
Yang Ashar mau hanya 'ayo pulang', 'ayo ngomong', 'ayo ke dokter'. Siapa yang tidak mau pulang? Siapa? Apa Gista pernah mengatakan bahwa ia tak mau pulang?
Gista juga mau pulang. Memang siapa sih yang anak rindukan saat sakit jika bukan orang tuanya? Memang orang normal mana sih yang tidak berpikir bahwa rumah sakit terbaik adalah rumah di mana ibunya ada?
Tapi dada Gista sesak. Pulang sekarang jadi menakutkan karena Ayah. Bagaimana jika Ayah tetap bilang ia gila? Bagaimana kalau Ayah semakin muak karena Gista hanya tahu sakit, tidak sembuh-sembuh padahal sudah mendatangi banyak dokter?
Dan bicara, menjelaskan, jadi dewasa; dia pikir Gista tidak mencoba? Dia pikir Gista sengaja? Dia pikir Gista tidak berharap ia sabar dan menerima semuanya dengan lapang dada?
"Maaf." Gista berbalik, tiba-tiba keluar. Di saat dadanya sesak, Gista merasa harus bertemu Endra.
Harus Endra.
*
"A, Endra-nya ke mana?"
"Endra? Dah tadi pagi-pagi banget ke kebun, Neng. Katanya sih ditelfon Tantenya buat ngomongin panen nanti."
Gista mengangguk dan tak lupa bergerima kasih pada A Zaka. Dadanya masih berdenyut-denyut. Gista merasa sulit bernapas karena kesedihan.
Ketika ia mendongak memikirkan Ashar di atas, Gista malah semakin ingin lari.
'Kamu kenapa, sih?'
'Aku enggak ngerti. Kamu kenapa?'
'Kamu tuh kenapa?'
__ADS_1
Kenapa, kenapa, kenapa, kenapa!
Gista sudah muak mendengar kata kenapa terus tertuju padanya!Memang Gista tahu?! Memang Gista paham dirinya?! Memang Gista punya jawaban?!
Jika Gista tahu, ia tak akan pernah menemui tiga dokter spesialis yang sekolah kedokteran puluhan tahun! Gista bisa menjawab dirinya sendiri, Gista bisa menyembuhkan dirinya sendiri dan Gista tidak perlu sampai harus menderita seperti ini!
Jika mereka yang sekolah untuk penyakit saja tidak tahu, lalu Gista tahu, begitu?!
Kamu kenapa, kamu kenapa, kamu kenapa!
Berisik! Berhenti bertanya kenapa!
Gista dikusai oleh rasa frustrasi dan amarah yang berkecamuk. Tak sadar justru Gista berlari keluar dari rumah, menyusul ke kebun agar bisa bertemu Endra.
Cuma dia yang tidak bertanya 'kamu kenapa sih' dengan nada muak.
Cuma dia.
*
Endra tidak bisa banyak protes kan kalau ternyata Gista dan pacarnya bersama? Memang Endra siapa menengah di antara mereka?
Maka dari itu Endra bangun lebih pagi agar bisa lebih pagi juga ke kebun. Alasannya mau bahas panen, padahal nyatanya Endra pergi joging.
Terserahlah.
Salah sendiri baper sama pacar orang, kan? Ingat kalau Gista datang ke sini semata untuk healing. Cari suasana segar biar sembuh mental sebelum sembuh fisik.
__ADS_1
Endra juga seharusnya fokus meneliti penyakit itu. Seharusnya lebih fokus memantau kondisi mental Gista. Buku-buku yang seharusnya ia baca buat referensi juga jarang tersentuh karena sibuk baper dengan pacar orang.
Dasar dirinya tololl, tololl.
Tapi udah terlanjur suka, bantah diri Endra yang lain.
Terus apaan? Mau maksa? Pacarnya yang udah begini begitu sama dia dibandingin sama kamu emangnya bisa? Endra yang lain lagi membantah.
Kini seperti dirinya di dalam sana duduk bermusyawarah dengan pendapat berbeda-beda.
Saking patah hatinya, Endra malah lari keliling desa dua kali.
Pemuda itu langsung tepar di teras rumah bibinya, berusaha bernapas baik-baik. Setidaknya dengan berkeringat, pikiran Endra pun jadi lebih terbuka.
Ya pokoknya, sekarang tahu diri saja. Tahu diri bahwa Gista itu punya pacar dan tahu diri bahwa Gista mana mungkin memilih Endra daripada pacarnya.
Bibinya datang membawakan Endra air minum beberapa saat kemudian.
"Tante denger yang kecelakaan kemarin nginep di rumah kamu," kata Tante Inah saat menyerahkan air minum.
Endra minum banyak-banyak, berharap semua kegalauannya juga tertelan lalu dicerna dan dihancurkan. Lalu dengan malas-malasan ia menjawab, "Iya."
"Katanya itu perempuan kenal sama yang kecelakaan."
"Gista, Tante. Bukan itu perempuan."
Tante Inah mendengkus tak senang karena pembelaan Endra. "Suka kamu sama dia? Perempuan yang ke mana-mana pamer susu begitu?"
__ADS_1
Mulai lagi.
*