Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
79. Seperti Bayi


__ADS_3

Endra sempat murung mendengar perkataan Gista itu. Karena mau tak mau, Endra pun merasa tersentil.


Sekian malam Endra begadang membuka-buka jurnal penelitian yang ia punya, bahkan sampai membeli beberapa E-book mahal yang hanya bisa diakses oleh dokter spesialis plus berbahasa Inggris, tapi petunjuk penyakit Gista belum bisa Endra temukan.


Menemukan setitik masalah dalam ilmu saraf yang begitu luas memang rasanya seperti mencari sebutir pasir dalam karung beras.


Tapi Endra tak mau menunjukkan keputusasaan pada Gista. Jadi segera Endra berkata, "Teteh butuh healing."


Gista menoleh. "Maksud saya tuh—"


"Ya itu Teteh butuh healing." Endra menyentil bibir Gista pelan. "Pokoknya mulai sekarang saya marah kalo Teteh ngomong gitu lagi."


"Tapi—"


"Saya tuh udah jelasin berkali-kali sama Teteh, yang namanya sistem saraf dengerin apa yang kita omongin, apa yang kita pikirin. Kalo Teteh ngomongnya enggak bisa sembuh terus, sarafnya Teteh malah terus kayak gitu."


"Saya—"


"Mau saya sentil lagi? Yang keras nih, mau?"


Kesedihan Gista dipaksa berubah jadi kekesalan. Pada akhirnya ia membuang muka, tapi Endra malah terkekeh pelan.


Juli yang menyaksikan mereka jadi paham kenapa A Zaka mengomel-ngomel padanya tentang kelakuan Endra.


Memang menyebalkan liat orang pacaran, kecuali kalau kalian lagi sama pacar juga. Sialnya pacar Juli anak pelayaran. Jadi jangankan gandengan, disentil macam Endra memarahi Gista saja tidak bisa.


Sabar, Jul, sabar. Juli mengusap-usap dadanya, menenangkan diri.

__ADS_1


Kata Pak Ustad, ke dukun itu dosa. Jangan ke dukun bikin dosa cuma buat nyantet Gasen.


"Tapi aku enggak kebayang sih yah, Gis." Juli berbicara lagi. "Kamu kok keliatannya baik-baik aja gitu, loh. Enggak maksud apa-apa, yah. Tapi, kalo diliat kamu tuh enggak sakit sama sekali. Cuma, ya kurus kurang makan aja."


"Itu kan berarti Teteh udah baik-baik aja sekarang." Endra tersenyum manis pada Gista. "Teteh kesayangan saya udah mau sembuh. Iya, Teh? Iya kan, Teteh?"


"Emang aku anak-anak!" Gista meninju lengan Endra yang malah mengajaknya bicara layaknya dia bicara pada anak bayi.


Tapi diam-diam, Gista juga termenung.


Iya juga.


Gista tidak makan setiap hari kecuali jeruk dan sesekali roti, jika sangat butuh dipaksakan. Bahkan Gista masih sering mau muntah karena masakan Juli tercium ke seluruh rumah.


Anehnya, Gista tidak merasa sangat sedih.


Dan semua itu ....


"Hm? Teteh kenapa liat-liat saya? Ganteng banget yah, Teh?"


"Idih, najis banget sih kamu, Sen!" Juli nyaris melempar sandalnya pada Endra.


Tapi Gista malah tertawa, mengakui bahwa Endra memang tampan dan manis.


Juga, yang lebih penting, dia alasan kenapa semua beban Gista semakin terasa ringan.


Masalahnya tidak diangkat, penyakitnya tetap ada, ia tetap tidak bisa makan, dan tidak ada perubahan tertentu dalam perkembangan Gista—tapi sekarang Gista tersenyum, merasa hangat, nyaman, dan sangat bersyukur.

__ADS_1


Semua itu karena orang ini.


Gista mengeratkan genggamannya pada tangan Endra, berusaha menahan ledakan perasaan itu.


Sayang.


Gista sayang padanya.


Luar biasa sayang.


Sangat amat sayang.


Gista rela segalanya diambil asal Tuhan menyisakan Endra untuknya. Gista bahkan merasa seperti ia sudah tidak peduli lagi.


"Teteh? Teteh capek?" Langkah Endra berhenti, tidak menyadari bahwa sekarang jantung Gista berdebar-debar sangat keras. "Jul, berenti dulu."


Karena tangan Endra memegang tangan Gista, dia bisa langsung menyadari perubahan di tubuhnya.


Denyut nadi Gista meningkat, pernapasannya terlihat sulit.


Tanpa tahu penyebab semua itu adalah perasaan Gista sendiri, Endra buru-buru menyuruh Juli mengupas jeruk. Meminta Gista untuk minum karena berpikir tubuhnya kelelahan.


Tapi Gista biarkan dia salah paham. Memilih diam, menggenggam tangan Endra erat.


"It's okay. Teteh kayaknya capek jadi tambah gula dulu dari buah. Hm? Teteh enggak pa-pa, kan?"


Meskipun dia benar-benar memperlakukan Gista seperti bayi, Gista mengangguk, tidak mempermasalahkannya.

__ADS_1


*


__ADS_2