Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
72. Kalau Saya Minta


__ADS_3

Gista meremas tangannya satu sama lain saat diserang gugup mendadak. Tapi ia harus jujur agar A Zaka menyampaikan pada Endra juga, kalau-kalau Endra salah paham terlalu jauh.


"Saya enggak mau ngerepotin Endra."


Gista menunduk, selalu merasa sedih tiap kali ia ingat suara tinggi Endra membelanya.


"Dia baik banget belain saya kayak gitu. Makanya saya mau pulang, mau ke dokter buat periksa sekali lagi."


Buat benar-benar memastikan dan meringankan beban Endra juga.


"Tapi Endra malah salah paham saya udah baikan sama Ashar. Padahal enggak. Saya sama Ashar udah enggak ada apa-apa lagi."


Bahkan Gista sedikitpun tidak merasa canggung bicara pada Ashar kalau ia suka Endra. Dan anehnya, yang masih Gista pertanyakan, Ashar juga terlihat tidak terganggu.


Dia hanya terlihat marah di awal dan itu terlihat tulus dia cemburu. Namun sekarang sudah tidak.


Seolah-olah perasaan dia pada Gista hilang di tempat ini.


"Oh, jadi ceritanya Eneng mau balik ke kota dulu berobat, baru nanti balik lagi? Gitu, Neng?"


"Iya." Gista bahkan tak sadar ia tengah cenberut. "Gak mungkin saya enggak balik. Pokoknya enggak boleh ada cewek lain yang nikah sama Endra kecuali saya."


A Zaka tertawa geli mendengarnya.


Sekalipun satu badan Gista terbakar oleh malu, pokoknya ia harus mempertegas. Jangan sampai nanti ia pulang, Endra malah diembat oleh cewek lain.

__ADS_1


Tidak boleh. Dia punya Gista.


"Yaudah atuh Neng, jelasin aja lagi," balas A Zaka lembut. "Ya wajar juga sih salah paham. Kan Eneng mau pulang sama mantan Eneng, jadi susah juga kalo enggak cemburu. Tapi kalo Eneng mau ke dokter ya Eneng mesti pulang. Endra harus ngerti."


"Kalo saya maksa pulang nanti dia enggak salah paham kan saya sama Ashar balikan?"


"Ya kalo itu mah saya enggak tau, Neng. Susah mah enggak cemburu. Atau Eneng pulang aja sendiri, mantannya Eneng pulang sendiri. Nah, itu lebih aman."


"Gitu, yah?" Gista serius memikirkannya. Sadar itu bukan ide buruk juga.


"Atau sekalian aja Eneng dianterin Gasen. Biar sekalian ketemu calon mertua, ngobrol-ngobrol dulu gitu. Kan enggak lucu kalo Eneng mau nikah ternyata enggak direstuin."


Gista dengan polos mengerjap, berpikir kalau saran kedua itu lebih benar lagi.


Tapi situasinya belum mendukung. Gista bahkan belum sembuh jadi kalau ia pulang berkata kalau Endra adalah calon suami barunya, kayaknya Gista cuma bakal dikatai tambah gila oleh Ayah.


"Nah, panjang umur diomongin."


Tanpa disangka, motor Endra mendekat dari arah perkebunan. Gista sedikit heran kenapa Endra naik motor sendiri padahal Ashar tadi pergi mencarinya, namun Gista menahan diri tidak menyebut Ashar.


"Endra."


Pemuda itu turun dari motornya.


Gista sudah ketar-ketir memikirkan Endra mungkin masih marah, bahkan mungkin dia pulang buat memutuskan hubungan mereka.

__ADS_1


Mengingat ekspresi dingin Endra tadi sudah cukup membuat Gista mau menangis.


"Endra."


Pemuda itu menatap Gista dalam diam. Diamnya yang membuat Gista semakin takut.


Jangan bilang Ashar mengatakan hal—


"Kalo saya minta Teteh jangan ke kota, Teteh mau enggak?"


Eh?


"Teteh di sini aja sama saya, mau enggak, Teh?" tanya Endra dengan nada lebih mendesak.


"Tapi saya—"


"Kalo saya bilang Teteh sama saya aja, Teteh mau enggak?"


A Zaka mencoba menengahi karena berpikir Endra masih salah paham soal Ashar. "Sen, Eneng Gista teh mau—"


Tapi sebelum A Zaka selesai bicara, Endra memberi isyarat dia diam dulu, memberi ruang bagi Endra dan Gista saja sebagai pemilik urusan.


"Teteh enggak mau, yah?" tanya Endra, lengkap dengan suara sedihnya.


*

__ADS_1


Tinggalin like kalian sebagai bentuk dukungan karya author, yah 😊


__ADS_2