia, menepuk-nepuk punggungnya lembut. "Maaf."
Setidaknya soal kecelakaan itu memang salah Gista. Dia datang jauh-jauh karena dirinya. Apa pun alasannya, dia kehilangan beberapa hal cuma demi sampai ke titik Gista berada.
"Ashar." Gista mendorong dia setelah yakin itu sudah cukup. "Kamu ngapain ke sini?"
"Ngapain?" Ashar mengangkat alis bingung. "Emang aku bisa tenang kalo tau kamu sendirian di sini? Kamu sakit jadi aku mana mungkin ninggalin kamu."
Pernah Gista dengar pepatah begini: perempuan itu kaca. Sekali pecah, ditempel pun tidak akan sempurna.
Maknanya, perempuan adalah makhluk buruk ... yang pendendam. Walaupun tahu seseorang itu baik, walaupun tahu seseorang itu bukannya sangat buruk, badjingan atau tidak bertanggung jawab—tapi sedikit saja dilukai, dia bakal merasa semua kebaikan itu hangus, tidak ada nilainya dibanding sedikit luka yang ada.
Gista adalah makhluk menjijikan itu.
"Aku enggak pa-pa di sini." Gista beranjak menjauh.
Bahkan kalau Ashar jauh-jauh ke sini untuknya, Gista tidak bisa melupakan satu kesalahan dia.
"Mending kamu pulang. Kerjaan kamu gimana kalo kamu di sini?"
__ADS_1
"Gis, please." Ashar berusaha ikut beranjak, tapi kata Endra, lutut dia mungkin akan bengkak selama seminggu lebih, jadi sulit berjalan.
Ashar langsung mengaduh.
"Kamu tiduran aja. Istirahat baru pulang."
"Pulang gimana? Sama kamu? Ayok pulang sekarang kalau sama kamu."
"Aku udah bilang aku lama di sini." Gista mengerjap saat tiba-tiba merasa ingin menangis. "Aku berobat di sini, jadi mending kamu pulang."
"Gis, apa, sih?" Ashar menyahut kesal. "Kamu kenapa, sih? Aku jadi enggak bisa paham sama kamu dari kemarin. Jelasin, aku bilang."
"...."
"Please. Jangan apa-apa kabur, nyuruh aku pulang, enggak mau ketemu orang tua. Kamu bukan anak kecil."
Gista tahu akan begini. Makanya ia tiba-tiba merasa sedih.
Orang ini datang padanya karena peduli. Tapi dia tidak mengerti.
Namun yang Gista butuhkan sekarang bukan kepedulian.
Ia mau pengertian.
*
__ADS_1