
Endra menelan ludah, langsung merasa sangat bersalah.
Ia cuma berusaha memberi dia makan dengan baik karena wajahnya terlihat sangat kurus seperti kurang gizi. Kelihatannya juga dia sudah sangat lapar, jadi memang lebih baik membawakan nasi sebagai sumber tenaga utama.
Endra mengira kalau mungkin dia bisa sedikit memaksakan diri. Setidaknya Endra berharap begitu.
Tidak Endra sangka memasukkan nasi ke mulut bahkan sudah cukup membuat Gista muntah tanpa henti.
Ini luar biasa parah, sih.
"Itu kenapa, Ndra?"
"Kamu ngapain, gimana sampe ngamuk gitu?" todong Juli, agak salah paham.
Dia mengira kalau Endra dan Gista bertengkar, makanya Gista mengamuk sampai menangis di kamar mandi.
Endra tidak menjawab, mencari jurnal medis di rak kamarnya yang bisa membantu.
Bagaimana dia bisa seperti itu? Benturan tidak ada, infeksi nampaknya tidak ada—karena sudah dua puluh hari kira-kira dia minum obat infeksi, tidak ada perubahan sama sekali—gejala tumor juga tidak ada—kalau ada, tidak mungkin tiga dokter ahli tidak bisa tahu—dan dia bahkan tidak pernah flu.
Kalau dia memberi gejala flu, hidung tersumbat atau minimal bersin-bersin, masih ada kemungkinan sakitnya karena masalah di bagian hidung itu, namun tidak juga.
Lidah bermasalah, penciuman bermasalah, mentalnya bermasalah.
Bagaimana dia tidak stres? Melihat makanan saja dia trauma.
__ADS_1
Seolah-olah dia tersiksa justru karena ada makanan. Padahal makanan adalah hal yang wajib, harus, pasti dihadapi oleh semua manusia dari ujung belahan barat sampai timur dunia.
"Kang." Endra menuliskan sejumlah merek obat di kertas. "Minta tolong, Kang, ke apotek beliin ini."
Zaka menerima resep obat itu meski tulisan Endra berantakan dan susah dibaca. "Sakit apa itu enengnya?"
"Masalah serius kayaknya di saraf. Kemungkinan harus rontgen biar jelas."
Endra mengecek jam. Sudah mulai malam sementara apotek yang jaraknya cukup jauh dari sini tutup jam sepuluh malam.
"Juga kalau bisa, Kang, beliin jahe, kunyit, pokoknya yang gitu-gitulah. Cengkeh, sereh, semuanya. Sama jeruk nipis."
"Yang gitu kan pagi baru ada, Sen." Juli menimpali sebagai perempuan. "Yaudah deh, aku ikut aja. Kita ke rumah yang jual."
"Yaudah. Minta tolong yah, Jul. Itu kasian kalau enggak dikasih apa-apa. Enggak bisa makan."
Di depan pintu, Endra mendengar suara isak tangis Gista dari dalam.
Hati Endra ... ngilu mendengarnya.
*
Gista merasa sedikit lebih waras setelah melampiaskan emosinya lewat tangisan. Begitu keluar dan mendapati Endra duduk di dekat pintu menungguinya, Gista jadi merasa tantenya dia benar.
Keberadaan Gista jadi beban untuk Endra.
__ADS_1
“Teh, udah baikan?”
Gista mengangguk dengan mata memerah. “Maaf. Saya enggak mau nyusahin kamu, jadi enggak usah peduliin saya.”
Yang Gista butuhkan sekarang cuma atap berteduh. Jadi selama ia diizinkan tinggal di sini, Gista rasa itu sudah cukup baik hati.
Sebaiknya dia tidak melibatkan diri dengan Gista yang tidak jelas.
Atau setidaknya itu yang Gista harapkan, tidak menyusahkan.
Tapi Endra malah beranjak dan tersenyum tenang. “Atuh mah saya yang salah, Teh. Teteh kan udah bilang enggak bisa makan, malah saya paksain. Saya enggak paham jadinya begini.”
Memang tidak ada yang paham rasanya, jadi Gista maklum saja.
“Minum obat tidur dulu, Teh. Biar enak tidurnya. Tapi sekali aja yah, Teh, yah? Cuma malem ini aja.”
Obat tidur, yah? Sepertinya tidak salah juga daripada ia menangis sampai kepalanya tambah sakit.
Endra meninggalkannya sendirian setelah memastikan Gista minum obat dengan baik. Karena minum obat yang merangsang rasa kantuknya, Gista merasa sedikit tenang dan terlelap cukup lama.
Sayangnya, begitu ia bangun, Gista malah mendapati dirinya demam.
Ia benar-benar merasa mau mati saja kalau setiap sudut dirinya cuma dihiasi penyakit.
Apa sih salahnya? Apa yang membuat semuanya jadi seperti ini?
__ADS_1
Gista tahu mengeluh itu tidak baik. Tapi, kenapa? Kenapa ujiannya harus seperti ini?
**