
"Sakit? Sakit banget, yah?"
Endra yang kini berbaring layaknya orang sakit langsung menjawab dengan nada lesu, "Iya, Teh." Lalu tak lupa, mulutnya mengeluarkan desisan sakit dan jidatnya berkerut-kerut.
Kali ini Endra luar biasa niat mengerjai Gista, karena dia mengerang kesakitan seakan tengah sekarat dan nyawanya pelan-pelan lagi dicabut.
Gista menyelimuti Endra seolah dia sedang demam. Mengompres ke sekitar bekas gigitan itu hanya untuk membuatnya semakin sadar kalau bekas gigitan di lengan Endra sangat dalam.
"Endra." Gista ikut meringis melihat Endra kesakitan. Sedikitpun tidak berpikir dia lagi ditipu, karena luka Endra memang terlihat sangat parah.
Tapi Endra diam-diam juga membela diri, bahwa dia tidak sedang menipu.
Tidak, kok. Kan Endra memang kesakitan. Endra cuma sedikiiiiiit agak berlebihan mengekspresikan rasa sakitnya.
Jadi tidak bohong.
"Teteh." Tak puas dengan caper seperti itu, Endra menarik tangan Gista agar menyentuhnya lebih jauh.
Gista memegang pipi Endra. Agak membungkuk lebih dekat, biar Gista bisa lebih mendengar suaranya yang lemah. "Kenapa? Kamu sakit banget?"
"Teteh jangan ke mana-mana," racau Endra seperti orang siap berwasiat untuk terakhir kali. "Teteh jangan tinggalin saya."
"Iya." Gista bahkan memeluk tangan Endra yang satu lagi, agar dia tahu Gista tak pergi ke mana-mana. "Iya, saya enggak ke mana—"
__ADS_1
"Gis."
Adegan dramatis itu terpotong oleh suara Ashar. Entah sejak kapan dia berdiri di pintu kamar Endra dan tampaknya menyaksikan beberapa hal sebelum dia bersuara.
Sebenarnya Gista biasa saja Ashar tahu soal Endra. Bagi Gista, Ashar sekarang tak lebih dari sekadar teman.
Namun dipergoki berada di kamar dan dalam posisi agak memeluk begini, Gista mau tak mau canggung juga.
"A-aku—"
"Teteh enggak jadi pulang, Kang." Endra menarik Gista tiba-tiba, jatuh berbaring ke tempat tidur.
Tak sampai di sana, Endra malah langsung memeluk Gista, menaikkan kakinya di atas paha Gista seolah ia bantal guling. "Saya sama Teteh lagi ngobrolin sesuatu jadi tolong tutupin pintunya, yah, Kang."
Endra mengusir Ashar terang-terangan di depan Gista.
Setelah bersamanya agak lama, Gista memang sudah mengerti bahwa Endra punya sisi egoisnya sendiri tapi sampai melakukan itu, kenapa mendadak dia sangat kekanakan hari ini?
Tapi yang lebih Gista tidak percaya, Ashar menutup pintu kamar sesuai kata Endra, meninggalkannya jelas-jelas hanya bersama Endra di atas kasur.
Hah? Gista tahu betul Ashar bukan pria polos yang berpikir tidak bakal terjadi sesuatu jika sepasang anak manusia ditinggal. Dan yang lebih penting, dia kan seharusnya datang ke sini membujuk Gista baikan.
"Teteh." Endra mengerang lagi, mengetahui kalau Gista agak teralihkan pada Ashar. "Ssshhh, tangan saya sakit. Sakit banget."
__ADS_1
Sakitnya sudah lumayan hilang suh, tapi Endra mau berlebih-lebihan dulu.
Dan sesuai niat Endra, Gista langsung teralihkan. Gadis itu mau bangun untuk mengompres lengan Endra, tapi tubuhnya tetap ditahan agar dipeluk.
"Endra."
"Teteh tau love language, kan?"
"Hah?"
Endra mendekatkan wajahnya ke telinga Gista, sangat halus berbisik, "Love language saya physical touch. Jadi saya sukanya dipeluk."
Setengahnya kebenaran, setengahnya lagi alasan. Love language utama Endra itu waktu, quality time, baru setelah itu sentuhan. Tapi ya tidak bohong-bohong amat, kan?
Cewek kota sangat tahu apa itu love language karena itu sudah seperti istilah gaul mereka.
Maka seperti bayi yang lagi merengek-rengek, Endra yang pura-pura mengaduh sakit dapat pelukan erat dari Gista.
Hehe.
*
Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊
__ADS_1